Autobiografi Amrullah Ibrahim

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Eksodus Senja Menuju Perantauan

Fragmen Perjalanan Keluarga Ibrahim Menembus Rimba Datar Lebuay - Waktu: 23 - 25 Desember 1970 · Rute: Baru Lubai · Pagar Gunung · Prabumulih · Tanjung Karang · Air Naningan · Datar Lebuay

"Berjalanlah di muka bumi, niscaya engkau akan menemukan tanah lapang dan rezeki yang baru." — Kisah Hijrah Keluarga Ibrahim (1970)

❖ ❖ ❖


Bagian 01 : Gemeretak Gembok dan Bayang-Bayang Kakek Hasan

Rabu Sore, 23 Desember 1970 · Desa Baru Lubai, Sumatera Selatan

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Kancing pintu besi kuningan itu mengerang pendek saat Muhammad Ibrahim memutarnya dua kali ke kanan. Bunyi logam tua yang beradu di senja itu terdengar bagai dentang palu pengadilan yang tak lagi memberi ruang untuk banding. Jam dinding kayu di ruang tengah—yang pendulumnya sengaja dimatikan agar keheningan rumah tidak terasa mencekik—telah membeku di angka empat lewat sedikit. Pukul 16.00 WIB. Waktu di Desa Baru Lubai seakan terhenti, enggan melepas langkah kaki penghuninya yang hendak mencabut akar dari rahim tanah kelahirannya sendiri.

Angin senja Desember berembus malas, membawa aroma getah karet beku yang masam dan debu dedaunan rambutan yang meranggas di sudut pekarangan. Di bawah kolong rumah panggung berlantai kayu merbau buatan tangan Kakek Haji Hasan tiga puluh tahun silam, bayang-bayang tiang ulin tampak memanjang bagai tiang-tiang pancang kuburan. Ibrahim mematung sejenak di anak tangga terbawah. Urat-urat di lehernya menegang saat ia menatap anak-kunci di telapak tangannya yang kapalan. Logam itu dingin, sedingin firasat yang sejak seminggu lalu menyusup ke sela-sela rusuknya.

"Sudah beres semuanya, Kanda Ibrahim?" suara Ibunda Nafisyah terdengar lirih, nyaris tergerus desau angin puyuh yang menerbangkan remah daun kering. Perempuan berparas tirus itu berdiri beberapa langkah di belakangnya, mendekap bayi bungsunya yang belum genap berumur empat puluh hari dalam balutan kain batik sogan usang. Batik itu telah pudar di bagian tepinya, menyerap tetesan keringat dingin yang mengucur dari pelipisnya. Di balik ketenangannya yang terlatih, mata Nafisyah terus terpaku pada jendela papan di lantai dua rumah panggung. Di balik daun jendela itulah ia melahirkan tiga putranya; di sanalah aroma minyak telon, seduhan kunyit asam, dan jerit pertama anak-anaknya pernah menguasai jagat raya kecil yang kini harus ia serahkan pada debu dan rayap.

Amar, bocah yang berdiri di sebelah ibunya, mencengkeram erat kantong kain belacu berisi dua pasang celana pendek dan sebungkus gula aren. Di usianya yang baru menyentuh masa sekolah rendah, ia telah cukup cerdas untuk memahami bahwa hening di wajah kedua orang tuanya bukanlah hening biasa. Itu adalah keheningan yang menolak pecah menjadi ratapan. Kaki telanjang Amar menjejak tanah pekarangan yang mulai lembap oleh embun senja, merasakan denyut dingin tanah liat merah Baru Lubai yang seolah enggan melepas jemari kakinya.

"Ayo jalan, anak-anakku," bisik Ibrahim akhirnya. Suaranya rendah, serak oleh debu dan beban pikiran yang disembunyikan berbulan-bulan. "Rezeki Allah terbentang luas di tanah seberang. Kita menyongsong masa depan di bumi Lampung. Jangan menoleh ke belakang lagi. Bila kau menoleh, langkahmu akan menjadi berat seperti batu karang."

Namun dalam batin Ibrahim, kata-kata itu terasa laksana pisau belati yang mengiris ulu hatinya sendiri. Rezeki macam apa yang dijanjikan rimba belantara di kaki Tanggamus? Kilas balik masa paceklik tiga tahun terakhir menghantam benaknya tanpa ampun: harga getah karet yang terjun bebas pascapergolakan politik 1965, para tengkulak yang memeras keringat petani dengan timbangan curang, dan pemandangan beras catu yang kian menipis di lumbung bambu. Ia teringat janjinya di tepi gundukan tanah merah makam Kakek Hasan setahun silam: 'Ayah, tanah pusaka ini tak lagi sanggup mengenyangkan perut cucu-cucumu. Izinkan aku memboyong mereka menyeberang selat.' Di saku baju drilnya yang sobek halus, tersimpan sepucuk surat izin rintis bertanda tangan camat—selembar kertas berstempel pudar yang masa berlakunya tinggal dua puluh hari. Jika mereka gagal mencapai lokasi tepat waktu, mereka tak lebih dari gelandangan liar di mata jawara tanah seberang.

❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Lumpur Merah dan Peluit Malam Pagar Gunung

Rabu Malam, 23 Desember 1970 · Jalur Setapak Rimba Menuju Stasiun Pagar Gunung

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Jalan setapak sembilan kilometer dari Baru Lubai menuju Desa Pagar Gunung bukanlah sekadar lintasan tanah; ia adalah kubangan ujian kepatuhan bagi tubuh-tubuh yang letih. Musim hujan akhir tahun telah menyulap liat merah menjadi adonan lumpur pekat setinggi betis anak-anak. Setiap kali Amar menarik kakinya dari hisapan lumpur, terdengar bunyi kecipak yang lambat, seolah tanah liat itu merajuk meminta kembali darah dan keringat keluarga Ibrahim.

Dua bundel tas kanvas dan anyaman pandan di bahu Ibrahim berayun ritmis seiring derap langkahnya. Beban itu tak kurang dari tiga puluh kilogram: cangkul bermata baja, parang tajam, periuk tembaga warisan leluhur, benih jagung pilihan yang dikeringkan di atas perapian, serta selimut lurik tebal. Otot pundak Ibrahim melepuh di balik kemeja lusuhnya, namun ia menolak berhenti. Sesekali ia melirik ke samping, memeriksa apakah anak keduanya tertinggal atau apakah sang istri masih sanggup menopang si bungsu yang tertidur lelap oleh buaian derap langkah di tengah hutan belantara.

"Ayah... kerikilnya tajam," gumam adik perempuan Amar dengan suara tercekat, menahan tangis agar tidak dimarahi kegelapan malam.

Ibrahim berhenti sejenak di tepi parit jalan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berlutut di lumpur, meletakkan salah satu buntalan pandannya, lalu mengangkat tubuh kecil anak perempuannya ke atas pundak kirinya yang bebas. Ia menoleh kepada Amar. Di keremangan malam yang hanya diterangi suluh bambu dan seberkas sinar bintang di sela pucuk tajuk karet, tatapan ayah dan anak sulung itu bertaut. Ada rasa bersalah yang teramat pedih terpancar dari pupil mata sang ayah—sebuah permohonan maaf tak terucap dari seorang lelaki yang gagal memberikan kemewahan alas kaki bagi daging darahnya sendiri.

"Kuatkan hatimu, Amar," bisik Ibrahim, tangannya yang kasar meremas bahu Amar sesaat. Genggaman itu panas membakar, mengalirkan daya tahan gaib ke dalam pembuluh darah bocah itu. "Lelaki tidak menangis karena jalanan berbatu. Kita berjalan bukan untuk mencari kasur empuk, kita berjalan agar kelak kau punya tanah tempat menanam harga dirimu."

Amar menelan ludahnya yang terasa pahit. Telapak kakinya yang tertusuk duri salak hutan berdenyut perih, namun rasa perih itu seketika mengecil di hadapan siluet punggung ayahnya yang melengkung memikul beban dunia. Ia mempercepat langkahnya, mengabaikan cairan hangat darah bercampur lumpur yang merembes di sela jari-jemarinya.

Lihat selengkapnya