Sebelum Mappitajang dikenal seperti yang telah kita lihat sebelumnya, ada satu tanah yang lebih dulu membentuknya.
Tanah itu tidak pernah benar-benar diam.
Berada di timur jazirah selatan Celebes, di wilayah yang kelak disebut Sinjai, berdiri negeri-negeri kecil yang hidup di antara bayang-bayang dua kekuatan besar: Bone dan Gowa.
Mereka tidak cukup besar untuk menaklukkan siapa pun. Tetapi juga tidak cukup lemah untuk tunduk sepenuhnya.
Di wilayah pesisir, Tellu Limpoe berdiri sebagai tiga kerajaan bersaudara. Di pegunungan, negeri-negeri Pitu Limpoe saling mengikat janji.
Di salah satu sudut pegunungan itu, di bukit Katute, berdiri sebuah kerajaan kecil yang berbeda.
Barambang.
Ini bukan sekadar nama tempat. Ia adalah cara hidup. Dalam bahasa mereka, Barambang berarti dada.
Tempat manusia diajari menyimpan tekad dan bertahan tanpa kehilangan harga dirinya. Karena itulah setiap pemimpin di sana diberi gelar Puang Barambang.
Mereka tidak dipilih semata karena darah.
Melainkan karena kepercayaan.
Pusat kerajaan berdiri di punggung Bukit Katute, pada sebuah kampung bernama Bolalangiri—rumah-rumah kayu yang kerap diselimuti kabut hingga tampak melayang di antara bumi dan langit.
Dan dari tanah seperti itulah, Mappitajang dilahirkan.
Namun ada hari yang ternyata akan mengubah arah hidupnya.
Hari yang kelak membuatnya berjalan jauh meninggalkan tanah kelahiran.
v
Pagi itu, cahaya matahari baru menyentuh lereng tenggara Bawakaraeng ketika suara limpahan air terjun tak lelah memecah sunyi.
Di air terjun kembar Batu Barae, dua aliran sungai jatuh lalu bertemu dalam satu telaga besar.
Di sanalah Mappanre Salo digelar.
Upacara yang mengikat kembali janji lama antara manusia, sungai, dan tanah yang mereka pijak.
Air menjadi saksi bagi hal-hal yang tak selalu mampu di jaga manusia.
Upacara itu mempertemukan dua kerajaan:
Barambang di utara.
Bulukumpa di selatan.
Sungai Apareng yang mengalir di antara mereka menjadi penghubung yang lebih tua daripada perjanjian apa pun.
Namun tahun itu, sesuatu terasa berubah. Panggung tetap berdiri berhadapan. Hidangan tetap tersaji. Asap tipis membubung dari tungku-tungku batu, menyelimuti potongan daging Soko yang dipanggang di atas bara. Daging hewan purba hutan itu mulanya berwarna merah marun yang sangat tua dan pekat—berbeda dari merah pucat lembu ternak—kini perlahan mengatup dan berubah menjadi cokelat gelap kehitaman yang eksotis.
Wewangian gurih segera menyeruak dari lumuran minyak kelapa dan bumbu kemiri yang meleleh menyentuh api, mengalahkan dinginnya kabut Apareng yang menusuk kulit. Aroma pekat yang memicu liur itu seolah mengaburkan sejenak sekat-sekat ketegangan, mengundang lambung yang lapar untuk melupakan permusuhan.
Senyum tetap ada.
Tetapi kehangatan seperti tertahan di balik sopan santun.
Retakan dari luar mulai merambat masuk. Bone dan Gowa kembali menegang. Dan negeri-negeri kecil di antara mereka ikut merasakan getarannya.
Bulukumpa condong kepada Bone. Barambang berdiri di sisi Gowa.
Dua utusan hadir pagi itu.
Petta Salassa dari Bone. Daeng Manrabbia dari Gowa.
Mereka duduk diam di antara gemuruh air terjun.
Air jatuh ke bumi tanpa memilih tempatnya.
Namun manusia selalu memilih keberpihakan, berbanding terbalik dengan manusia yang selalu sibuk memilih keberpihakan.
Sementara di tepian telaga, ketegangan para pembesar itu menguap begitu saja. Di sana, dunia terasa jauh lebih sederhana bagi Mappitajang dan Tenripada. Mereka telah menunggu pertemuan ini sejak setahun lalu—sejak pandangan pertama yang tak pernah benar-benar pergi dari ingatan.
Pagi itu, cahaya matahari menembus butir-butir air dan memecah warna menjadi pelangi tipis di udara.
Di bawahnya, mereka tertawa seperti dunia belum mengenal perpecahan.
Air terciprat.
Waktu melambat.
Bagi mereka, cukup itu saja.
Tenripada berdiri dengan rambut basah dan mata berbinar. Mappitajang memandanginya dengan perasaan yang belum pernah ia kenal sebelumnya—penuh, tetapi rapuh.
Di kejauhan, beberapa orang mulai berbisik.
Putra Barambang.
Putri Bulukumpa.
Dua nama yang seharusnya dapat menyatukan dua kerajaan.
Namun bisik-bisik itu terputus ketika sebuah suara memanggil dari kejauhan.
“Tabe Puang Tenripada, Puang Mappitajang.”
I Mattunggaleng melangkah mendekat dengan tubuh membungkuk khidmat. Tangan kirinya menahan hulu badik di pinggang yang terikat dalam lipatan sarung sutera dan rompi pelindung dari kulit kerbau tebal.
“Prosesi segera dimulai.”
Dunia kembali bergerak.
Mappitajang mendekat sedikit kepada Tenripada.
“Setelah ini,” katanya pelan, “aku akan meminangmu.”
Tenripada tidak banyak menjawab.
Ia hanya mengangguk kecil.
“Iye, Daeng.”
Namun matanya menyimpan sesuatu yang belum sempat menjadi kata.
Ia berbalik menuju panggung Bulukumpa.
Di anak tangga, ia berhenti sesaat.
Menoleh. Senyum kecil. Lalu pergi.
Mappitajang tetap berdiri di tepi telaga.
Air masih menetes dari rambutnya. Dadanya berdegup lebih keras dari biasanya.
Untuk pertama kalinya, masa depan terasa cukup dekat untuk disentuh.