Autobiografi Amrullah Ibrahim

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Bintang Kelas di Lembah Sangarus

SDN Datar Lebuay, Rumah Guru Madi, dan Juara yang Tersenyum - 1971 – 1973 · Desa Datar Lebuay, Pulau Panggung, Lampung

"Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung; di mana air mengalir, di situ benih ilmu disemai."

❖ ❖ ❖


Bagian 01 : Dingin yang Menusuk Sumsum dan Lidah Asing

Riak Sungai Sangarus dan Bayang-Bayang Lubai (1971)

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Lembah Sangarus tidak pernah benar-benar membuka pelukannya bagi orang asing tanpa terlebih dahulu menuntut tebusan berupa gigil. Setiap fajar merekah di punggung Bukit Barisan, kabut putih yang tebal dan lembap turun merayap dari puncak-puncak liar, menyelimuti belantara kopi robusta Desa Datar Lebuay bagaikan kelambu duka yang tak kunjung terangkat. Udara pegunungan itu berbau humus busuk yang basah, aroma asam kotoran luwak liar, dan semerbak pahit bunga kopi yang luruh sebelum sempat menjadi biji. Di dasar lembah, Sungai Sangarus membelah bebatuan andesit hitam dengan gemuruh muram; airnya mengalir deras tanpa henti, bening kristal namun membawa hawa sedingin belati es yang menusuk pori-pori hingga ke sumsum terdalam.

Bagi Amrullah Ibrahim—anak lelaki kurus berusia sebelas tahun yang baru saja terdampar di tanah seberang ini—setiap helaan napas pagi terasa bagai mengisap pecahan kaca kecil ke dalam dadanya. Kulit lengannya melepuh bintik-bintik merah oleh sengatan dingin yang tak ia kenal di tanah kelahirannya di Lubai, Sumatera Selatan. Di bantaran Sungai Lubai yang landai, air selalu terasa hangat bagai pelukan air susu ibu, lumpur lempungnya ramah membelai telapak kaki telanjang, dan angin senja bertiup membawa aroma manis getah karet yang disadap para tetua kampung. Namun di Sangarus, batu-batu kali itu licin berlumut tajam, seakan siap meremukkan pergelangan kaki siapa saja yang ragu melangkah.

Pagi itu, di atas seonggok batu pualam kelabu yang dipagari pakis hutan, Amar berjongkok memeluk lututnya sendiri. Di sekelilingnya, riak air terbelah oleh celoteh riang anak-anak lokal: Zulkarnain yang bertubuh gempal menepuk-nepuk air hingga memercik ke mana-mana, Zulhadi dan Adli yang saling menyiram dengan gelak tawa melengking, serta Asri Mahyuddin yang sibuk mencari anak kepiting batu di sela-sela ceruk. Tak jauh dari sana, Yusnidartie—seorang gadis kecil berambut ikal dengan selendang lurik yang melingkari lehernya—sedang mencuci muka, lalu menatap Amar dengan sepasang mata bulat yang teramat bening.

“Kojol kau, Amar? Kenapa cuma duduk mengkeret macam ayam kena gerimis?” suara Zulkarnain menyentak lamunan Amar, bercampur dengan dialek Semendo yang kental dan hentakan vokal yang menuntut jawaban serta-merta.

Amar tercekat sejenak. Lidahnya yang terbiasa meliuk dalam intonasi mendayu Lubai terasa kelu dan kaku. Pada minggu-minggu awal kedatangannya di Datar Lebuay, ia kerap menjadi bahan olok-olok terselubung tatkala salah menafsirkan kata-kata dalam perbauran bahasa Semendo, Sunda, dan Jawa yang bercampur aduk di kedai-kedai kopi. Namun anak yang lahir dari bantaran air tahu: air tidak pernah melawan batu yang menghalanginya; air mencari celah terkecil, menyusup dengan hening, lalu perlahan meratakan kekerasan batu itu tanpa meninggalkan dendam. Maka Amar menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang santun, lalu menceburkan kedua tangannya ke dalam riak Sangarus yang menggigit.

“Airnya segar luar biasa, Zul,” sahut Amar pelan, memilih kata-kata bahasa Indonesia yang rapi agar tak terdengar janggal di telinga siapa pun. Yusniadarti yang mendengar sahutan itu tersenyum kecil dari seberang batu, tatapannya menyiratkan pemahaman yang ganjil bagi anak seusianya—sebuah tatapan yang menyadari bahwa di balik keramahan Amar, ada kepedihan tersembunyi yang dijaga rapat-rapat agar tak tumpah.

❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Hantu Ketercerabutan dan Keputusan Bilik Panggung

Rasa Bersalah di Bawah Atap Guru Madi (1971)

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Keberadaan Amar di Datar Lebuay bukanlah sebuah tamasya harapan, melainkan pelarian dari luka yang menganga. Jauh di pedalaman Lubai, dua tahun silam, musim kemarau panjang yang ganas telah memanggang kebun karet dan ladang padi gogo keluarganya hingga menjadi abu kering. Ayahnya, Ibrahim, terlilit utang ijon pada tengkulak pasar yang tak kenal ampun. Amar masih mengingat dengan ketajaman yang menyakitkan: malam gulita ketika ayahnya memecahkan celengan tanah liat berbentuk ayam jantan, mengumpulkan sisa keping seringgit yang terakhir, lalu membisikkan sumpah di telinga Amar di atas lantai bambu yang berderit karena lapar: 'Kita harus menyeberang ke tanah Lampung, Amar. Di sana tanahnya hitam dan gemuk. Biar punggung Ayah yang patah di bawah mata cangkul, tapi jangan sampai otakmu patah di hadapan kebodohan. Kau harus jadi orang berpangkat!'

Perjalanan itu berlumur sengsara: naik truk sayur bak terbuka beratap terpal bocor, menyeberangi Selat Sunda yang berguncang di atas kapal feri tua yang pengap oleh muntahan penumpang, hingga tiba di pedalaman Pulau Panggung. Orang tua Amar membuka sebidang petak ladang terjal di lereng bukit yang berjarak dua jam perjalanan mendaki dari pusat desa—sebuah pondok darurat beratap rumbia bocor yang hanya berdinding tepas bambu jarang. Dari pondok itu, menuju SDN Datar Lebuay, seorang anak harus menuruni jalan setapak licin yang penuh pacet hutan dan ancaman longsor tebing setiap kali hujan lebat tumpah dari langit.

Melihat potensi kecerdasan murid pindahan itu yang begitu berkilau di tengah kepungan lumpur, Kepala Sekolah Bapak Guru Wage Yono berembuk dengan salah seorang pendidik paling disegani di desa: Bapak Guru Madi. Keputusan besar pun diambil: demi memangkas jarak tempuh yang melelahkan dan memberi ruang bagi konsentrasi belajar, Amar dipersilakan menumpang tinggal di rumah panggung milik Guru Madi di tepi jalan desa.

Bagi kebanyakan anak, tinggal di rumah seorang guru terpandang adalah kemewahan tak terperi. Rumah kayu meranti itu kokoh beralaskan tiang kayu besi yang kokoh, dengan jendela berterali kayu manis dan atap seng yang berdenting teratur saat hujan. Namun bagi Amar, setiap langkah di atas papan lantai meranti yang mengilap itu justru menerbitkan rasa bersalah yang mencekik leher. Setiap kali ia menyantap nasi pulen hangat dari piring seng di dapur Guru Madi, bayangan kedua orang tuanya di pondok ladang sontak menikam benaknya: apakah Emak dan adik-adiknya malam ini hanya merebus singkong pahit bercampur garam? Apakah ayahnya masih batuk-batuk akibat terpaan angin malam lereng yang menusuk celah dinding tepas?

Rasa berutang budi yang teramat pekat itu menjelma menjadi dorongan obsesif untuk melayani. Sebelum ayam jantan Guru Madi berkokok pertama kali, Amar sudah bangkit dari dipan kecilnya. Dengan telapak kaki berjinjit agar papan tidak berderit, ia menimba air sumur hingga tempayan dapur penuh meluap, menyapu pelataran halaman depan yang dipenuhi guguran daun nangka, dan mengelap kaca semprong lampu petromaks hingga jelaga hitamnya sirna tak berbekas. Ia tak sudi dicap sebagai benalu cuma-cuma; ia membayar tempat berteduhnya dengan peluh kehormatan anak perantau.

❖ ❖ ❖


Bagian 03 : Desing Petromaks dan Sebilah Parang Takdir

Lihat selengkapnya