Mengulang Kelas Tiga, Bedah Ikan Mas, dan Kelulusan SMAN 1 1983. Agustus 1982 - Juni 1983 · SMA Nasional & SMAN 1 Tanjung Karang, Lampung
"Bila engkau jatuh tujuh kali, bangkitlah delapan kali. Allah tidak melihat di mana engkau terjatuh, melainkan bagaimana engkau berdiri kembali." — Ikrar Kebangkitan Jiwa
❖ ❖ ❖
BAGIAN 01 : RUNTUHAN DI DEPAN CERMIN BERDEBU
Rasa Malu, Gengsi yang Koyak, dan Pintu Gerbang Agustus 1982 (Agustus 1982 — Kamar Sewa & Gerbang SMA Nasional Tanjung Karang)
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Cermin gantung berbingkai seng karat di sudut kamar kontrakan bedeng itu memantulkan seraut wajah yang tampak sepuluh tahun lebih letih dari usia pemuda sembilan belas tahun. Di bawah pendar temaram lampu pijar lima belas watt, Amrullah Ibrahim—yang karib dipanggil Amar—menatap bayangan dirinya sendiri dengan getar rahang yang mengeras. Kemeja putih abu-abu seragam SMA itu terasa seperti kain kafan yang dipaksakan membungkus tubuhnya kembali. Kerahnya yang telah pudar bukan sekadar serat kain yang terkikis sabun batangan cap payung, melainkan penanda kekalahan telak yang belum sanggup ia maafkan.
Setahun silam, tepat di bulan Juli yang membakar aspal Tanjung Karang, surat kelulusan itu tiba bukan sebagai sayap yang menerbangkannya ke jenjang birokrasi negara, melainkan sebilah belati yang memenggal impiannya seketika. "Tidak Lulus." Dua kata stensilan tinta ungu di lembar kertas buram itu telah membuat lututnya meluruh di ubin tanah. Sebagian kawan seangkatannya yang bernasib serupa telah memilih jalan pintas: mengurung diri hingga jatuh sakit, minggat ke kebun lada di pedalaman Lampung Utara, atau menenggelamkan rasa malu dalam kepulan asap ganja dan perkelahian liar di terminal Pasar Bawah. Bagi seorang pemuda berdarah rantau, tinggal kelas adalah aib komunal; cap kegagalan yang menempel di dahi seolah kutukan tanpa tebusan.
"Menyesal sepanjang hari tidak akan mengubah takdir yang sudah tertulis," bisik Amar lirih. Ujung jemarinya menyentuh permukaan kaca yang retak di sudut kiri bawah, tepat di mana bayangan matanya beririsan dengan bayang-bayang kelam. "Aku sendiri yang membiarkan pikiran ini lengah. Menghafal rumus seperti burung beo tanpa mengerti ke mana arah logika bermuara. Kegagalan ini adalah cambuk bagi keangkuhanku di masa lalu, dan aku tidak berhak merengek meminta belas kasihan dunia."
Ketika langkah kakinya melintasi gerbang besi bercat hijau kusam milik SMA Nasional Tanjung Karang pagi itu, udara terasa mengental laksana getah damar. Aroma tanah berkapur yang baru disiram gerimis fajar bercampur dengan desis roda sepeda kumbang para guru. Di lorong gedung sekolah yang riuh oleh tawa anak-anak baru, langkah tegap Amar mendadak terasa terasing. Tatapan ratusan pasang mata yang usianya dua atau tiga tahun lebih muda langsung menghujam. Bisik-bisik menusuk bagai sembilu tajam di udara: "Itu kan Kak Amar angkatan kemarin... kenapa dia masih pakai seragam sekolah? Dia tinggal kelas, ya?"
Aturan ketat kepala sekolah tidak memberi kompromi setitik pun. Berdasarkan regulasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, siswa yang gugur dalam evaluasi akhir tahap akhir (EBTA) tidak berhak atas ujian ulangan dalam waktu dekat. Mereka diwajibkan duduk mengulang satu tahun ajaran penuh, berbaur di ruang kelas yang sama dengan adik-adik kelas yang tahun sebelumnya masih menyapanya dengan takzim. Bagi pemuda dengan ego sebesar bukit barisan, menundukkan kepala di hadapan tatapan meremehkan adalah siksaan batin yang jauh lebih pedih daripada cambukan rotan.
❖ ❖ ❖
BAGIAN 02 : GEMA BATU CADAS SUNGAI LUBAI
Falsafah Ayahanda, Dinginnya Air Hanyut, dan Retrospeksi Kelalaian (Kilas Balik Masa Kecil & Perenungan 1982 — Tepian Sungai Lubai, Sumatera Bagian Selatan)
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Setiap kali dadanya sesak oleh sengatan cibiran di lorong sekolah, memori Amar melesat ratusan kilometer ke arah barat laut, menuju tepian berpasir Sungai Lubai. Ia teringat masa kecilnya ketika musim penghujan baru saja mereda, saat air sungai yang cokelat kemerahan menghempas batu-batu kali raksasa yang tegak angkuh di jeram. Kala itu, sang ayah berdiri di sampingnya dengan sarung pelekat tersampir di pundak, menyaksikan perahu biduk yang terombang-ambing di pusaran air deras.
"Perhatikan air itu, Amar," suara almarhum ayahnya kembali terngiang, begitu jernih dan berwibawa di relung telinganya. "Air tidak pernah berteriak histeris saat keningnya dihantam batu cadas hitam. Ia tidak pernah meratap lalu mundur kembali ke hulu. Ketika jalannya dihadang tebing batu, air hanya merendahkan diri, memutar haluan, mencari celah tersempit di antara celah-celah karang, lalu terus mengalir sampai ke muara samudra luas. Orang yang mudah putus asa adalah orang yang mengira batu cadas itu akhir dari sungai. Padahal, batu itulah yang menguji apakah air itu layak menyatu dengan lautan."
Retrospeksi itu meremas ulu hatinya. Amar tahu persis mengapa dirinya jatuh tersungkur pada EBTA tahun lalu. Kala itu ia terjebak dalam ilusi kepintaran semu. Ia merasa cukup menghafal nama-nama latin taksonomi, mengingat mati rumus fisika tanpa membedah konsep gaya, dan menganggap remeh hari-hari belajar karena terbiasa menjadi murid yang paling vokal dalam diskusi organisasi pemuda. Keangkuhan intelektual telah membuatnya buta. Ia lupa bahwa ujian hidup bukan ajang pamer hafalan kata, melainkan ujian ketahanan membedah hakikat kenyataan.
"Ayah telah menaruh segenap harapan keringatnya di pundakku," gumam Amar seraya mengepalkan tangan di saku celananya hingga buku-buku jarinya memutih. "Jika aku lari hari ini hanya karena takut ditatap sinis oleh bocah-bocah kemarin sore, maka aku telah mengkhianati setiap butir nasi yang mengalirkan darah di tubuhku. Bila aku jatuh tujuh kali di tanah berbatu ini, demi kehormatan ayahanda dan bumi Lubai, aku akan bangkit delapan kali!"
❖ ❖ ❖
BAGIAN 03 : AROMA MELATI DAN TATAPAN ALZAWATI
Persahabatan Tanpa Belas Kasihan Palsu di Tengah Kesenjangan Sosial (September - November 1982 — Bangku Belakang Kelas 3-A SMA Nasional)
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Di ruang kelas 3-A yang beraroma kapur tulis basah dan kayu lapuk, Amar sengaja memilih bangku paling pojok di dekat jendela yang menghadap ke deretan pohon ketapang. Ia tidak ingin kehadirannya mencolok. Namun, takdir rupanya enggan membiarkannya tenggelam dalam kesunyian yang murung. Di samping mejanya, duduk seorang siswi baru yang segera menjadi pusat perbincangan seluruh sekolah: Alzawati.