Autobiografi Amrullah Ibrahim

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Ujian Kedua Sang Juara

EBTA Desember 1974 dan Kemenangan Hati yang Tulus - Konteks: Desember 1974 (Musim Penghujan Akhir Tahun) · SDN Datar Lebuay, Kecamatan Air Naningan (kini Tanggamus), Lampung

"Emas murni tidak akan pernah takut pada kobaran api peleburan; ia justru keluar dengan kilau yang semakin benderang." — Falsafah Ujian Berulang — Hikmah Kehidupan Amarullah Wanahi

❖ ❖ ❖


Bagian 01 : Asap Dapur dan Secubit Martabat

Kabut Subuh, Daun Pisang, dan Luka Batin Seorang Ibu

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Desember di lereng Datar Lebuay selalu datang bersama kabut pekat yang menuruni punggung Bukit Barisan seperti selimut basah yang enggan beranjak. Udara subuh begitu dingin hingga mampu menyusup ke sela-sela bilik bambu, membawa aroma tanah merah basah, getah damar liar, serta sangit kayu kopi yang dibakar pelan di tungku dapur. Di sudut rumah panggung bertiang kayu medang itu, Mak duduk bersimpuh di atas tikar pandan yang tepiannya mulai terburai. Tangannya yang kasar oleh guratan belukar kebun bergerak perlahan merapikan daun pisang klutuk yang telah dilayukan di atas bara.

Nasi liwet hangat mengepul di dalam cekungan daun, membumbungkan uap wangi beras ladang bercampur gurih parutan kelapa dan sedikit garam kasar. Namun, gerakan jemari Mak yang terbiasa tangguh memetik buah kopi mendadak terhenti. Ada jeda panjang yang sunyi, hanya diiringi gemeretak kayu terbakar dan deru hujan gerimis yang menampar atap rumbia. Setitik air bening menitik dari sudut pelupuk matanya yang berkerut dini, jatuh tepat di urat pelepah daun pisang sebelum sempat ia seka dengan ujung selendang batiknya yang pudar.

Di hadapan Mak, Amarullah Wanahi berdiri merapikan kancing kemeja putihnya yang mulai menguning. Celana pendek merah drill itu sudah agak sempit di pinggangnya—maklum, setahun belakangan tubuhnya bertambah jangkung akibat menguras keringat mencangkul tanah lereng. Melihat ibunya termenung dengan pandangan nanar, Amar menarik napas perlahan. Ia tahu persis beban batin yang menindih rongga dada wanita yang melahirkannya itu. Rasa perih itu bukan sekadar perkara kemiskinan atau bekal nasi yang bersahaja, melainkan luka martabat seorang ibu yang merasa keadilan anaknya telah dirampas secara sewenang-wenang oleh dunia orang dewasa.

"Apakah kamu benar-benar rela, Amar?" suara Mak bergetar parau, tertahan di antara kerongkongan dan kepulan asap kayu sengon. Pandangannya menatap lekat kedua bola mata anak lelakinya. "Tahun lalu, Desember 1973, orang-orang satu kampung datang ke mari menepuk pundakmu. Kamu juara satu se-sekolah, Am. Nilaimu tertinggi, mengalahkan anak-anak mantri dan anak juragan pasar. Sekarang... setahun kamu dibiarkan terkatung-katung menunggu ijazah yang katanya hanyut di Air Naningan, lalu kini mereka menyuruhmu duduk kembali di bangku ujian bersama adik-adik kelasmu? Di mana letak muka kita, Nak?"

Pertanyaan itu menikam sunyi subuh dengan ketajaman yang getir. Bagi orang desa yang hidup bersahaja, ijazah bukan hanya lembar administrasi; ia adalah piagam kehormatan, bukti bahwa anak seorang pencangkul tanah mampu menatap langit yang sama tingginya dengan anak para penguasa kota. Namun Amar melangkah mendekat. Ia berlutut di atas lantai kayu yang berderit, lalu meraih kedua telapak tangan Mak yang berbau getah dan abu dapur. Diciumnya punggung tangan itu lama-lama dengan takzim yang mengalir tanpa kepalsuan.

"Mak," bisik Amar seraya tersenyum tenang, sebuah senyuman yang menyembunyikan badai pergolakan jiwanya sendiri. "Kalau emas murni dimasukkan ke dalam kobaran api, ia tidak akan pernah lebur menjadi arang. Ia justru keluar dengan kilau yang semakin benderang. Kalau ilmu itu memang sudah terukir di dalam dada, mau diuji sepuluh kali pun insya Allah tidak akan hilang, Mak. Saya tidak merasa hina. Saya tidak berkecil hati. Gengsi manusia hanya bertahan di bibir orang-orang pasar, tapi pintu sekolah SMP hanya bisa dibuka dengan kertas kelulusan yang sah. Demi masa depan dan ridho Mak, saya akan jalani ujian ini sampai tuntas."

Mak tertegun. Di dalam binar mata Amar yang jernih, ia tidak mendapati setitik pun dendam atau kepahitan. Amar menerima bungkus nasi daun pisang itu, menyelipkannya ke dalam tas kanvas bertali tambang kelapa, lalu melangkah mantap menembus halimun pagi yang dingin membekukan.

❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Jejak Cangkul di Lereng Lebuay

Setahun Mengubur Aksara di Balik Ladang Kopi

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Jalan setapak dari dusun tempat tinggal Amar menuju pusat desa Datar Lebuay membentang sejauh empat kilometer, membelah lereng bukit curam yang ditumbuhi batang-batang kopi robusta berlumut basah. Tanah liat merah yang liat dan licin menempel tebal di tapak sandal jepitnya. Setiap langkah mendaki menuntut tenaga ekstra, mengingatkan Amar pada lintasan waktu setahun terakhir—sebuah masa pembuangan yang nyaris mematahkan harapannya.

Sepanjang tahun 1974, saat teman-teman sebayanya yang beruntung telah melenggang ke kota kawedanan Talang Padang mengenakan seragam biru-putih, Amar terpaksa menelan kenyataan pahit. Di desa terpencil ini, warta birokrasi datang seperti burung layang-layang patah sayap: lambat, simpang siur, dan kerap membawa kabar duka. Surat dari kantor perwakilan rayon di Air Naningan menyatakan berkas kelulusan EBTA 1973 milik Amar dan beberapa kawan tertahan karena 'kekeliruan administrasi naskah ujian dan bencana longsor jalur penghubung'. Namun bisik-bisik yang berhembus di warung kopi desa jauh lebih menyengat: lembar ijazah dengan nomor register istimewa itu konon dialihkan untuk anak seorang kerabat pejabat di kantor kecamatan agar bisa langsung diterima di sekolah unggulan.

Kala itu, amarah sempat menggelegak di dada Amar seperti lahar dingin. Betapa tidak? Selama enam tahun ia berjalan kaki tanpa alas menuju sekolah, menghafal tabel perkalian di bawah cahaya redup damar, mencatatkan diri sebagai peraih nilai tertinggi se-kecamatan, hanya untuk mendapati namanya dihapus dari daftar kelulusan resmi. Mengapa orang miskin di pedalaman selalu menjadi tumbal pertama dalam kelalaian para pemegang stempel?

Namun, ketimbang membiarkan jiwanya diracuni kepahitan, Amar mengalihkan seluruh energinya ke kebun. Selama dua belas bulan, ia menemani ayahnya membabat ilalang, mencangkul terasering tanah miring, dan memetik dompolan buah kopi merah hingga kulit telapak tangannya menebal seperti belulang badak. Jari-jemarinya yang lincah menari memegang pena sempat menjadi kaku karena terbiasa menggenggam gagang arit besi tempa.

Kendati demikian, Amar menolak membiarkan otaknya mati. Setiap kali matahari tepat di atas ubun-ubun dan para buruh tani beristirahat di dangau bambu, Amar merogoh celah kasau atap gubuk tempat ia menyembunyikan sebuah buku berhitung usang tulisan Prof. Soemadi dan kumpulan soal ilmu hayat yang halamannya sudah compang-camping dimakan rayap. Di atas tanah berdebu, ia mencakar rumus-rumus aljabar dengan ranting pohon kering. Ia menghitung debit air pancuran, mengamati metamorfosis ulat daun kopi, dan menghafal kembali silsilah raja-raja Nusantara.

"Kalian bisa menahan selembar kertasku di Air Naningan," bisik batin Amar kala itu sembari menatap lembah yang berselimut kabut, "tetapi kalian tidak akan pernah bisa memenjarakan rasa ingin tahuku di dalam sangkar keputusasaan." Hari ini, saat kakinya kembali menapaki jalan berbatu menuju gedung sekolah kayu SDN Datar Lebuay, ia bukan lagi sekadar murid yang datang untuk diuji; ia adalah seorang pejuang yang telah melewati kawah candradimuka kehidupan nyata.

❖ ❖ ❖


Bagian 03 : Rumah Kayu Guru Madi dan Desir Minyak Tanah

Percakapan Sunyi di Balik Map Cokelat Bersegel Lilin

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

SDN Datar Lebuay berdiri di atas bukit landai dengan dinding papan meranti yang kayunya mulai menghitam terpapar lumut dan cuaca pegunungan. Di samping kompleks sekolah darurat itu, berdiri rumah dinas panggung kecil milik Bapak Guru Madi. Pria paruh baya bertubuh kurus dengan kacamata berbingkai tanduk itu telah mengabdikan lebih dari dua dekade hidupnya untuk menyalakan pelita pengetahuan di pelosok Lampung. Dialah guru yang pertama kali menemukan bakat cemerlang Amar di antara puluhan anak desa yang kerap putus sekolah demi memetik kopi.

Sore menjelang pekan ujian EBTA itu, Amar kembali menginap di kamar kayu belakang kediaman Guru Madi, sama seperti yang dilakukannya setahun silam. Kamar itu sempit, berdinding papan tak berketam halus, dengan sebuah dipan kayu beralas kasur kapuk tipis. Di sudut meja kayu, sebuah lampu teplok minyak tanah menyala dengan semprong kaca yang sedikit menghitam di pucuknya. Desir lembut api kecil itu menjadi satu-satunya melodi di tengah malam yang dicekam dingin dan nyanyian jangkrik rimba.

Lihat selengkapnya