Autobiografi Amrullah Ibrahim

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Seragam Putih Abu-Abu

Seragam Putih Abu-Abu dan Pahitnya Kegagalan. SMA Nasional Tanjung Karang, Jurusan IPA, dan Papan Pengumuman yang Bisu. 1979 – 1982 · Rawa Bengkel, Enggal, Tanjung Karang, Lampung

"Kegagalan bukanlah akhir dari sebuah pengembaraan, melainkan cermin bening yang teramat kejam untuk membersihkan kelemahan diri yang paling tersembunyi." — Catatan Kelulusan & Buku Harian Amarullah Wanahi, 1982

❖ ❖ ❖


Bagian 01 : Debu Rawa Bengkel dan Jubah Kebanggaan

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Kota Tanjung Karang pada pertengahan 1979 menyerupai raksasa yang terbangun dengan napas memburu dan tenggorokan berdebu. Aspal jalanan utama di Jalan Kartini dan Raden Intan belum sepenuhnya licin membentang; batu-batu kali hitam masih sering menyembul dari lapisan ter yang meleleh dipanggang terik khatulistiwa. Truk-truk pengangkut pasir dari arah Kali Sekampung menderu siang malam, menebarkan partikel debu tanah merah yang memerihkan kelopak mata dan menempel tebal di daun-daun pohon akasia yang meranggas di tepian jalan.

Namun bagi Amarullah Wanahi, debu itu laksana serbuk emas yang menandai gerbang dunia baru. Di sebuah ceruk kawasan Rawa Bengkel, Kelurahan Enggal—tempat di mana air rawa sering kali meluap hingga merendam semak kangkung liar saat hujan lebat turun—berdiri tegak sebuah bangunan bersahaja yang baru saja mengibarkan benderanya: SMA Nasional Tanjung Karang. Bangunan itu belum rampung bersolek; dinding batanya baru dilapisi lepa semen kasar yang belum tuntas dikapur putih, daun pintunya masih mengeluarkan dengung kayu basah yang meregang, dan papan tulis di muka kelas merupakan tripleks bercat hitam dop yang di beberapa sisinya telah bopeng terkelupas oleh bekas goresan mistar kayu panjang.

Pada Senin pagi yang gerah itu, Amar berdiri kaku di barisan lapangan upacara yang becek beralas kerikil tajam. Kemeja putih berlengan pendek yang ia kenakan masih beraroma sangit khas kanji dan arang—hasil setrikaan arang cap jago yang digosokkan sang ayah dengan penuh kehati-hatian di atas meja kayu beralas sarung lusuh semalam suntuk. Celana panjang abu-abunya sedikit kebesaran di bagian pinggang, dijahit oleh tukang jahit keliling dengan sisa kain potongan yang murah, namun bagi Amar, pakaian itu adalah zirah kehormatan.

"Lihat langkahmu, Amar," bisik sebuah suara di dasar hatinya, sebuah gema retrospeksi yang tiba-tiba berdentang menyusup di antara degup dada yang tak beraturan. Ia teringat tatapan mata ayahnya kemarin petang, pria berkulit legam dengan jemari kasar berkapalan yang menyerahkan bungkusan seragam itu tanpa sepatah kata pun pujian, melainkan dengan tatapan mata yang teramat berat menuntut. *'Di kampung kita, anak buruh dan pedagang pasar jarang yang menyentuh bangku SMA. Sekali kakimu melangkah masuk, kau tidak membawa dirimu sendiri, tapi martabat seluruh bilik rumah kita.'*

Suara serak kepala sekolah memecah lamunannya, menggelegar melalui pelantang corong seng yang berderit bising:

"Kalian adalah anak-anak yang beruntung bisa duduk di bangku SMA ini! Tengoklah ke luar sana, di lorong-lorong pasar dan bantaran kali, ribuan anak sebaya kalian terpaksa mengubur impian karena ketiadaan biaya. Setiap tetes keringat orang tua kalian yang jatuh ke bumi adalah utang darah yang wajib kalian bayar dengan prestasi. Manfaatkan setiap detik belajar di sini, atau kalian akan tergilas zaman!"

Kata-kata itu menghunjam tepat di ulu hati Amar. Ada rasa bangga yang meletup, tetapi di baliknya, kecemasan purba mulai merayap bagai lumut basah di dinding sumur: bagaimana jika aku tersandung? Bagaimana jika pundakku tak cukup liat menopang beban sebesar ini?

❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Di Bawah Naungan Akasia - Tawa yang Menyimpan Retakan

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Ketertiban, kesantunan gerak, serta sorot matanya yang teduh membuat kawan-kawan sekelas tak ragu menunjuk Amarullah menjadi ketua kelas pada pekan pertama. Amar menerimanya bukan karena haus kepemimpinan, melainkan dorongan alamiah untuk menjaga harmoni di tengah keberagaman anak-anak Tanjung Karang—dari anak pedagang kelontong Pasar Bawah hingga anak pensiunan jawatan kereta api.

Di bangku kayu panjang yang selalu berderit tiap kali bergeser itu, Amar merajut persahabatan yang lekat dengan Udiono dan Asmuni. Udiono adalah pemuda kurus berambut ikal dengan senyum cengengesan yang selalu pandai mencairkan ketegangan, sementara Asmuni bertubuh gempal, bicaranya lantang namun kerap kali gemetar jika dipanggil ke depan kelas untuk menyelesaikan soal aljabar.

Lalu ada Erni Susilowati. Gadis berlesung pipit itu adalah semilir angin di tengah terik Rawa Bengkel yang memanggang. Dengan tas sekolah berbahan kanvas tebal yang selalu dijejali buku-buku catatan bersampul kertas payung cokelat, Erni kerap berjalan di samping Amar saat jam sekolah usai.

"Mar, bawakan tasku ya? Tanganku pegal sekali sehabis mencatat dikte sejarah tadi," rengek Erni seraya menyodorkan tasnya dengan mata mengerling manja, tawa kecilnya mengalun renyah di antara kepulan debu jalanan.

Amar hanya tersenyum tipis, menerimanya tanpa banyak cakap. Ada kehangatan polos yang melingkupi masa-masa itu. Seusai pelajaran, mereka berempat kerap bersepeda menyusuri pematang sawah di pinggiran Tanjung Karang, melemparkan kail bambu ke balong-balong liar, menunggu ikan betok menyambar umpan cacing sambil berbagi sepotong ketan goreng hangat. Udiono akan terbahak-bahak menceritakan lelucon cabul yang ia dengar dari kernet bus kota, sementara Asmuni bersumpah kelak ingin menjadi insinyur pertanian yang mengendarai traktor megah.

Namun di sela gelak tawa itu, tanda-tanda kecil keretakan mulai menampakkan bayangannya. Suatu sore di tepian balong, ketika bayang-bayang pohon kelapa memanjang di atas permukaan air yang cokelat tenang, Udiono tiba-tiba terdiam menatap kailnya yang tak kunjung bergoyang.

"Mar," ucap Udiono datar, nadanya kehilangan keceriaan jenaka yang biasa. "Ayahku bilang, kalau aku gagal lulus SMA atau tak masuk jurusan bergengsi, aku akan disuruh kernet truk pasir ke Kotabumi. Aku tak punya otak seencer kau. Kalau suatu saat aku terdesak... kau tak akan membiarkan sahabatmu ini mati konyol di jalanan, kan?"

Amar menoleh, menatap mata Udiono yang mendadak kelam dan basah. Amar menepuk bahu kurus kawannya itu dengan keyakinan yang naif. "Kita masuk bersama, Di. Kita juga akan keluar dari pintu gerbang itu bersama-sama. Aku jamin."

Amar tak pernah menyadari, janji yang diucapkannya di tepi balong berair tenang itu kelak akan menjadi jerat yang mencekik lehernya sendiri.

❖ ❖ ❖


Bagian 03 : Jurusan IPA dan Lorong Penjara Hafalan

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Juli 1980 menghadirkan babak baru yang sarat gengsi. Pengumuman penjurusan ditempel di papan pengumuman sekolah. Sorak kemenangan meledak di dada Amar saat mendapati namanya tercantum di Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Di era itu, jurusan IPA bukan sekadar peminatan akademik; ia adalah kasta ksatria, panggung kehormatan tempat berkumpulnya siswa-siswa teladan yang digadang-gadang memegang tampuk kemajuan republik.

Namun kemegahan itu segera menjelma menjadi labirin yang melelahkan. Ruang kelas dua IPA di SMA Nasional segera dibanjiri jadwal praktikum dan jam pelajaran yang padat laksana air bah bahtera Nuh. Setiap pagi dimulai dengan aroma asam pekat di laboratorium darurat bersama Bapak K. Perangin-angin—seorang guru kimia berwajah dingin dengan kumis tebal melintang yang tak pernah tersenyum. Beliau mengajar dengan metode monolog bertempo tinggi: berdiri tegak di depan kelas, mendiktekan ratusan reaksi senyawa organik dari buku diktat usang berbahasa Belanda yang diterjemahkan separuh-separuh.

Lalu berganti dengan fisika di bawah asuhan Bapak Suharto yang menuntut hafalan puluhan rumus gerak melingkar dan termodinamika tanpa pernah sekali pun mengajak siswa menyentuh hakikat fisis dari benda yang bergerak itu sendiri. Di jam berikutnya, Ibu Rosidah Sembiring menghujani mereka dengan ratusan nama Latin familia tumbuhan dan ordo hewan yang wajib disetor luar kepala di depan kelas dalam waktu tiga menit.

Lihat selengkapnya