MESIN TIK, MODUL MALAM, DAN GELAR ADMINISTRASI - Seksi Pembukuan Kas Negara dan Kuliah Mandiri Universitas Terbuka. 1985 – 1990 · KTUA Bandar Lampung & UPBJJ Universitas Terbuka, Unila Gedong Meneng
"Bekerja sambil kuliah adalah jalan terjal bagi mereka yang tak mau kalah oleh nasib; modul-modul kusam itu adalah tangga menuju cakrawala baru." — Memoar Mahasiswa Mandiri Universitas Terbuka
❖ ❖ ❖
BAGIAN 01 : BAU LOGAM, ABU ROKOK, DAN LEMBAR KETIGA
Mutasi ke Seksi Pemeriksaan Pembukuan Kas Negara - 1 April 1987 · Kantor KTUA Bandar Lampung, Jl. Cut Meutiah Teluk Betung
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Aroma di lantai dua Kantor Tata Usaha Anggaran (KTUA) Bandar Lampung selalu memiliki rasa yang seragam di lidah Amar: campuran tengik minyak pelumas mesin tik Brother, abu rokok kretek Commodore yang menumpuk di asbak seng, dan debu lembap dari map-map ordner tebal yang membusuk perlahan di lemari besi tak berpintu. Di luar jendela berkawat kasa, udara Teluk Betung menggantung berat, sarat uap garam laut dan debu jalanan berbatu yang dipanggang terik siang.
Tepat pada pagi 1 April 1987 itu, selembar Nota Dinas bertanda tangan basah Kepala KTUA mendarat di atas mejanya dengan ketukan kuku telunjuk yang tak sabar. Amar tidak dipanggil ke ruangan ber-AC merk National milik pimpinan; surat mutasi itu cukup dilemparkan oleh pesuruh kantor bersama setumpuk map merah kusam bertuliskan cap stempel ungu: 'SEKSI PEMERIKSAAN PEMBUKUAN KAS NEGARA'.
"Mulai hari ini kau pindah ke pojok belakang, Mar," desis Suwondo, juru ketik senior yang dahinya selalu berminyak. Suaranya serak, matanya tak lepas dari kertas karbon tipis yang sedang ia selipkan ke rol mesin tik. "Kau hitung kembali potongan SPM Lembar 3 dari Kantor Kas Negara. Jangan banyak melamun. Selisih seratus perak saja di blangko P-7, kau bisa diseret ke ruangan inspektorat sebelum sempat mencicipi uang makanmu."
Amar menelan ludah. Jakunnya naik-turun di balik kerah kemeja safari nilon cokelat muda—pakaian dinas seragam Golongan II/a yang kainnya mulai menipis dan mengilap di bagian siku. Di hadapan meja kayu jati tua berpelitur kusam yang diwariskan dari pegawai yang pensiun karena stroke itu, Amar berdiri mematung. Tugas barunya bukan sekadar mengetik ulang; ia diserahi tanggung jawab memeriksa potongan Surat Perintah Membayar (SPM) Lembar 3, mencocokkan setiap rupiah penerimaan pajak dan setoran bukan pajak yang mengalir melalui Kantor Kas Negara Bandar Lampung, lalu memindahkannya secara teliti ke dalam blangko konsep Laporan P-7.
Secara resmi, itu adalah pekerjaan akurasi matematis. Namun bagi mata batin Amar yang telah diasah kecurigaan hidup anak kampung miskin, tumpukan berkas itu menyerupai labirin teka-teki moral. Ketika jemarinya menyentuh lembaran-lembaran kertas stensil merah muda yang rapuh itu, ia merasakan sesuatu yang ganjil. Pada tumpukan SPM Lembar 3 triwulan pertama tahun anggaran 1987, beberapa potongan iuran pembangunan daerah memiliki paraf tinta ungu pudar yang sama—paraf tergesa tanpa cap register dinas yang sah. Terdapat celah nominal di mana angka di kolom debet tampak disamarkan dengan ketukan spasi ganda mesin tik elektrik di kantor kas sebelum dikirim kemari.
Apakah itu kekeliruan klerikal biasa atau kesengajaan yang dilegitimasi oleh rasa takut bawahan? Amar menarik napas panjang. Mesin tik Adler di depannya tampak menatapnya seperti monster mekanik bergigi baja. Ia tahu posisinya: ia hanyalah pegawai rendahan berbekal selembar ijazah SMA Negeri Tanjung Karang. Di mata para pejabat eselon, ia sekadar sekrup kecil yang tak bernama. Jika ia salah melangkah, ia akan hancur sebelum sempat mengecap tangga hidup yang ia impikan.
❖ ❖ ❖
BAGIAN 02 : CAHAYA 25 WATT DAN PANGGILAN MODUL KUNING
Pemberontakan Sunyi di Bilik Teluk Betung - Musim Gugur 1985 – 1987 · Kamar Kontrakan Kampung Durian, Teluk Betung
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Kehausan itu bermula dari rasa sakit yang tak terucapkan. Dua tahun sebelumnya, tepatnya pada akhir tahun 1985, Amar pernah berdiri di belakang pintu ruang rapat pimpinan, membawakan nampan berisi lima cangkir teh poci untuk para pejabat kantor. Di dalam ruangan berkarpet merah itu, seorang kepala seksi tertawa mencemooh sembari mengibas-ngibaskan berkas kepegawaian seorang staf tata usaha: "Golongan II/a mau bermimpi jadi penata muda? Sampai ubanan pun dia tetap juru tulis! Ijazah SMA itu cuma cukup untuk menghitung sobekan karcis retribusi!"
Kalimat itu tidak sekadar menampar telinga Amar; ia menghunjam ulu hatinya, berakar, dan menjelma api dendam yang dingin. Amar tidak ingin mengutuk takdir kemiskinan keluarganya. Ayahnya, seorang mantri pasar yang meninggal sebelum sempat mencicipi pensiun taspen, hanya mampu mewariskan sepasang sepatu pantofel kulit imitasi yang haknya sudah aus miring. Jika Amar pasrah pada nasib, ia tahu ia akan terkubur hidup-hidup di bawah tumpukan kertas stensil hingga rambutnya memutih.
Maka pada awal 1985, tatkala berita peresmian Universitas Terbuka (UT) oleh Presiden Soeharto pada 4 September 1984 masih hangat dibicarakan di halaman harian Suara Pembaharuan, Amar mengambil langkah nekad. Dengan sisa rapelan gaji CPNS yang bahkan belum genap lima puluh ribu rupiah per bulan, ia mendatangi kantor Pos Giro Tanjung Karang untuk mendaftar sebagai mahasiswa mandiri Program Studi S.1 Administrasi Negara pada UPBJJ UT Bandar Lampung.
Kini, setiap malam setelah lonceng salat Isya berdentang dari surau kayu di ujung gang, bilik kontrakan tiga kali empat meter di Kampung Durian itu berubah menjadi kawah candradimuka. Tiada dosen yang berceramah dengan wibawa mimbar. Tiada papan tulis hitam berdebu kapur, tiada gadis-gadis kampus yang bersenda gurau di bawah pohon flamboyan. Guru satu-satunya hanyalah tumpukan modul bersampul kuning kusam berkertas koran yang dikirim melalui paket pos bersegel tali rami.
Di bawah terpaan bola lampu pijar 25 watt yang mendengung rendah dan menebarkan lingkaran cahaya kuning redup di atas meja tripleks lapuk, Amar membedah lembar demi lembar. Modul *Ilmu Administrasi Negara*, *Teori Organisasi* Max Weber, *Hukum Tata Pemerintahan*, hingga *Pengantar Manajemen Publik* ia lahap bagai orang kelaparan. Di luar jendela, desau angin laut Teluk Betung membawa dingin yang menusuk tulang, diselingi derit jangkrik yang bersembunyi di sela dinding papan.
Kelopak matanya sering kali terasa diberati timah panas. Asap dari cangkir kaleng berisi kopi robusta pekat tanpa gula mengepul, menyatu dengan bau minyak angin Cap Kapak yang ia oleskan di pelipis demi menepis kantuk. Amar mencatat, merangkum, dan mengulang-ulang konsep birokrasi rasional-legal. Weber menulis bahwa birokrasi adalah struktur impersonal yang mengutamakan aturan formal, efisiensi, dan keadilan prosedur. Namun setiap kali ia menatap kalimat agung itu, matanya selalu terbayang pada paraf ungu misterius di atas lembar potongan SPM Kas Negara yang ia jumpai di meja kantornya siang tadi. Ilmu di buku menuntut integritas yang murni, tetapi dunia nyata di sekelilingnya adalah rawa berlendir kompromi kekuasaan.
❖ ❖ ❖