SDN Baru Lubai, Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah (LIOT), Sumatera Selatan - Masa: 1968 – 1970
"Pendidikan bukanlah sekadar mengisi bejana yang hampa, melainkan menyalakan lentera yang kelak menolak padam di tengah badai terpekat sekalipun." — Refleksi Perjalanan Jiwa Amrullah Ibrahim
❖ ❖ ❖
Bagian 01 : Embun Pagi dan Kabut Getah di Lematang Ilir
Jejak Kaki Tanpa Alas Menembus Keremangan Fajar 1968
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Kabut tipis belum sepenuhnya terangkat dari punggung perkebunan karet ketika langkah kaki kecil itu pertama kali menjejak tanah merah yang liat dan basah. Pagi di pertengahan Juli 1968 itu tidak datang dengan keriuhan, melainkan dengan keheningan khidmat yang disusupkan oleh sinar keemasan fajar di sela-sela tajuk pohon Hevea brasiliensis. Bagi dusun Baru Lubai, di ceruk pedalaman Lematang Ilir Ogan Tengah, pagi selalu berbau sama: perpaduan sengit antara getah beku mangkok sadap, humus lembap yang membusuk perlahan, dan sisa asap pembakaran jerami dapur kayu. Namun bagi Amar, yang pada tarikan napas hari itu telah genap berusia tujuh tahun, udara pedesaan terasa memiliki kerapatan yang ganjil—seolah tiap butir embun yang menempel di betisnya menyimpan sebuah maklumat tak kasatmata.
Ia melangkah di sisi kanan ayahnya, berusaha mensejajarkan ayunan tungkai pendeknya dengan derap langkah sang ayah yang panjang dan terukur. Baju kemeja putih berbahan mori kasar yang dijahit sendiri oleh jemari ibunya berdesir kaku menyentuh kulit dadanya. Celana pendek katun kelabu gelap itu terpasang kencang dengan ban pinggang kain tanpa gesper. Di balik dada bidang yang masih kekanak-kanakan itu, jantung Amar berdegup kencang seperti ketukan kayu kentongan subuh. Rasa ingin tahunya mendidih, tetapi di bawah permukaan itu, ada kecemasan purba yang mengintai: apakah bangku kayu di gedung sekolah itu kelak mau menerima anak kampung yang lebih terbiasa memanjat dahan duku ketimbang melipat kedua tangan di atas meja?
Ayah berjalan nyaris tanpa suara. Di bahu kirinya masih tersisa bayangan garis samar bekas pikulan tandan pisang tanduk dan keranjang getah beku. Wajah lelaki itu, yang biasanya keras dipahat sengatan matahari ladang, pagi ini menampakkan kelembutan yang jarang terlihat, meski rahangnya mengatup rapat. Ada beban hening yang dipikulnya—beban seorang ayah di masa peralihan politik yang serba genting pasca-peristiwa berdarah 1965 di pelosok Sumatera. Kala itu, orang-orang dewasa di kedai kopi kerap merendahkan nada bicara bila membicarakan masa depan, seolah kata 'sekolah' dan 'pemerintah' adalah jaring tipis yang bisa merangkap siapa saja yang salah melangkah. Bagi sang ayah, mengantar anak sulungnya melintasi ambang pintu SDN Baru Lubai bukan sekadar mendaftarkan nama; ini adalah ikhtiar pembuktian, sebuah suaka moral agar garis keturunan mereka tak lagi terpasung oleh rantai kebodohan dan nasib buruh getah yang renta sebelum usia empat puluh.
'Ayah,' bisik Amar, suaranya pecah di antara kepakan sayap burung punai yang melesat dari dahan rimbun. 'Apakah guru di sana akan memukul tangan kita bila salah mengeja aksara?'
Sang ayah tidak langsung menjawab. Ia memperlambat langkahnya, lantas meletakkan telapak tangannya yang kapalan dan kasar di atas pundak Amar. Sentuhan itu tidak dingin; telapak tangan itu hangat oleh panas tubuh seorang pekerja keras yang tak pernah kenal mengeluh. 'Guru Albani bukan orang yang suka meninggikan rotan tanpa alasan, Amar,' sahut ayahnya dengan bariton rendah yang menenangkan gemetar di rusuk bocah itu. 'Beliau adalah lentera dusun ini. Yang perlu kau bawa masuk ke ruangannya bukanlah ketakutan, melainkan pendengaran yang awas dan kepala yang tunduk pada ilmu. Ingat, bangku kayu sekolah tidak meminta darahmu; ia hanya meminta kesungguhan jiwamu.'
❖ ❖ ❖
Bagian 02 : Ritual Telinga Kiri di Bawah Kacamata Guru Albani
Uji Melengkungkan Lengan dan Hukum Anatomi yang Tak Tertulis
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Gedung Sekolah Dasar Negeri Baru Lubai berdiri di atas sebidang tanah lapang yang dikelilingi pagar bambu belah. Dindingnya terbuat dari papan kayu meranti yang mulai menggelap dimakan cuaca tropis, sementara atap seng gelombangnya mulai memerah oleh karat di sudut-sudut talang. Lantai kantor kepala sekolah hanyalah semen kasar yang disapu bersih, menyisakan jejak-jejak pasir halus di sela retakan lantai yang menyerupai peta sungai purba. Ketika pintu kayu berderit terbuka, bau khas dunia tulis-menulis segera menyergap hidung Amar: aroma asam tinta cina botolan, kertas merang yang menguning dalam tumpukan map snelhechter, serta kapur tulis Belanda yang mengendap di palung papan tulis.
Di balik sebuah meja kayu jati tebal yang penuh dengan guratan pisau lipat murid-murid masa lalu, duduk seorang lelaki berwajah tirus dengan aura kepemimpinan yang membuat siapa pun menahan napas sejenak. Dialah Guru Albani. Kacamata berbingkai tanduk hitam tebal bertengger di batang hidungnya yang tegas, memantulkan bayangan jendela timur. Guru Albani adalah sosok yang disegani bukan karena suara lantang, melainkan karena tatapan matanya yang mampu menembus selubung kepura-puraan setiap orang yang berhadapan dengannya.
Sang ayah menundukkan kepala dengan takzim seraya mengucap salam. Guru Albani mengangkat pandangannya dari sebuah buku register berukuran folio besar, tersenyum tenang, lalu mempersilakan mereka mendekat. Di atas meja belum ada selembar pun formulir pendaftaran yang ditarik keluar. Belum ada pena celup bertinta biru yang digerakkan. Sebelum administrasi negara yang kaku bekerja, ada hukum alam yang harus ditegakkan terlebih dahulu.
'Jadi ini bocahmu, Ibrahim?' tanya Guru Albani, suaranya jernih dan berwibawa, membelah keheningan ruangan kayu itu. Matanya menatap lekat pada sosok Amar yang berdiri terpaku dengan kedua jemari mencengkeram keliman celana kelabunya.
'Benar, Pak Guru. Amrullah Ibrahim namanya. Kami berharap ia bisa mulai mengeja dunia di bawah asuhan Bapak,' jawab sang ayah dengan nada harap yang teramat bening.