Perjalanan dari pesisir Buleleng menuju Bedugul bukan perkara mudah. Mereka meninggalkan pantai dan langsung berhadapan dengan pegunungan yang menjulang tinggi. Jalan setapak menanjak tajam, meliuk di antara tebing dan jurang.
Tubuh Mappitajang yang setengah sadar ditandu dengan sarung sutra yang disampirkan pada sebatang bambu panjang. Dua orang memikulnya bergantian, menjaga tubuh itu agar tidak tergelincir setiap kali jalur menanjak semakin curam.
Dengan tandu sederhana itu, perjalanan ke Bedugul dimulai.
“Berapa lama lagi kita mendaki begini, Daeng?” keluh salah seorang awak pengantar sambil mengusap lehernya yang basah oleh keringat.
“Kalau kakimu masih kuat mengeluh, berarti tenagamu belum habis,” sahut Daeng Rabaning sambil terkekeh pendek, meski napasnya sendiri mulai berat.
Jero Mangku yang berjalan paling depan hanya tersenyum tipis.
“Gunung di Bali tidak suka orang tergesa,” katanya tanpa menoleh. “Kalau kalian memaksa, ia akan membuat perjalanan terasa dua kali lebih jauh.”
“Kalau begitu gunung ini sedang murka pada kita,” gumam awak lain sambil memindahkan bambu tandu ke bahu satunya. “Dari tadi tanjakannya seperti tidak habis.”
Mappitajang mengerang pelan. Kepalanya bergerak lemah ke kiri.
Daeng Rabaning segera mendekat.
“Tajang... tahan sedikit lagi.”
Mappitajang membuka mata sesaat. Pandangannya kabur oleh kabut dan pucuk-pucuk pohon besar.
“Apa... kita masih di bumi?” bisiknya lirih.
“Kalau sudah di alam roh, kita tak perlu lagi memikul tandu seberat ini,” jawab Daeng Rabaning.
Beberapa orang tertawa kecil, bukan mengejek, mereka mengerti candaan itu untuk menyemangati.
Mereka terus mendaki. Udara berubah semakin dingin seiring langkah naik ke pegunungan. Laut perlahan menghilang, digantikan hutan lebat dan kabut tipis yang menggantung seperti napas para leluhur.
Akar-akar besar melintang di jalan. Tanah menjadi licin oleh embun.
Sesekali mereka berhenti hanya untuk menarik napas.
“Kalian dengar?” tanya seorang awak tiba-tiba.
“Apa?”
“Tidak ada suara ombak.”
Mereka terdiam sejenak.
Benar.
Sejak tadi yang terdengar hanya desir angin gunung, gesekan daun, dan suara burung-burung jauh di dalam hutan.
“Seperti dunia yang berbeda,” gumam awak itu.
“Memang berbeda,” jawab Jero Mangku pelan. “Laut adalah dunia para pedagang dan pelaut. Gunung adalah tempat manusia belajar diam.”
Saat mereka tiba di lereng Wanagiri, gerombolan kera liar mulai tampak di dahan pohon dan bibir tebing. Beberapa menatap rombongan tanpa takut.
Salah satu awak menggenggam erat gagang parang.
“Kera-kera itu tidak menyerang, kan?”
“Kalau kau tidak bertingkah lebih liar dari mereka, tidak,” jawab Jero Mangku.
Tawa kecil kembali terdengar di antara napas yang tersengal.
Dari ketinggian itu, Jero Mangku lalu berhenti dan menunjuk ke arah barat.
“Lihat.”
Rombongan menoleh.
Jauh di bawah sana, di balik hutan tua yang diselimuti kabut, tampak kilauan Danau Tamblingan.
Semua seakan lupa lelah sesaat.
“Dewata...” bisik salah seorang awak.
Danau itu tampak sunyi dan purba. Kabut menggantung rendah di atas airnya, sementara hutan tua mengelilinginya rapat seperti benteng alami.
“Danau itu tua,” kata Jero Mangku. “Orang-orang di sini percaya airnya menyimpan ingatan gunung.”
Daeng Rabaning menatap lama ke arah danau.
“Di tanah kami, air seperti itu biasanya jadi tempat para bangsawan bertapa.”
Jero Mangku mengangguk kecil.
“Di sini juga.”
Mereka melanjutkan perjalanan dengan langkah lebih ringan, seolah pemandangan tadi membayar sebagian rasa letih.
Tak lama kemudian jalur mulai menurun sedikit sebelum kembali menanjak. Udara semakin dingin hingga embusan napas tampak tipis di depan wajah.
Ketika akhirnya mereka tiba di tepi Danau Buyan, beberapa awak spontan berhenti.
Airnya gelap dan sunyi, dikelilingi pepohonan tua yang akarnya menjulur hingga menyentuh permukaan air.
“Danau ini seperti tidak bernapas,” bisik seorang awak.
“Buyan memang pendiam,” jawab Jero Mangku. “Ia tidak suka banyak suara.”
Tidak ada yang membalas. Entah karena lelah atau karena suasana danau itu sendiri membuat mereka enggan bicara keras.
Hanya suara angin pegunungan dan burung-burung jauh di balik kabut.
Mereka berjalan menyusuri tepian danau hingga akhirnya jalur kembali terbuka.
Lalu Danau Bratan muncul di hadapan mereka.
Seorang awak yang paling muda sampai berhenti melangkah.
“Ya Tuhan...”
Airnya tenang, memantulkan langit seperti cermin raksasa. Kabut bergerak perlahan di atas permukaannya, seolah danau itu bernapas hidup.
Bahkan Daeng Rabaning yang sejak tadi sibuk menjaga tandu ikut terdiam cukup lama.
“Jadi ini Bedugul...” katanya pelan.
Jero Mangku memandang danau itu seperti seseorang memandang rumah sendiri.
“Belum pernah melihat danau sebesar ini?” tanyanya.
“Belum pernah melihat tempat seindah ini,” jawab Daeng Rabaning jujur.
Kabut perlahan tersibak oleh matahari pagi. Dari kejauhan tampak bangunan suci berdiri di atas air.
Atap-atap hitamnya tampak mengapung di antara embun.
“Itu pura apa namanya?” tanya salah seorang awak penuh hormat.
“Pura yang seperti terapung.”
Jero Mangku mengikuti arah pandangnya.
“Pura Ulun Danu Beratan,” jawab Jero Mangku. “Tempat orang-orang memohon air, kesuburan, dan keseimbangan.”