Autobiografi Amrullah Ibrahim

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Ijazah SD yang Tertahan

Ijazah yang Tertahan dan Pengorbanan Demi Kerabat dan Misteri Penanggung Jawab EBTA - 1973 – 1974 · Datar Lebuay – Air Naningan, Lereng Pegunungan Tanggamus, Lampung

"Manusia boleh bersandiwara di hadapan sesamanya, namun di hadapan Allah tiada satu rahasia pun yang dapat disembunyikan." — Perenungan Batin Amrullah Ibrahim

❖ ❖ ❖


Bagian 01 : Kabut Datar Lebuay dan Denyut Mimpi Berseragam Biru

Pelataran SDN Datar Lebuay, Juli 1973

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Kabut tebal yang turun dari punggungan Bukit Tanggamus senantiasa membawa aroma khas yang menempel lekat di ingatan: bau humus rimba basah, daun-daun kopi robusta yang kuyup disiram embun pekat, dan sangit jelaga kayu bakar dari cerobong bambu gubuk-gubuk peladang. Di pelataran tanah liat merah SDN Datar Lebuay, sorak-sorai anak-anak desa berhamburan laksana kepak sayap burung pipit yang lepas dari kurungan bambu. Pagi itu, papan pengumuman kayu bertinta stensil ungu mengabarkan sebuah warta gilang-gemilang: Amar—bocah kurus berambut ikal dengan celana pendek bertambal di kedua lutut—berhasil meraih peringkat pertama dalam Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA) tingkat rayon.

Di rongga dadanya yang sempit, sebuah debar manis membuncah tanpa sanggup dibendung. Di pekarangan sekolah berdinding papan meranti itu, Amar memejamkan mata sejenak, membiarkan bayangan masa depan menari-nari di balik kelopaknya. Ia melihat dirinya melangkah tegap di jalan aspal kasar kota kecamatan Talang Padang, menanggalkan baju lusuh tanpa kancing ini dan menggantikannya dengan seragam putih-biru SMP yang licin berkanji. Di bahunya akan menggantung tas selempang berbahan terpal hijau tentara, berisi buku-buku tebal bersampul koran bekas dan penggaris kayu tiga puluh sentimeter.

"Kau dengar itu, Mar? Kau juara satu se-rayon!" pekik Basri, karib sekelasnya, seraya menepuk bahu Amar dengan telapak tangannya yang kasar berkapalan karena terbiasa memegang gagang parang sejak umur sembilan tahun.

Amar hanya tersenyum simpul, menyembunyikan getar haru yang menyesakkan tenggorokannya. Pikirannya seketika melayang ke balik dinding bilik bambu kediamannya. Terbayang wajah sang ayahanda, Muhammad Ibrahim, yang saban petang duduk bersila meniup bara tungku pelita minyak tanah bersumbu perca. Di bawah temaram cahaya kuning kemerahan pelita itulah, Amar menekur di atas lantai tanah liat, membaca buku-buku berhuruf cetak kusam hingga jelaga minyak jelantah menghitamkan tepian lubang hidungnya. Terbayang pula ibunda yang jemarinya kerap terluka karena memunguti sisa biji kopi hitam yang tercecer di tanah becek demi mengumpulkan keping demi keping rupiah untuk biaya pendaftaran sekolah lanjutannya.

Namun, di balik semilir angin gunung yang menggoyang pucuk-pucuk pohon petai cina, ada firasat ganjil yang merayap dingin di tengkuk Amar. Mengapa lembaran ijazah bertanda tangan resmi itu belum juga dibagikan bersamaan dengan pengumuman nilai? Mengapa Pak Wage Yono, kepala sekolah yang biasanya riang berseloroh, pagi itu tampak gelisah memilin ujung peci beludrunya yang telah pudar, menghindari tatapan mata murid-muridnya seolah ada duri yang tersangkut di kerongkongannya?

❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Ransel Lusuh di Ambang Pintu Gubuk

Pertarungan Batin di Hadapan Temaram Pelita Minyak Jelantah

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Senja baru saja melarutkan lembayung menjadi kelabu kelam ketika sesosok bayangan lunglai muncul dari kelokan jalan setapak yang membelah rimba bukaan baru Datar Lebuay. Sosok itu memanggul karung goni bertali serat kulit waru di pundaknya yang kurus melengkung. Kakinya penuh belepotan lumpur pekat setinggi betis, menampakkan guratan urat yang kejang menahan lelah berhari-hari menempuh perjalanan darat dari dusun seberang di perbatasan Sumatera Selatan. Lelaki itu adalah Paman M. Daud bin Wakif, adik kandung ibunda.

Paman Daud datang tanpa membawa apa pun selain sebilah parang rintis yang mulai berkarat, sehelai sarung kumal pelekat, dan sekeranjang harapan putus asa seorang kepala keluarga yang terjepit paceklik berkepanjangan di kampung halamannya. Di dusun asalnya, tanah pusaka kian sempit diiris-iris warisan, sementara mulut-mulut mungil anak-anaknya menanti kiriman beras. Kabar burung tentang tanah harapan di belantara Lampung—tempat di mana siapa saja yang sudi memeras keringat mencangkul lereng bukit akan menuai butiran emas hitam kopi robusta—telah membimbing langkah kakinya yang pincang hingga ke teras gubuk Muhammad Ibrahim.

Malam merayap hening, hanya diselingi jerit serangga malam dan desis gerimis yang membasuh atap rumbia. Di ruang tengah beralaskan tikar pandan tua yang seratnya telah terburai di tepian, bau tembakau linting bercampur dengan aroma kopi tubruk pahit yang mengepul dari cangkir kaleng loreng. Ayahanda duduk bersila kaku. Guratan-guratan di kening dan pelipisnya tampak semakin dalam, bagai diukir oleh pahat kegelisahan seorang nakhoda yang perahunya tengah dihantam gelombang badai.

Ibunda duduk menunduk di sudut bilik dekat tungku, jari-jarinya memilin ujung kain panjangnya dengan gerakan ritmis yang gelisah. Di hadapan mereka, Paman Daud menatap lantai tanah dengan pandangan hampa, sesekali terbatuk kecil menahan dingin yang merasuk tulang iga.

"Kakanda Ibrahim," suara Paman Daud parau, nyaris pecah laksana ranting kering yang terinjak. "Hamba datang kemari bukan hendak membebani pundakmu yang sudah sarat. Tapi bila di rimba ini hamba tak diberi tempat berpijak, anak-istri hamba di dusun tiada lagi berpengharapan. Beras secupak di lumbung kampung sudah tandas diserang hama tikus."

Ayahanda terdiam lama. Kepulan asap tembakaunya meliuk perlahan di bawah temaram pelita kaleng. Dalam keheningan yang mencekam itu, Amar dapat mendengar detak jantungnya sendiri berdegup kencang laksana derap kaki kuda. Ia tahu persis hitung-hitungan rimba bukaan baru: membuka sebidang huma kopi di lereng hutan primer memerlukan waktu sedikitnya satu tahun hingga delapan belas bulan penuh. Hutan perawan harus ditebas rantingnya, ditebang pohon medang dan tenam raksasanya, dibakar rantingnya di bawah terik kemarau, dicangkul tanah lempungnya, lalu ditanami bibit kopi muda. Sepanjang masa rintis itu, tanah takkan menghasilkan sebutir beras pun. Satu jiwa dewasa yang menumpang berarti satu mulut tambahan yang harus disuapi setiap pagi dan petang, satu bagian beras rintis yang harus dibagi dua, dan perkakas kerja yang harus dibeli dengan uang tunai.

Pandangan Ayahanda perlahan bergeser, mendarat lurus ke arah Amar. Di mata lelaki tua yang terkenal pantang mengeluh itu, Amar melihat kilatan air yang berkaca-kaca—sebuah pemandangan langka yang seketika meremukkan ulu hati sang anak.

Lihat selengkapnya