AURORA DI UJUNG MAREGE

Mappamancu
Chapter #4

Tawan Karang di Kalibukbuk

Meskipun daratan belum menampakkan wujudnya, dia ingat Daeng Toe di Bajang pernah bercerita tentang gunung bawah laut yang memelihara api dan selalu bekerja. Logika gunungnya berbisik: jika rahim bumi di daratan mampu menyimpan tangki air tawar raksasa yang mengalir melalui pipa-pipa batu purba, maka sangat logis jika pipa-pipa batu itu terus memanjang menembus batas pantai, mengalirkan air tawar daratan yang bertekanan tinggi hingga memancar keluar menembus retakan karang di dasar samudra. Sebuah mata air darat yang meletus di dasar laut kosong.

"Ambo Tua," panggil Mappitajang pada seorang sawi yang termenung lelah kehausan, suaranya parau namun memotong keheningan dek. "Ambil ember kayu di dekat palka."

Daeng Sila mendongak dengan wajah kempis penuh keringat, ketika mendengar Mappitajang bersuara. "Untuk apa? Kau mau menyiram tubuhmu di saat kami mati kehausan?".

"Ambil ember itu Ambo Tuo, bawa ke haluan depan," perintah Mappitajang tegas, mengabaikan sinisme itu. "Laut di depan kita sedang memuntahkan air suci dari rahim gunung Bali. Ambil air di dalam lingkaran berkabut itu."

Beberapa sawi yang mendengar kalimat itu menganggap Mappitajang telah kehilangan akal sehatnya akibat dehidrasi. Menimba air laut untuk diminum di tengah dehidrasi adalah cara tercepat untuk menjemput gila dan kematian.

Namun, I Rabaning menangkap gurat keyakinan yang mutlak di mata Mappitajang. "Lakukan, Ambo! Turunkan embernya!" perintah sang punggawa.

Ambo Tuo bangkit dengan tubuh yang lunglai. Sembari memegang tali ember kayu, ia melangkah ke ujung haluan, tepat ketika kapal mereka meluncur masuk ke dalam lingkaran air yang tampak berminyak dan berkabut itu. Dengan sisa tenaganya, ia melempar ember tersebut tepat ke tengah pusaran yang dikerumuni burung laut.

Bebyur!

Ember kayu itu tenggelam sesaat, memotong guratan kabut bawah air, sebelum akhirnya ditarik naik oleh tangan Ambo Tuo yang bergetar. Air di dalam ember itu tampak jernih, tenang, dan tidak berbuih pekat layaknya air asin lepas.

Ambo Tuo menatap air itu dengan ragu. Bau asin samudra yang menyengat mendadak hilang dari permukaan ember, digantikan oleh aroma tanah pegunungan yang dingin dan segar. Dengan jemari yang gemetar hebat, ia mencelupkan ujung telunjuknya, lalu menempelkannya ke atas lidahnya yang gersang.

Seketika itu pula, sepasang mata dehidrasi sawi putus asa itu membelalak lebar. Tubuhnya membeku.

Rasa dingin yang tawar, murni, dan tanpa sepotong pun jejak getirnya garam meresap langsung membasahi rongga mulutnya. Itu adalah air tawar yang murni—air kabut gunung yang memancar dari dasar samudra.

"Tawar...!" pekik Ambo Tuo, suaranya yang parau mendadak melengking tinggi membelah sunyi. "Demi Tuhan, air ini tawar! Ini air minum!"

Mendengar teriakan itu, puluhan sawi yang semula terkulai mati mendadak bangkit menyerbu ke haluan depan laksana kawanan serigala yang menemukan mangsa. Mereka menurunkan belasan ember secara gila-gilaan ke dalam pusaran air berkabut tersebut. Air tawar dingin diperebutkan, dibilas ke wajah, dan diteguk dengan rakus menembus tenggorokan mereka yang semula gersang terbakar api. Kehidupan seketika meletus kembali di atas geladak pinisi yang terluka. Kapal lain dalam armada itu pun segera mendekat mereguk kesegaran tersembunyi laut Bali yang agung.

Daeng Sila berdiri terpaku di tengah riuh kegembiraan para sawi. Ia memegang ember kayunya, menatap air jernih di dalamnya, meminumnya dengan wajah penuh rasa syukur, lalu perlahan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah buritan.

Takhayul kuno tentang kutukan "orang gunung" pembawa sial yang selama berhari-hari meracuni isi kapal, runtuh berkeping-keping di bawah pancaran mata air samudra hari ini. Pemuda dari Bolalangiri itu tidak membawa celaka; ia justru menyelamatkan nyawa mereka menggunakan ilmu membaca tanda alam bawah laut yang tak pernah bisa dijangkau oleh keahlian pelaut pesisir mana pun di tanah Sulawesi.

Daeng Sila berjalan perlahan meniti geladak, membawa ember penuh air tawar itu mendekati tempat Mappitajang berdiri menahan kemudi. Langkahnya terasa sangat berat, dipenuhi oleh gejolak rasa bersalah, takjub, sekaligus sisa ego ksatria pesisir yang menolak untuk sepenuhnya hancur.

Ia mengangkat ember itu tinggi-tinggi, menyodorkannya ke depan dada Mappitajang.

"Minumlah, Jurumudi," ucap Daeng Sila. Suaranya rendah, tak lagi mengandung guntur benci, melainkan sebuah getaran ketegangan yang penuh dengan rasa hormat yang mendalam. Ia menjeda kalimatnya sejenak, menatap luka bernanah di sela jari Mappitajang sebelum membuang mukanya ke arah jajaran gunung Bali. "Kau benar... tanah gunung tidak pernah bertanya dari mana manusia lahir sebelum menelannya. Dan hari ini, laut pun tampaknya patuh pada caramu meminum kabut."

Mappitajang melepaskan satu tangannya dari tuas kemudi, menerima ember tersebut, dan meneguk air dingin dari rahim bumi itu dalam diam yang agung. Rasa perih di jemarinya perlahan mengendap, tergantikan oleh kedamaian yang mengalir ke seluruh nadinya. Di balik punggungnya, Daeng Rabaning tersenyum tipis sembari menatap jauh ke cakrawala, menunggu garis pantai Buleleng mencuat di depan haluan mereka.

Lembar takdir tentang kutukan telah ditutup habis di tengah samudra lepas. Dan kini, kapal pinisi utama Makassar itu siap menurunkan sauhnya di Pelabuhan Buleleng dengan marwah yang baru—membawa kisah ksatria darat dan laut yang nyawanya telah abadi terikat pada silsilah takdir yang masih dipenuhi misteri.

v  

Menjelang subuh keesokan harinya, bayang-bayang daratan perlahan menyembul di ufuk barat daya. Bukit-bukit hijau berselimut kabut fajar, hamparan pantai berpasir hitam legam, serta kepulan asap tipis dari perkampungan nelayan mencuat menembus batas pandangan.

“Buleleng,” desis Daeng Rabaning parau.

“Kita akan tetap berlayar ke Marege, Punggawa?” tanya Ambo Tuo penuh hormat namun berhati-hati.

Nakhoda tua itu lama tidak menjawab. Angin malam berubah arah pelan, mempermainkan ujung sarung sutranya. Akhirnya, ia berkata dengan nada mutlak, “Kita tetap menuju selatan. Tetapi, kita tidak akan melintasi jalur perdagangan biasa.”

Semua mata laskar di geladak menoleh seketika. Daeng Sila pun ikut mengangkat wajahnya yang cekung.

Daeng Rabaning menunjuk ke arah bentangan laut gelap yang pekat di luar batas teluk. “Ada arus dalam yang jauh dari garis pantai. Jalurnya memang jauh lebih panjang. Ombaknya ganas. Namun, kapal-kapal perang Kulit Puitih jarang berani masuk ke sana.”

“Mengapa?” tanya Ambo Tuo penasaran.

Lihat selengkapnya