I Gusti Made Pariyasa mengangkat tangannya tinggi-tinggi, menghentikan anak buahnya tepat sebelum jarak benar-benar habis.
“Belum,” katanya dingin. “Kita dengar dulu barang apa yang akan mereka gunakan sebagai tebusan.”
Semua orang membeku.
Badik sudah di tangan. Tombak sudah terarah. Tidak ada jalan mundur yang terhormat.
Burung-burung laut berputar rendah di atas pantai, sementara tak satu pun manusia bergerak.
Pasir Kalibukbuk seakan menahan napas.
Badik sebagian sudah terhunus. Tombak dan trisula mengarah ke dada. Beberapa langkah lagi, dan tidak ada satu pun kata yang bisa menarik besi kembali ke sarangnya.
Salah seorang penjaga pantai sempat menoleh ke arah perkampungan di balik kebun kelapa, seolah menunggu sesuatu.
“Utusan sudah dikirim ke puri,” gumamnya pelan kepada kawannya.
I Gusti Made Pariyasa belum memberi aba-aba menyerang.
Ia hanya berdiri dengan rahang mengeras, seolah masih menahan keputusan yang bukan sepenuhnya miliknya.
“Daeng—apakah kita yang memulai?” bisik Mappitajang kepada Rabaning, nyaris tak terdengar.
Namun sebelum suara itu sempat menjadi teriakan, bunyi lain memotong udara.
Derap tiga ekor kuda disertai denting lonceng kecil dan bunyi besi pelindung kaki. Dari arah perkampungan, rombongan baru muncul. Mereka bergerak tenang, seolah tahu bahwa siapa pun yang tergesa akan kehilangan wibawa.
Beberapa penjaga pantai langsung saling menoleh.
“Anglurah...” bisik salah seorang dari mereka.
Di tengah rombongan itu, seorang pria berusia lebih dari lima puluh tahun turun dari kudanya.
Ia mengenakan kain putih berpinggiran emas, dadanya terbuka, kulitnya gelap terbakar matahari. Rambutnya disanggul sederhana. Di pinggangnya tergantung keris Bali tua dengan sarung berhias ukiran emas yang mulai aus di beberapa bagian.
Dialah I Gusti Anglurah Panji Sakti, penguasa Buleleng.
Semua penjaga pantai langsung menunduk. Tombak diturunkan. Bahkan I Gusti Made Pariyasa mundur setapak memberi ruang.
Penguasa itu memandang sekeliling. Matanya berhenti pada badik yang terhunus, lalu pada pinisi-pinisi Makassar yang berjejer seperti hewan laut terluka.
“Apa yang hampir kalian rusakkan hari ini?” tanyanya pelan.
Tak ada yang segera menjawab.
Daeng Rabaning melangkah maju. Ia menunduk dalam-dalam, lalu mengangkat wajah perlahan.
“Anglurah Panji,” katanya. “Aku tidak menyangka akan bertemu di tanah seperti ini.”
Mata penguasa Buleleng itu menyipit. Lama ia memandangi wajah tua di depannya, wajah yang dipenuhi bekas garam dan angin laut.
“…Daeng Rabaning?”
Nada suaranya berubah.
“Kupikir kau sudah dimakan Laut Flores.”
Beberapa awak pinisi saling berpandangan. Daeng Rabaning terkekeh pendek.
“Dan kupikir kau sudah terlalu tua untuk masih mencampuri urusan pantai.”
Anglurah Panji Sakti tertawa pendek. Ketegangan di pantai itu sedikit melonggar.
“Aku masih ingat,” katanya, “kau mengajariku mengikat layar saat angin barat hampir membelah kapal kita.”
“Dan kau membaca arus malam tanpa bintang,” sahut Daeng Rabaning. “Aku belum pernah melihat orang Bali melakukannya sebelum itu.”
Beberapa prajurit Bali saling pandang. Nama tua itu jelas bukan nama sembarangan.
Anglurah Panji Sakti menghela napas pelan, lalu menoleh kepada bawahannya.
“Kenapa hampir terjadi pertumpahan darah?”
I Gusti Made Pariyasa menjelaskan tentang tawan karang, kapal rusak, dan hak adat pantai.
Penguasa itu mendengarkan tanpa menyela. Setelah selesai, ia mengangguk pelan.
“Adat itu ada,” katanya. “Dan tetap kita hormati.”