Autobiografi Amrullah Ibrahim

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Fajar di Jiwa Baru

Kelahiran Sang Buah Hati dan Kayu Tembesu Kakek Haji Hasan - 12 Januari 1961 · Desa Jiwa Baru, Marga Lubai Suku 1, Onder Afdeeling Ogan Ulu (Muara Enim, Sumatera Selatan)

"Bahawasanya Nabi Muhammad Sholallaahu 'Alaihi Wassalam memerintahkan menamakan anak-anak yang lahir pada hari ketujuh, dan dipalingkan darinya kesulitan serta diaqiqahkan." — H.R. Tirmidzi no. 2832

❖ ❖ ❖


Bagian 01 : Kabut Rimba Lubai dan Jerit Pertama di Bilik Tikar Purun

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Embun pagi belum lagi luruh dari ujung-ujung daun getah ketika kabut tebal dari ceruk Sungai Lubai merayap naik, memeluk tiang-tiang ulin rumah panggung di Desa Jiwa Baru. Dinginnya menggigit hingga ke sumsum, menyelinap melalui celah lantai dinding papan merawan yang mulai menghitam dimakan musim. Di dalam bilik utama yang temaram, hanya ada temaram jingga dari sumbu pelita minyak tanah yang berkedip-kedip gelisah, seirama dengan tarikan napas pendek-pendek seorang perempuan yang tengah bergulat di perbatasan hidup dan mati.

Nafisyah binti Wakif mencengkeram erat pinggiran tikar purun yang terbentang kasar di bawah tubuhnya. Jemarinya yang pucat memutih, kuku-kukunya menancap hingga ke anyaman ilalang rawa yang telah mengering. Keringat dingin membanjiri keningnya yang pasi, membasahi helaian rambut yang melekat kacau di pelipis. Rasa sakit itu bukan lagi sekadar robekan daging; ia adalah gelombang purba yang menuntut penebusan. Setiap kali kontraksi meremukkan pinggangnya, ingatan Nafisyah terseret mundur tanpa ampun ke dalam pusaran kelam yang selalu berusaha ia kubur dalam-dalam.

Ia teringat anak pertamanya yang hanya sempat mengecap air susunya selama tiga hari sebelum tubuh mungil itu mendadak membiru dan kaku diterpa sawan. Ia teringat anak keduanya yang meninggal dalam dekapan hangatnya saat azan Magrib berkumandang, serta anak kelima dan keenamnya yang berpulang sebelum kaki-kaki rapuh mereka sempat menjejak tanah merah Marga Lubai. Empat kali sudah rahimnya menjadi gerbang yang menyambut kehidupan hanya untuk segera direnggut oleh liang lahat berukuran dua jengkal. Apakah fajar ini tanah pekuburan tua di bukit desa akan kembali meminta tumbal darah dagingnya?

"Tarik napasmu dalam-dalam, Nafisyah... demi Allah, jangan kau lepaskan peganganmu!" suara Mak Dukun Salimah bergetar di dekat lututnya, menyeka darah dan lendir dengan kain perca lusuh. Asap kemenyan tipis yang sengaja dibakar di sudut bilik untuk mengusir angin jahat bercampur bacin dengan bau anyir dan keringat basi.

Lalu, tepat ketika semburat merah jingga fajar merekah di cakrawala timur menembus rimbun belantara, sebuah robekan udara terjadi. Bukan desah kematian, melainkan lengkingan tangisan yang melesat kencang, nyaring, dan menggelegar ke seluruh penjuru rumah panggung. Tangisan itu tidak lirih layaknya orok yang kehabisan tenaga; ia lantang menentang sunyi, merobek kutukan dingin yang selama bertahun-tahun membekukan sanubari bilik itu. Napas orok itu lapang, dada mungilnya membusung perkasa, dan kulitnya merah menyala laksana bara api tempaan besi.

❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Sujud di Hadapan Bayang-Bayang Empat Nisan Mungil

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Di sudut bilik yang lain, lutut Muhammad Ibrahim luruh menghantam papan lantai. Tubuhnya yang tegap—tubuh yang pernah merayap di parit-parit pertahanan front Prabumulih pada agresi militer Belanda—kini luluh lantak tanpa sisa daya. Lelaki berpeci hitam itu menjatuhkan dahinya tepat ke atas papan kayu tembesu yang dingin, bersujud begitu dalam hingga air mata yang telah ia kunci rapat selama sembilan bulan akhirnya tumpah, menganak sungai membasahi serat-serat kayu purba.

"Alhamdulillah... Ya Rabbana walakal hamd..." bisiknya tersengal-sengal. Suaranya serak, terjepit di antara rasa syukur yang membuncah dan rasa perih sisa trauma masa lalu. Di dalam dadanya, badai belum sepenuhnya reda. Sebagai seorang lelaki muslim yang pernah mengecap tempaan adab dan mantik di Yayasan Perguruan Nurul Falah Palembang, serta memegang nomor induk 33 dalam barisan pejuang veteran kemerdekaan, Ibrahim terbiasa menghadapi desing peluru dan kepulan asap mortir dengan rahang terkatup rapat. Namun, maut yang menjemput anak-anaknya di pembaringan bertikar purun ini adalah musuh tak kasat mata yang berkali-kali melumpuhkan harga dirinya sebagai seorang ayah.

Betapa sering di tengah malam buta ia terbangun, dihantui rasa bersalah yang tak terucapkan: apakah dosa-dosa masa mudanya dalam kecamuk perang yang membuat anak-anaknya harus pergi mendahuluinya? Mengapa hanya Iskandar dan Nor Asmara yang diizinkan bertahan di bumi, sementara empat lainnya dipanggil pulang seolah rumah panggung ini adalah tempat yang terkutuk bagi tunas-tunas baru?

Dari celah tirai kelambu, Iskandar yang baru berusia kanak-kanak memeluk adiknya, Nor Asmara. Keduanya memandang sang ayah yang masih terisak di lantai dengan mata bulat sarat keheranan. Mereka terbiasa melihat ayah mereka sebagai karang yang tak tergoyahkan—lelaki yang sanggup membelah batang merawan dengan sekali ayunan baji dan berani membentak mandor patroli Belanda. Menyaksikan punggung kokoh itu kini terguncang hebat oleh tangis menghadirkan rasa ngeri sekaligus kelegaan yang ganjil di dada kedua bocah tersebut.

Ibrahim mengangkat kepalanya perlahan. Dipandanginya Nafisyah yang terbaring lemas dengan senyum pudar di bibirnya yang merekah kering. Di dada istrinya, orok laki-laki itu kini meringkuk tenang. Ibrahim bangkit, melangkah dengan lutut yang masih gemetar, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga kanan bayi merah itu. Dengan suara bergetar yang sarat akan wibawa dan kelembutan seorang pejuang yang menyerahkan senjatanya, ia melantunkan azan. Nada-nada suci itu menggetarkan dinding kayu, menembus kabut pagi, seakan memaklumkan kepada segenap rimba Lubai bahwa telah lahir seorang penerus yang tidak akan menyerah pada nasib.

Lihat selengkapnya