Autobiografi Amrullah Ibrahim

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Menemukan Cahaya di Kota Karang

Sebuah Pengembaraan Jiwa di Antara Debu MTsAIN dan Semangat Tajdid SMP Muhammadiyah 1 - 1977 – 1979 · Tanjung Karang, Bandar Lampung

"Menuntut ilmu adalah jalan menuju surga; barangsiapa yang menempuhnya dengan ikhlas, Allah mudahkan langkahnya." — Mutiara MTsAIN Tanjung Karang, 1977

❖ ❖ ❖


Bagian 01 : Kabut Debu dan Rekomendasi Emas

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Angin Selat Sunda dari Teluk Betung membawa aroma garam pekat, bercampur uap aspal mendidih dan debu batu kapur yang mengepul dari bukit gundul Tanjung Karang. Di tahun 1977 itu, kota ini adalah rimba keras tempat orang pedalaman mengadu nasib dengan koper seng berkarat. Di tengah deru mesin bus yang batuk-batuk di Terminal Pasar Bawah, Amarullah Wanahi berdiri mematung. Telapak tangannya basah oleh peluh dingin, meremas secarik kertas berkop resmi yang terasa seberat lempengan tembaga.

Kertas itu adalah rekomendasi emas dari saudara sepupunya, Drs. H. M. Aiman Fikri. Amar mengenang tatapan sepupunya dua malam lalu di beranda Talang Padang. Tatapan Aiman bukan tatapan kerabat biasa yang sekadar melepas sanak keluarga; ada kilatan analitis yang ganjil, nyaris seperti seorang pengamat yang mengukur ketahanan pegas jam mekanik.


"Kota Karang bukan sekadar tempat menumpang tidur, Amar," bisik Aiman kala itu, menembus celah dinding papan. "Madrasah Tsanawiyah Agama Islam Negeri di sana dipimpin Drs. H. Umar Choli, cendekiawan muda islam lulusan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan rekomendasi ini, takdirmu akan bergeser. Ingat, jangan goyah, betapapun kepalamu merasa ada yang ganjil."

Setiap kali mengingat Talang Padang, bayang-bayang kemiskinan dan gundukan tanah ladang yang keras selalu mencekam ulu hatinya; kegagalan di kota ini berarti kepunahan seluruh cita-cita keluarganya.

Kata 'ganjil' itu terus mendesing di benaknya. Mengapa jalannya begitu mulus? Mengapa gerbang-gerbang takdir seolah sengaja dibukakan lebar oleh para tetua sebelum ia sendiri sempat mengetuknya?

❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Di Bawah Tatapan Cendekiawan Kalijaga

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Ruang kerja Kepala MTsAIN beraroma kayu lapuk dan tumpukan stensil tua. Di balik meja jati, Drs. H. Umar Choli duduk dengan wibawa agung. Sorot matanya memancarkan kedalaman santri terpelajar Yogyakarta yang kenyang membedah kitab kuning dan filsafat modern. Ketika Amar menyerahkan surat rekomendasi Aiman Fikri, Pak Umar menyentuh amplop itu dengan ujung jari, menatap lurus ke dalam pupil mata Amar.

"Amarullah," suara Pak Umar bergema rendah tanpa memantul di dinding ruangan. "Aiman sudah menceritakan potensi batinmu. Di madrasah ini, kita tidak hanya mengeja huruf hijaiyah. Kita sedang menakar daya tahan ruh manusia menghadapi zaman yang bengkok. Kau siap menerima beban itu?"

"Insya Allah, Pak. Saya datang belajar dengan ikhlas," sahut Amar, menelan ludah yang tercekat.

Pak Umar tersenyum tipis—senyuman yang teramat simetris. "Ikhlas itu konsep yang tinggi, Amar. Sering kali manusia mengira dirinya ikhlas, padahal ia hanya menjalankan skenario yang digariskan tanpa daya membantah." Beliau membubuhkan paraf pada kartu induk madrasah dengan pena parker yang berderit. Pada sudut kartu itu, Amar melihat sekilas deretan kode alfanumerik ganjil, bukan tanggal lahir biasa. Pak Umar segera menutup map itu. "Pergilah ke asrama. Keponakanku, Mulyani, ada di sana. Dia akan menjadi cermin bagimu."

❖ ❖ ❖


Bagian 03 : Aroma Cuko Pempek dan Lingkaran Tadarus

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Kehidupan madrasah segera merengkuh Amar. Di sana ia menemukan penyejuk jiwa: Mulyani. Keponakan kandung Pak Umar Choli itu ramah, santun, dan mahir meracik pempek Palembang. Setiap petang menjelang magrib, aroma cuka aren mendidih bercampur cabai rawit tumbuk dan bawang putih menguar dari dapur asrama, menyingkirkan bau debu jalanan.

"Makan dulu, Am. Otak lapar cuma bisa melamunkan dosa, bukan nahwu," kelakar Mulyani menyodorkan sepiring lenjer hangat. Kuah cuko hitam kental buatannya menyengat lidah dengan keseimbangan rasa yang magis.

Farida dan Emilia sesekali menimpali dengan tajam saat Hasanuddin memperdebatkan makna qadha dan qadar. Di antara kepulan uap pempek, Amar merasa telah menemukan sebuah keluarga pengganti di tanah rantau.

Di sekeliling piring kaleng itu, lingkaran sahabat karib berkumpul: Hasanuddin yang pendiam; Samhuri Rozak yang selalu mencatat; Zohirun yang ceria; serta Farida dan Emilia di serambi seberang yang tekun menyimak bahasan tafsir. Bersama mereka, Amar menghabiskan malam-malam berangin dengan tadarus Al-Qur'an di bawah lentera petromaks.

Lihat selengkapnya