Pohon Ara, Kemarau Panjang 1961, dan Wejangan Ayahanda
"Kalu lagi berete jangan galak ngancak, kalu lagi buntu jangan ditunjukan kejeme lain." — Pepatah Luhur Marga Lubai — Muhammad Ibrahim
❖ ❖ ❖
BAGIAN 01 : ZAMRUD DI PUCUK ARA DAN ROTI YANG DICAMPAKKAN
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Di samping pekarangan rumah panggung kayu merawan tempatku belajar menjejak bumi, menjulang sebatang pohon Ara purba yang kelewat besar untuk ukuran akal sehat. Batangnya kelabu bersisik, melingkar kokoh laksana naga tidur yang urat-uratnya menjalar liar mencengkeram tebing curam Sungai Lubai. Tajuknya menyerupai payung raksasa berkanopi hitam kehijauan, memayungi tanah dari sengatan matahari khatulistiwa yang kala itu seolah bersekongkol dengan maut untuk memanggang habis sisa-sisa sumsum kehidupan kami.
Setiap kali fajar menyingsing di ufuk timur, ratusan burung punai berbulu hijau zamrud berhamburan dari rimba seberang. Sayap mereka mendesau halus, membelah kabut sungai yang berbau lumut basah. Mereka bertengger di ranting ara, berebut buah ranum keunguan. Kicau merdu bersahutan menjadi orkestra sorgawi yang menemani langkah-langkah mungilku.
Namun, kedamaian Desa Baru Lubai pada rentang 1962 hingga 1965 sesungguhnya hanyalah kulit ari tipis di atas luka bernanah. Tanah Sumatera Selatan baru saja melewati neraka kemarau panjang tahun 1961 yang datang bersamaan dengan pembersihan sisa-sisa bedil pergolakan PRRI oleh tentara pusat di pedalaman. Sawah-sawah lebak menganga retak, sumur memuntahkan lumpur pahit, dan warga dusun terpaksa menumbuk bonggol pisang busuk serta parutan ubi gadung beracun agar perut mereka tidak melolong di tengah malam. Menanak sepiring nasi pulen adalah kemewahan mustahil yang setara menuntut bintang dari langit.
Akan tetapi, kemelaratan bengis itu berhenti persis di tapal batas pekarangan rumah kami. Allah melimpahkan rezeki melimpah kepada Muhammad Ibrahim, ayahandaku. Sebagai saudagar sembilan bahan pokok paling disegani, serambi bawah rumah panggung ayah adalah lumbung ajaib: berkarung-karung beras Solok putih, gentong minyak kelapa bening, lempeng gula aren, dan berpeti garam kasar. Dan aku, Amarullah, balita kesayangan yang kehadirannya ditebus doa bertahun-tahun, dimanjakan laksana pangeran kecil di tengah samudra kelaparan.
"Amar! Ya ampun, Tuan Muda kayangan, jangan dicampakkan lagi roti mentega itu ke lumpur!" pekik Ibunda Nafisyah dari tangga dapur.
Suara ibu melengking renyah, perpaduan panik jenaka dan rasa sayang yang tumpah ruah. Pagi itu, aku yang baru berusia tiga tahun duduk bersila di akar gantung pohon Ara dengan celana katun putih bersih. Di tanganku ada sepotong roti sobek beroles mentega Belanda bertabur gula pasir. Karena bosan akan rasa manisnya, kulempar roti itu ke kubangan lumpur di bawah kolong tiang merawan. Anak ayam buru-buru mematuknya seraya lari tunggang-langgang dikejar induknya.
"Nafisyah, biarkanlah budak itu bermain," suara berat Ayahanda terdengar dari serambi, diikuti kekeh pelan berwibawa. Ayah melangkah turun dengan sarung Bugis sutra tersampir anggun. "Kalau rotinya jatuh ke tanah, tanah pun kenyang. Sedekah tak pernah salah memilih mulut penikmatnya."
"Sedekah bagaimana, Kakanda?" sanggah Ibu seraya menuruni tangga menenteng tampah bambu, bibirnya mengerucut jenaka. "Itu roti dibeli dari tauke Palembang, harganya setara tiga pikul getah beku! Kalau anakmu tiap pagi melempar roti mentega ke kubangan, lama-lama buaya Sungai Lubai naik ke darat, berganti selera minta sarapan bolu kismis!"
Di pagar bambu, Wak Dul Karim—tetangga penyadap karet yang tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit kering—berhenti memanggul wadah getah kosong. Matanya menatap roti berlumpur itu dengan nanar, namun mulutnya sigap melontarkan kelakar getir khas orang dusun yang terlatih menertawakan derita sendiri.
"Hahaha! Alangkah mewahnya ayam peliharaan Ji Ibrahim ini, Bik Nafisyah!" seru Wak Dul Karim seraya menyeka kening berdebu dengan ujung caping bolong. "Tikus di pondok burukku semalam pingsan setelah membuka tudung saji dan hanya mendapati abu dingin. Jangankan mencium roti mentega, kalau aku mati kelaparan besok lusa, tolong kuburkan aku di kolong rumah Ji Ibrahim saja. Siapa tahu ada remah biskuit Amar yang meresap ke liang lahatku!"
Ibunda terkekeh renyah seraya menyelipkan secanting beras ke bakul Wak Dulah secara sembunyi-sembunyi di balik tampah. Namun dari sulur ara, aku menangkap hal ganjil di wajah ayah. Tawa ayah tidak sampai ke matanya. Sorot matanya membeku, dingin dan menusuk, memandang tubuh Wak Dulah yang membungkuk-bungkuk penuh rasa terima kasih yang menghinakan martabat.
❖ ❖ ❖