Autobiografi Amrullah Ibrahim

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Malam Sunyi di Sinar Semendo

SMPN Talang Padang, Pramuka Sibolangit, dan Teror Bilah Golok - 1975 – 1976 · Sinar Semendo, SMPN Talang Padang, Jembatan Tangsi

"Maut dan perlindungan hanyalah sehelai rambut jaraknya; barangsiapa yang berserah kepada Sang Penjaga, hatinya akan diteguhkan."

❖ ❖ ❖


Bagian 01 : Gerbang Biru Putih dan Gema Suara Sang Pendidik

Awal Pengembaraan Menuju Talang Padang (Januari 1975 · Gerbang Megah SMP Negeri Talang Padang)

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Angin basah yang berhembus turun dari arah lereng Gunung Tanggamus masih membawa sisa embun pagi ketika sepasang telapak kaki Amar menginjakkan debu pekarangan SMP Negeri Talang Padang untuk kali pertama. Di dalam lipatan saku kemeja katunnya yang telah memudar warnanya akibat berulang kali disikat di batu kali, tersimpan selembar ijazah kaku berperingkat kedua dari SDN Datar Lebuay—selembar kertas berharga yang telah diperjuangkannya dengan menembus jalan tanah liat berkilo-kilo meter setiap fajar. Ada degup ganjil yang menggedor rongga dadanya; perpaduan antara rasa bangga yang pongah dan kegentaran yang menelanjangi keberaniannya. Di sekelilingnya, ratusan anak berseragam biru putih berderai tawa, mengenakan sepatu kain hitam yang mulus dengan tas kain bertuliskan toko kota, sementara sepasang sandal karet miliknya yang telah menipis di bagian tumit seolah berbisik menuntut keinsafan diri.

Ia teringat kembali pada hari ketika ia berpamitan meninggalkan kampung halamannya di pedalaman Datar Lebuay. Di bawah rimbun pohon rambutan yang daunnya berdesir oleh angin bukit, ibunya menatapnya dengan kelopak mata yang basah namun sekuat tenaga menolak membiarkan air mata itu tumpah di hadapan anak lelakinya. Tangan perempuan tua itu yang kasar dan berkerut oleh getah kopi memegang pundaknya erat-erat, menyelipkan sebungkus tembakau sirih dan beberapa lembar uang kertas kusut ke dalam genggamannya. 'Pergilah, Nak,' bisik ibunya kala itu, suara parau yang kini bergema di pelipisnya bagai mantra pelindung yang tak kasat mata. 'Jangan pernah menundukkan kepala di tanah rantau hanya karena periukmu kosong, tapi tundukkanlah hatimu di hadapan Yang Mahakuasa. Kejujuran adalah satu-satunya pakaian yang tak boleh koyak di tubuhmu, sebab kain yang koyak masih bisa ditambal sulam, tetapi nama baik yang ternoda akan menjadi aib hingga ke liang lahat.'

Kini, di lapangan upacara yang luas berpagarkan rumpun bambu kuning dan pohon mahoni tua, derai obrolan ratusan anak seketika terbungkam menjadi keheningan yang khusyuk. Dari undakan semen beranda depan sekolah, melangkah maju sosok kepala sekolah legendaris yang wibawanya merajai seantero lereng Tanggamus: Bapak Guru H. Tjik Ayub Assumat, B.A. Sosoknya tegap berbalut safari drill cokelat muda yang tersetrika rapi tanpa kerutan, dengan sorot mata yang tajam bagai elang pemburu namun menyimpan keteduhan telaga purba di balik kacamata bingkai tebalnya. Ketika beliau berdeham pelan membersihkan tenggorokan, bahkan kepakan sayap burung pipit di dahan pohon seolah tertahan oleh daya gravitasi wibawanya yang mutlak.

'Anak-anakku sekalian,' suara H. Tjik Ayub Assumat meluncur berat, bulat, dan menghunjam langsung ke dasar sanubari setiap siswa yang berdiri terpaku di bawah terik mentari pagi yang mulai menyengat. 'SMP Negeri Talang Padang bukanlah tempat bagi jiwa-jiwa penakut yang mudah mengeluh oleh dinginnya embun atau kerasnya batu padas. Kalian melangkah ke gerbang ini bukan semata-mata untuk memburu secarik kertas bertuliskan deretan angka, melainkan untuk menempa kehormatan, mematri disiplin, dan menancapkan cita-cita setinggi puncak Tanggamus! Di tanah ini, anak petani kopi dan anak saudagar pasar duduk bersila di atas lantai yang sama. Yang membedakan kalian kelak hanyalah satu: seberapa tahan punggung kalian memikul beban amanah ketika cobaan datang menguji, dan seberapa kukuh dada kalian bertahan saat angin badai berusaha merobohkan pendirianmu.'

❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Asap Dapur Sinar Semendo dan Periuk Nasi Aron

Dua Remaja Menghadapi Kerasnya Hidup Mandiri (Awal Musim Hujan 1975 · Gubuk Papan Sinar Semendo, Tepi Pematang Sawah)

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Demi menyiasati kantong bekal yang serba terbatas, Amar tak memiliki kemewahan untuk menyewa kamar berdinding tembok di rumah saudagar pasar. Bersama kemenakannya, Bani—putra Paman Daud yang usianya terpaut dua tahun lebih muda darinya—ia menumpang di sebuah pondok papan sederhana di kawasan Sinar Semendo. Sudut perkampungan terpencil di Talang Padang itu berbatasan langsung dengan hamparan pematang sawah yang luas dan rimba semak belukar liar. Rumah beratap seng berkarat itu berdindingkan papan kayu damar yang telah lapuk dan renggang di berbagai sisi, membiarkan angin malam dari celah pegunungan menyelinap leluasa bagai jarum-jarum es yang menusuk kulit tanpa ampun.

Kehidupan dua remaja tanpa bimbingan langsung orang tua itu adalah rentetan disiplin yang keras kepala dan menuntut ketabahan lahir batin. Setiap petang sebelum azan Magrib berkumandang, Amar dan Bani telah berdiri di pancuran mata air yang mengalir dari celah batu padas di tepi tebing, menggigil membilas seragam putih mereka lalu menjemurnya di atas pagar bilah bambu. Tugas paling sakral di bilik dapur mereka adalah menanak nasi aron. Di atas tungku tanah liat beralaskan tiga butir batu kali yang hitam pekat, kayu dahan kopi kering ditiup dengan sepotong bambu semprong hingga membara, mengharumkan ruangan sempit itu dengan kepulan asap pedih yang memerihkan kelopak mata. Beras jatah dari kampung dimasak setengah matang hingga airnya meresap, diangkat ke tampah bambu, lalu dikukus kembali di atas dandang tembaga yang menghitam oleh jelaga tebal.

'Paman Amar,' suara Bani kerap memecah kesunyian malam saat mereka duduk bersila di atas tikar pandan robek, menghadap sepiring nasi aron hangat berlauk garam kasar dan sedikit sambal terasi bakar yang aromanya menusuk hidung. Mata anak itu tampak layu dan sayu, memantulkan lidah api pelita minyak tanah yang berkedip-kedip ditiup angin celah dinding. 'Apakah Ayah di ladang sana makan seenak ini? Kemarin lusa waktu mengantar sekarung gabah ke Talang Padang, batuk Ayah semakin parah. Suaranya terdengar serak dan dadanya berbunyi saat bernapas. Aku takut Ayah kehabisan tenaga menggarap lereng bukit curam itu sendirian demi mengirimkan beras ini untuk kita.'

Pertanyaan lirih itu menusuk ulu hati Amar laksana sembilu rotan. Ia menelan segumpal nasi aron yang terasa kering dan menyumbat kerongkongannya, seolah ia sedang menelan batu kerikil dari jalanan Datar Lebuay. Sebagai orang yang dituakan dan memikul mandat keluarga di bilik itu, Amar tahu ia tak boleh memperlihatkan sedikit pun kerapuhan di hadapan keponakannya. Ia menegakkan bahunya dan berujar dengan ketenangan yang dipaksakan: 'Makanlah sampai kenyang, Bani. Paman Daud adalah lelaki paling perkasa di punggung bukit Datar Lebuay. Tak ada lereng yang tak sanggup ia babat. Tugasmu sekarang hanyalah belajar, menghafalkan rumus-rumus gurumu, dan menjaga kelakuanmu. Kita tidak boleh membuat keringat dan darah orang tua kita tumpah percuma menjadi kesia-siaan di tanah rantau ini.'

Namun jauh di dalam sudut dadanya yang paling gelap, Amar sendiri dicekam kecemasan yang sama: bagaimana jika kiriman beras itu habis sebelum panen kopi berikutnya tiba? Bagaimana jika tubuh ringkih Paman Daud benar-benar tumbang di ladang? Demi mengusir rasa cemas dan ketakutan malam yang senyap, sebelum mereka beranjak tidur ke atas ranjang kayu beralaskan kasur kapuk tipis yang telah mengeras dan berbau apek, Amar selalu melakukan satu ritual perlindungan: ia mengambil sebilah golok tajam milik keluarganya—pusaka tempaan pandai besi Datar Lebuay bergagang kayu sonokeling dengan ukiran kepala burung—lalu menyisipkannya di sela tiang papan dekat pintu bilik. Bilah baja berpamor kelabu itu telah diasahnya hingga begitu tajam, berkilat memantulkan cahaya redup pelita. Golok itu bukan untuk kesombongan, melainkan satu-satunya benteng pertahanan mereka di tepi belukar liar yang kerap dilalui babi hutan dan kabar burung tentang gerombolan begal malam yang tak segan melukai demi sejumput rupiah.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya