Autobiografi Amrullah Ibrahim

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Sentuhan Pertama pada Layar Hijau

Masa: 1990 – 1995 | Latar: KTUA Bandar Lampung & Ditjen Anggaran Lapangan Banteng, Jakarta

"GIGO: Garbage In Garbage Out — apa yang kau masukkan ke dalam sistem, itulah yang akan dipancarkan keluar."  — *Drs. Nungcik Munawar, M.Sc (PPDIA Bandung, 1990)*

❖ ❖ ❖


Bagian 01 : Simfoni Seng dan Ketakutan Logam Krem

Latar: Ruang Sub Bagian Umum KTUA Bandar Lampung (Awal April 1990) - Fokus Konflik: Keterasingan kultural perantau melawan fobia teknologi birokrasi

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Udara di ruang Sub Bagian Umum KTUA Bandar Lampung selalu memiliki aroma yang seragam: campuran pekat antara pelarut trikloroetilen dari botol-botol tip-ex Re-Type, minyak pelumas mesin tik Singer yang mengering di engsel baki, dan serpihan debu kertas stensil folio berkepala burung garuda. Di tengah dengung kipas angin gantung gergaji yang membelah kelembaban pesisir Teluk Betung, ruangan itu berderak seperti pabrik tekstil mini. Belasan jemari para juru ketik paruh baya menumbuk tuts mesin tik manual Halda dan Olivetti dengan kemarahan purba—denting ritmis yang diakhiri oleh sentakan tuas pembatas margin dan dentang lonceng logam yang memekakkan telinga.

Namun, sejak Senin pertama bulan April 1990 itu, hegemoni baja tempa itu terusik. Di pojok ruangan, di atas meja jati beralas taplak tapestri renda, bertakhta sebongkah kotak besi berwarna krem kusam. Komputer mikro IBM PC/XT kompatibel dengan dua slot penggerak disket liat liat lima seperempat inci. Dari kisi ventilasi belakangnya, kipas pendingin berputar dengan dengung monoton berfrekuensi rendah—sebuah napas mekanis yang dingin, ganjil, dan mencemaskan.

Bagi sebagian besar pegawai yang telah menghabiskan separuh hidupnya menyusun rangkap karbon formulir anggaran, kotak besi itu bukan perkakas kantor; ia adalah berhala modern yang angker. Ada bisik-bisik takhayul birokrasi di sela hisapan rokok kretek di kantin belakang: jangan menekan tuts keyboard terlalu keras, layarnya bisa meletup dan membakar seluruh dokumen DIPA, atau memancarkan radiasi tak kasat mata yang sanggup melumpuhkan saraf mata. Ketakutan itu nyata, berurat-berakar pada naluri manusia yang gamang menghadapi zaman yang mendadak menuntut kepastian biner.

Tetapi bagi Amarullah Wanahi, kecemasan itu justru menyalakan bara yang lain. Berdiri mematung di ambang pintu partisi tripleks, pemuda berusia dua puluhan asal pelosok Lubai, Sumatera Selatan, itu menatap tabung kaca cekung monitor monokrom amber-hijau dengan dada bergemuruh. Sebagai anak rantau yang dibesarkan oleh gemerisik pohon karet dan keheningan aliran sungai purba di kampung halamannya, Amar membawa luka keterasingan yang sunyi di dadanya. Di kantor ini ia hanyalah sekrup kecil tanpa silsilah priyayi birokrasi. Namun ketika menatap layar kaca yang berpendar temaram itu, ia merasakan panggilan ganjil—sebuah dunia di mana hierarki keningratan dan disposisi memo map kuning tak lagi berkuasa, melainkan ketepatan logika yang mutlak. Anehnya, setiap kali ia melangkah mendekati kotak itu, dengung kipasnya terasa berdenyut dalam irama yang ganjil, seolah menyelaraskan diri tepat dengan denyut nadi di pelipisnya.

❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Postulat di Papan Tulis dan Doktrin GIGO

Latar: Aula Pertemuan KTUA Bandar Lampung (Pertengahan April 1990) - Fokus Konflik: Kerapuhan moral data: kebenaran matematis vs ilusi laporan pejabat

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Guna mempersiapkan migrasi Laporan P6—Realisasi Anggaran Rutin—dan P7—Belanja Pembangunan—dari timbunan kartu kendali manual menuju era Arsip Data Komputer terpadu, kantor pusat mengutus delegasi Pusat Pengolahan Data dan Informasi Anggaran (PPDIA) Bandung. Di hadapan puluhan pegawai yang duduk dengan gelisah di aula berbau kapur barus, berdirilah Drs. Nungcik Munawar, M.Sc.

Pria itu berpostur ramping, mengenakan kemeja safari abu-abu berpotongan militer dengan kacamata berbingkai tanduk kura-kura yang membingkai sepasang mata elang yang dingin. Tanpa basa-basi pembuka khas protokoler pejabat, Pak Nungcik berbalik ke papan tulis hitam. Dengan sebatang kapur putih, ia menekan kuat-kuat hingga kapur itu patah berderak, menuliskan empat huruf kapital raksasa:

G — I — G — O.

Debu kapur berhamburan di udara aula yang pengap. Pak Nungcik meletakkan patahan kapur, lalu membalikkan tubuhnya menghadap para peserta. Tatapannya menusuk, berhenti tepat pada mata Amar yang duduk di baris terdepan.

"Ingat postulat abadi ini sampai kalian liang kubur," suara Pak Nungcik berat, tidak bergetar sedikit pun. "Garbage In, Garbage Out! Apa yang kau suapkan ke dalam rahim sistem ini, itulah yang akan dimuntahkannya keluar ke hadapan dunia. Komputer ini bukan dukun, bukan pula juru selamat. Ia adalah algojo logika yang patuh namun buta nurani. Bila kau masukkan sampah rekayasa angka, laporan yang kau sodorkan ke menteri adalah bangkai kebohongan. Tetapi jika kau masukkan kebenaran data yang presisi hingga rupiah terkecil, maka kebenaranlah yang akan memancar abadi."

Kata-kata itu menghantam rongga dada Amar seperti godam godam baja. Memorinya melompat ke masa silam di lumbung padi ayahnya di Lubai: sang ayah kerap menghabiskan waktu berjam-jam memilah butir gabah hampa dari bulir beras bernas sebelum membawanya ke penggilingan. 'Bila sekam kotor kau campur ke lesung, Nak, nasi yang kau suap ke anak-istrimu hanyalah racun kerikil,' bisik mendiang ayahnya dalam ingatan batinnya.

Namun ada getaran aneh yang tak terjelaskan dalam intonasi Pak Nungcik. Saat pria Bandung itu menjelaskan bagaimana sistem merekam setiap ketukan karakter ke dalam sektor magnetik, bibirnya tersenyum tipis—senyuman yang terasa terlalu sunyi, hampir dingin. Seolah-olah 'sistem' yang ia bicarakan bukan semata tumpukan transistor silikon, melainkan suatu jaring kasat mata yang sedang menakar kadar kejujuran jiwa setiap manusia yang duduk di ruangan itu.

❖ ❖ ❖


Bagian 03 : Katup Kesetiaan dan Dilema Simpang Manna

Latar: Ruang Kepala Bagian Umum & Stasiun Kerja Komputer (1991 – April 1992) - Fokus Konflik: Kenyamanan status struktural birokrasi versus panggilan jiwa integritas teknologi

Lihat selengkapnya