Dunia berubah hitam.
Begitu memasuki dinding asap, suara meriam di luar terdengar jauh dan teredam. Udara mendadak panas dan pengap.
Bau kayu terbakar. Bau mesiu. Bau daging manusia hangus. Bara api berjatuhan dari langit.
“Siram layar!” teriak Daeng Sila.
Ia dan La Bonto serta sawi lain bergerak liar menimba air laut, memadamkan percikan bara sebelum membakar layar merah mereka. Sebuah tiang kapal Portugis yang terbakar roboh ke laut hanya beberapa tombak dari lambung pinisi mereka. Gelombangnya menghantam kapal keras. Mappitajang hampir kehilangan kendali kemudi.
Ketika haluan pinisi utama akhirnya berhasil menembus keluar dari pekatnya kabut asap menuju perairan terbuka di sisi selatan, matahari telah naik tinggi. Di belakang mereka, palagan maritim yang berdarah itu mengecil menjadi siluet abu-abu di batas cakrawala.
Daeng Rabaning selanjutnya membuat keputusan penting. “Pertahankan kemudi! Ke barat daya!” teriaknya.
“Tapi tujuan kita ke arah Marege—!” seru seorang awak cemas.
“Kumpeni sedang ditarik mundur ke tenggara oleh Portugis! Jika kita bertahan di jalur ini, kita hanya akan jadi sasaran tembak silang mereka! Biarkan dua serigala itu saling gigit!”
Angin buritan bertiup kencang dari timur. Daeng Rabaning memerintahkan layar dikembangkan penuh. Pinisi itu meluncur cepat, memanfaatkan dorongan angin dan arus untuk menjauh dari neraka di belakang mereka.
Beberapa kapal inti pencari teripang akhirnya berhasil keluar dari dinding asap. Mereka muncul di laut selatan seperti hantu-hantu hitam yang lolos dari neraka.
Matahari sudah tinggi.
Di belakang mereka, perang masih berkobar samar di cakrawala. Tetapi tiga puluh sembilan pinisi yang berangkat dari Paotere kini tinggal Sembilan. Sisanya hilang, tenggelam, terpencar, atau terbakar bersama laut.
Namun, harga dari sebuah kebebasan itu teramat mahal.
Di atas geladak yang basah oleh abu dan darah, La Bonto terkapar. Sebilah serpihan kayu jati dari kapal Portugis yang meledak tanpa dinyana telah menghunjam dalam ke rongga dadanya saat ia berjuang menyiram bara api di dekat tiang agung. Napas anak muda dari Danau Tempe itu pendek dan berbunyi parau, seperti riak air yang tersendat di sela rakit.
Mappitajang berlutut di sampingnya, mengabaikan rasa perih di telapak tangannya sendiri yang robek. Ia menekan luka di dada La Bonto, mencoba menahan aliran darah yang menolak untuk berhenti.
La Bonto menatap Mappitajang dengan mata yang mulai merabun, namun bibirnya yang pucat memaksakan sebuah senyum tipis. “Aku... aku sudah melihat rasi bintang selatan itu, Mappitajang,” bisiknya, teramat lirih hingga nyaris tertelan desau angin. “Bintang... menuju Marege...”
Tepat ketika kalimat itu selesai, tubuh kurus itu menegang sesaat sebelum akhirnya melonggar sepenuhnya. Napasnya berhenti. Mata tajam yang biasa membaca pergerakan air Danau Tempe itu kini menatap kosong ke arah langit selatan yang bersih. La Bonto telah melepaskan jangkarnya dari dunia manusia.
Keheningan yang pekat jatuh di atas geladak. Mappitajang perlahan menutup kelopak mata sahabatnya dalam diam yang mencengkeram.
"La Bonto...!"
Sebuah raungan menggelegar memecah sunyi. Daeng Sila menerjang maju, berlutut di sisi jasad sawi mudanya. Wajah raksasa pesisir itu merah padam, urat-urat di lehernya menegang menahan syok dan rasa bersalah yang teramat besar sebagai kepala awak yang gagal menjaga keselamatan anak buahnya.