“Yang itu!”
Putri menyenggol lengan Kirana sambil menunjuk seorang laki-laki di sudut kafe. Kirana mengikuti arah telunjuknya dengan malas. Seorang pria berambut ikal sebahu sedang duduk sendirian sambil memainkan ponselnya.
Putri menyipitkan mata, mengamati pria itu dengan penuh perhatian. Beberapa detik kemudian, pria tersebut mengangkat kepala. Mata mereka bertemu. Tatapan pria itu perlahan berubah menjadi heran, lalu risih. Putri buru-buru mengalihkan pandangan.
“Bukan.”
“Bukan apanya?” tanya Kirana.
“Matanya.”
Kirana menoleh tak percaya. “Lu bisa bedain mata orang dari jarak segitu?”
“Bisa.”
“Yang sana!”
Putri kembali menunjuk. Kali ini seorang pria berambut ikal sebahu yang sedang berdiri di dekat kasir. Putri kembali menatapnya lekat-lekat. Pria itu balas menatap. Putri tidak bergeming. Pria tersebut mulai terlihat tidak nyaman, sampai akhirnya memilih membawa minumannya pergi.
Kirana perlahan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
“Takut banget gue disangka tante girang lagi nyari mangsa,” gumamnya dari balik tangan. “Bisa bisanya gue nurutin temen sableng kayak lo.”
Putri langsung menoleh tajam. “Heh! Apa lu mau gue nanti mati dalam penyesalan karena nggak nemu siapa laki-laki ini?”
“Lagian kenapa sih kelakuan lo nggak bisa normal aja? Mimpi aja digubris.”
“Masalahnya…”
Kirana langsung menyela, “Dia ganteng?”
“Iya.” Jawaban Putri meluncur terlalu cepat.
Kirana mengangkat alis.
Putri langsung meralat, “Iya.... Eh, bukan itu! Masalahnya dia datang berkali-kali.”
“Ke mana?”
“Ke mimpi gue.”
Kirana terdiam.
“Dan setiap bangun…” Putri mengusap dadanya pelan. “Ada rasa rindu yang aneh. Wajahnya nggak kelihatan, tapi matanya indah banget. Bikin hati bergetar.”
Kirana menatap Putri beberapa detik, kemudian berkata datar, “Lu ketempelan jin kali. Mending gue temenin ke ustaz aja. Atau mungkin psikolog. Ayok!”
Putri langsung melotot. “Jadi di mata lo, gue ini nggak waras?”
Kirana mengangkat bahu. “Emang waras, ya?”
“IIIIIH! Nyebelin lo!”
Putri langsung menyerang Kirana dan menggelitik pinggang sahabatnya. Kirana tertawa sambil berusaha melepaskan diri.
“HAHAHA! Putri! Berhenti!”
“Ngatain gue terus!”
“AMPUN! AMPUN!”
Sore menjelang malam, Putri akhirnya sampai di rumah. Begitu membuka pintu, dia langsung meletakkan tas sembarangan dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
“Capek…”
Belum sempat menikmati ketenangan, Ghani muncul dari arah dapur sambil membawa dua gelas jus. Adiknya itu masih duduk di kelas dua SMA, sementara Putri sudah semester enam kuliah. Dengan selisih usia sekitar lima tahun, hubungan mereka lebih sering terasa seperti dua orang yang kebetulan tinggal serumah daripada kakak-adik yang saling menyayangi.
Putri langsung menyambar salah satu gelas dari tangan Ghani.
“Makasi. Tumben adik baik hati.”
Ghani berhenti.
“Itu buat temen gue.”
Putri yang sudah telanjur meminum jus tersebut perlahan menurunkan gelasnya. “Hah? Temen?”
“Iya.”
Putri menatap Ghani dari atas sampai bawah.
“Ada yang mau temenan sama lu?”
“Kurang ajar!”
Sebelum Ghani sempat merebut kembali gelasnya, sebuah suara laki-laki terdengar dari belakang.