Aroma Bunga Kopi dan Suara dari Masa Lalu. Kejenuhan di Talang Rambang dan Teguran Membakar Sang Adik Kelas
Mei — Desember 1976 · Talang Rambang, Datar Lebuay, Tanggamus, Lampung
❖ ❖ ❖
Bagian 01 : Kabut Talang Padang dan Padamnya Bara di Dada
Mei 1976 · Talang Padang, Tanggamus
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Kabut tebal yang melorot dari punggung Gunung Tanggamus selalu meninggalkan jelaga dingin di pori-pori kulit, namun pada pagi pertengahan Mei 1976 itu, yang merayap di rongga dada Amarullah Wanahi bukanlah dingin hawa pegunungan, melainkan sejenis kekosongan yang hampa dan membatu. Di tangannya, selembar buku rapor bersampul kertas samson cokelat terasa berat bagai lempengan timah. Angka-angka bertinta merah dan biru tua yang tertera di dalamnya—hasil evaluasi akhir kelas dua di SMP Negeri Talang Padang—seharusnya menjadi piala kebanggaan. Tahun lalu, angka-angka semacam itu sanggup menerbitkan senyum lebar di bibir mungilnya, membuatnya merasa seolah telah menaklukkan lembah dan ngarai.
Namun hari itu, tatkala berdiri di hadapan meja guru berdinding papan kayu randu, didampingi Kakak Haji Samsul Bahri yang berwajah teduh berpeci beludru hitam, degup kemenangannya telah lenyap tak berbekas. Tatapan Ibu Guru Siti Balqisah—perempuan Minang dengan tutur kata teratur dan sorot mata menembus kalbu—menatapnya lama sebelum menandatangani halaman terakhir.
"Amar," suara Ibu Guru Siti Balqisah terdengar rendah, bergetar di sela derit lantai panggung sekolah yang reyot. "Matamu tidak lagi menyala seperti ketika kau pertama kali menginjakkan kaki di kota kecamatan ini. Nilaimu masih tegak di barisan depan, tetapi jiwamu tampak letih tertatih-tatih. Apa yang membebani pundakmu, Nak?"
Amar hanya sanggup menundukkan pandangannya ke arah jemari kakinya yang terbungkus sepatu kain lusuh berujung robek. Bagaimana mungkin ia menjelaskan kepada sang guru tentang rasa lelah yang meremukkan persendian setiap malam? Selama dua tahun merantau di Talang Padang, hidupnya adalah rentetan kewajiban tanpa jeda: bangun sebelum azan subuh untuk menimba air sumur yang dalamnya belasan meter, menanak nasi aron di atas tungku kayu bakar yang selalu memerihkan mata, mencuci pakaian sendiri hingga buku-buku jarinya mengelupas terkena sabun batangan cap gentong, lalu berlari tergesa menyusuri jalan becek berbatu menuju gerbang sekolah.
Ia merasa terjepit di antara dua semesta yang saling menolak. Di hadapan teman-teman sekelasnya yang berasal dari keluarga pedagang pasar atau pegawai negeri kecamatan, Amar selalu merasa bagai orang asing dari rimba; anak kebun yang tubuhnya kerap membawa aroma getah daun dan minyak tanah. Sementara di kamar sempit tempatnya menumpang, sepi mencengkeram tanpa ampun ketika malam merayap naik. Godaan untuk melarikan diri dari rumus aljabar yang kaku, dari hafalan sejarah kolonial yang dingin, dan dari tuntutan menjadi anak pandai yang tak berkesudahan, diam-diam telah menjadi parasit yang menggerogoti urat-urat tekadnya.
Ketika Haji Samsul Bahri menepuk pundaknya lembut di halaman sekolah seraya berucap bahwa liburan kenaikan kelas telah tiba, keputusan itu sesungguhnya telah matang dalam kesunyian benaknya: ia tidak akan pernah kembali lagi ke bangku kelas tiga. Amar pulang bukan untuk sekadar berlibur, melainkan untuk melarikan diri dari cita-cita yang kini terasa mencekik lehernya sendiri.
❖ ❖ ❖
Bagian 02 : Aroma Bunga Kopi dan Candu Kedamaian Semu
Juni — Juli 1976 · Talang Rambang, Datar Lebuay
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Talang Rambang menyambut kepulangannya laksana dekapan ibu kandung yang penuh pengampunan. Terpencil di balik lipatan perbukitan Datar Lebuay, kantong perkebunan kopi robusta itu seolah berdiri di luar aliran waktu modern. Di sana, tidak ada deru mesin bus antar-kota, tidak ada lonceng jam pelajaran yang mendikte detak jantung, dan tidak ada keharusan membuktikan martabat lewat secarik kertas nilai.
Minggu-minggu pertama di ladang keluarga terasa laksana surga kebebasan yang memabukkan. Setiap fajar merekah di ufuk timur, tatkala matahari masih berupa semburat jingga pucat di sela halimun, Amar telah melangkah menuruni undakan tanah merah dengan sebilah kored dan cangkul bersandar di bahunya yang bidang. Angin gunung berhembus liar dari celah ngarai, membawa serta aroma wangi bunga kopi yang tengah mekar serempak. Ladang-ladang di Datar Lebuay mendadak memutih, bagai disapu hamparan salju lembut di atas kanopi dedaunan hijau zamrud. Aroma bunganya manis, pekat menyerupai wangi melati hutan yang berpadu dengan uap embun tanah gembur.
Dihirupnya wangi itu sedalam-dalamnya hingga memenuhi dasar paru-parunya. 'Di sinilah tempatku sesungguhnya,' bisik nurani Amar seraya mengayunkan cangkul, membalik tanah liat basah dan mencabut rumput teki yang merayapi perakaran pohon kopi. Di ladang, segalanya terukur dengan kepastian yang menenangkan: jika rumput dibabat, batang kopi akan bernapas lega; jika ranting cacing dipangkas, bakal dompolan buah akan merekah ranum. Alam tidak pernah menguji daya ingatnya tentang traktat Linggarjati atau rumus phytagoras yang rumit. Alam hanya meminta curahan peluh jasmani, dan sebagai gantinya, memberi rasa letih yang murni tanpa beban pikiran.
Pada malam hari, tubuhnya merebahkan diri di atas balai bambu beralas tikar pandan di rumah panggung kayu ayahnya. Dengkur lelap datang seketika, bebas dari bayang-bayang buku cetak yang menunggu untuk dibaca di bawah temaram lampu templok. Namun di balik keheningan yang ia agung-agungkan itu, ada sesuatu yang perlahan mulai membeku. Jemarinya yang dahulu lincah memegang pena gerigi kini mulai menebal, kapalan di pangkal telapak tangan mengeras bagai kayu sonokeling, dan matanya yang dahulu gemar menatap horizon jauh kini kian terpancang semata pada bongkahan tanah di depan ujung kakinya.
❖ ❖ ❖
Bagian 03 : Cangkir Enamel dan Ujian Sang Ayah
Agustus 1976 · Dangau Perbukitan Talang Rambang
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Ketenteraman semu itu pecah pada suatu petang di bulan Agustus, ketika langit Talang Rambang meredup keperakan digayuti mendung tipis. Usai membersihkan ladang petak barat, Amar berteduh di dangau bambu beratap rumbia milik keluarga. Di sudut dangau, Ayahanda Muhammad Ibrahim tengah meniup abu tungku perapian kecil tempat merebus ceret kaleng.
Sosok sang ayah adalah monumen hidup dari ketangguhan lelaki pedalaman Sumatra. Kulitnya sewarna tembaga tua terbakar matahari berpuluh-puluh musim, dengan kerut mendalam di sudut matanya yang selalu menyimpan ketenangan tak tertebak. Muhammad Ibrahim tidak pernah mengenyam bangku sekolah formal kolonial, namun tutur katanya terukur, berakar pada kearifan bumi dan adat yang kokoh. Sambil menyodorkan sebuah cangkir seng loreng hijau berisi seduhan kopi robusta pekat bertabur gula aren merah, sang ayah duduk bersila tepat di seberang Amar.
"Minumlah, Am," ujar Ayahanda perlahan. Asap tipis beraroma sangrai gosong dan karamel naik di antara wajah mereka.
Amar menyambut cangkir itu dengan kedua belah tangannya, merasakan kehangatan seng yang membakar telapak tangannya. Tatapan sang ayah tidak lepas memandangnya lekat-lekat—tatapan yang tidak memuat kemarahan, melainkan ketajaman seorang pemburu yang sedang membaca jejak binatang di hutan belantara.
"Amarullah," suara Muhammad Ibrahim memecah desau angin lembah yang mengguncang pucuk-pucuk daun kopi. "Ayah perhatikan gerak-gerikmu selama tiga bulan ini. Engkau bangun paling pagi, ayunan parangmu tepat, dan engkau merawat batang-batang kopi ini seolah engkau telah mengerjakannya selama tiga puluh tahun. Katakan padaku dengan jujur, anakku: apakah engkau memang berniat memilih jalan sebagai petani kebun seumur hidupmu?"
Dada Amar berdegup kencang. Ia menelan ludah yang mendadak terasa getir. "Saya... merasa tenang di sini, Ayah. Di sini tidak ada rasa cemas yang mengejar-ngejar seperti di Talang Padang."
Muhammad Ibrahim mengangguk pelan sekali, gerakan kepala yang sangat lambat namun sarat bobot. Tangannya yang kasar meraba bilah bambu lantai dangau.
"Kalau memang itu jalan yang kau pilih dengan lapang dada, Ayah tidak akan menghalangimu," ucap sang ayah datar, namun setiap suku katanya menusuk bagai jarum penusuk karung goni. "Bahkan, jika engkau memang berniat menetap, Ayah akan menjual beberapa kuintal kopi simpanan lumbung untuk membelikanmu sebidang kebun kopi baru di lereng bukit seberang. Engkau akan memiliki tanahmu sendiri. Dan agar mengurus kebun kopi ini bertambah semangat serta tidak terlunta-lunta, carilah pacar di dusun ini, lalu segeralah menikah. Umurmu sudah cukup untuk memulai sebuah keluarga di Talang Rambang."