GERBANG PENGABDIAN DI CUT MEUTIA
7 Januari 1985, CPNS Golongan II/a, dan Ribuan Lembar SPM Pak Wagiran - 1985 - 1987 · KTUA Bandar Lampung, Jl. Cut Meutia No. 23A, Bandar Lampung
"Selembar rupiah anggaran negara adalah amanah darah dan keringat rakyat; satu angka yang salah letak bisa merusak keseimbangan perbendaharaan bangsa." — Etika Abdi Perbendaharaan Negara
❖ ❖ ❖
BAGIAN 01 : Basah Aspal Teluk Betung dan Bau Kertas Stensil
7 Januari 1985 · Jejak Sepatu Pantofel di Tangga Kolonial
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Senin pagi itu, Teluk Betung tidak menyambut siapa pun dengan kehangatan. Sisa hujan lebat semalam masih menggenang di ceruk-ceruk aspal Jalan Cut Meutia Nomor 23A, memantulkan bayangan langit kelabu yang menggantung rendah di atas atap genting tua. Di hadapan gerbang Kantor Tata Usaha Anggaran (KTUA) Bandar Lampung, seorang pemuda berdiri mematung. Udara lembap menyusup melalui serat kemeja putih lengan panjangnya yang disetrika kaku menggunakan arang kelapa, mengirimkan gigil halus yang bermuara tepat di ulu hati.
Amar menatap ujung sepatu pantofel hitamnya. Kulit imitasi murah itu telah ia semir hingga memantulkan kilau muram genangan air, namun di bawah sol karetnya yang tipis, ia masih bisa merasakan ngilu yang akrab: rasa ngilu anak desa pedalaman Lubai yang merasa tersesat di dalam kostum orang terhormat. Hari ini, 7 Januari 1985, adalah langkah perdananya menginjakkan kaki di kantor vertikal Direktorat Jenderal Anggaran Departemen Keuangan. Surat Keputusan pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil golongan II/a telah terlipat rapi di dalam tas kulit imitasi cokelatnya, namun di dalam kepalanya, suara dengung pengumuman kelulusan EBTA lima tahun silam di kampungnya masih belum pernah benar-benar padam.
Amar teringat debu kapur tulis di papan pengumuman sekolahnya di Muara Enim, saat namanya tercoret tinta merah tebal—ia dinyatakan tidak lulus ujian akhir. Ayahnya, seorang penyadap karet dengan telapak tangan sekasar kulit kayu rengas, hari itu hanya terdiam di ambang pintu gubuk, menolak makan ubi rebus yang disodorkan ibunya. 'Kalau kau gagal memegang pensil,' bisik ayahnya malam itu tanpa menoleh, 'kau akan seumur hidup memegang cangkul pinjaman, menjadi beban tanah orang lain.' Luka itulah yang mendorong Amar melipat rasa malunya, menempuh ujian persamaan, merantau menyeberangi Selat Sunda dengan bekal beras satu karung kecil, hingga keajaiban birokrasi memberinya selembar kertas bertuliskan NIP dan penetapan pangkat Pengatur Muda.
Saat telapak tangannya menyentuh pegangan pintu kuningan berukir peninggalan kolonial Belanda itu, sebuah getaran aneh menjalari tengkuknya. Suara tetesan air hujan dari talang seng di atas teras terdengar terlalu berirama—ketukan ritmis yang ganjil, seolah diatur oleh metronom tak kasat mata dengan frekuensi empat puluh empat desibel yang mutlak seragam. Amar menggelengkan kepala, mengusir halusinasi lelahnya. Ia melangkah masuk ke dalam aula berplafon tinggi, menghirup aroma yang kelak mendikte seluruh sisa hidupnya: campuran pekat antara debu arsip tua, wangi asam kertas stensil basah, minyak mesin tik, dan kepulan tipis asap kretek Gudang Garam Merah yang melayang malas di bawah putaran kipas angin langit-langit.
❖ ❖ ❖
BAGIAN 02 : Di Bawah Bayang-Bayang Mata Elang Pak Wagiran
Seksi Penata Tata Usahaan Perbendaharaan (PTUP) dan Ribuan Lembar SPM
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Ruang Seksi Penata Tata Usahaan Perbendaharaan (PTUP) terletak di sudut timur lantai dasar, sebuah ruangan temaram berdinding semen tebal yang mampu menahan hawa panas pesisir Lampung namun memerangkap kelembapan abadi. Di balik meja kayu jati berukuran raksasa yang tampak seperti benteng pertahanan, duduk Kepala Seksi: Bapak Wagiran. Pria berusia separuh baya itu mengenakan safari abu-abu yang lengannya tergulung rapi hingga siku. Di atas batang hidungnya yang melengkung tajam bertengger kacamata berbingkai tanduk penyu dengan lensa tebal yang membuat pupil matanya membesar dua kali lipat—sepasang mata elang yang konon sanggup mencium ketidakberesan anggaran dari jarak sepuluh meter.
'Duduk, Amar,' suara Pak Wagiran tidak keras, namun memiliki berat timbal yang menekan udara ruangan. Ia tidak mengangkat wajah dari tumpukan berkas setinggi bahu anak kecil di depannya. 'Mulai hari ini, tanganmu bukan lagi tangan seorang anak desa yang mencabut gulma di Lubai. Tanganmu adalah kurator kas negara. Kau tahu apa arti lembar kuning tipis berbau minyak tanah ini?'
Pak Wagiran mengangkat selembar kertas stensil berstempel ungu basah: Surat Perintah Membayar (SPM) Lembar 2. Cahaya lampu pijar kuning empat puluh watt bergoyang di atas kepala mereka, menciptakan bayang-bayang panjang yang bergetar. Amar menelan ludah, tenggorokannya tercekat pasir ketakutan. 'Surat... bukti pengeluaran kas negara dari KPKN, Pak.'
'Bukan!' potong Pak Wagiran tajam, matanya menembus kacamata tebal itu tepat ke pupil Amar. 'Ini bukan kertas. Ini keringat buruh pelabuhan di Panjang, ini darah tentara yang berpatroli di hutan Way Kambas, ini harga beras dingin yang ditahan oleh jutaan petani miskin demi membayar pajak bumi dan bangunan! Di bawah Indische Comptabiliteitswet, setiap rupiah yang keluar dari kas negara harus suci dari cacat hukum. Satu angka nol yang kau lewatkan karena kantuk, satu salah ketik antara Pasal 51 Belanja Pegawai, Pasal 52 Belanja Barang, atau Pasal 53 Belanja Modal, kau sedang memotong nafkah orang banyak untuk dibuang ke selokan!'