Autobiografi Amrullah Ibrahim

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Merajut Jaringan di Balai Keratun

Kanwil Ditjen Perbendaharaan & Balai Keratun Kantor Gubernur Lampung. Sejarah Birokrasi, Integritas Sunyi, dan Detik-Detik Penentu di Panggung Kehormatan (2005–2013)

"Bekerjalah di balik layar dengan kesempurnaan; biarkan hasil karya yang rapi berbicara di panggung kehormatan para pemimpin." — Dedikasi di Ruang Kendali Perbendaharaan

❖ ❖ ❖


Bagian 01: Kabut Angka di Pintu Kaca AKLAP

Desember 2005 – Februari 2006: Menatap Celah Neraca yang Berbisik (2005 - 2006 · Ruang AKLAP Kanwil VII DJPb Lampung, Teluk Betung)

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Hujan akhir Desember 2005 menampar jendela kaca lantai dua Kantor Wilayah VII Direktorat Jenderal Perbendaharaan Lampung dengan ritme yang ganjil—seperti detak jam dinding yang kehabisan daya, tetapi dipaksa terus berputar. Di luar, pepohonan Teluk Betung meliuk dibekap angin laut Selat Sunda yang membawa aroma garam dan aspal basah. Namun di dalam bilik Bidang Akuntansi dan Pelaporan Keuangan (AKLAP), udara terasa beku oleh bau kertas formulir yang terperangkap dalam kepungan pendingin udara sentral.

Amar menatap kursor hitam yang berkedip tanpa ampun di atas layar monitor tabung CRT 15 inci miliknya. Di samping siku kanannya, tumpukan berkas Sistem Akuntansi Pemerintah (SiAP) menggunung setinggi bahu. Sebagian berjelaga debu arsip, sebagian lagi masih berbau tinta segar dari pita printer dot-matrix Epson LQ-2180 yang tak henti-hentinya memekakkan telinga. Tanggal 30 Desember 2005 bukan sekadar tanggal di lembar SK mutasinya; itu adalah batas tipis antara masa lalu yang serba manual dan fajar reformasi birokrasi Kementerian Keuangan yang menuntut transparansi total tanpa ampun: penyusunan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) tahun anggaran 2005.

Di seberang mejanya, berdiri Drs. John Alimin Ardi, MBA. Pria berwibawa itu mengenakan kemeja safari kelabu yang disetrika licin, jemarinya yang kokoh mengetuk meja kayu jati lapuk. Kacamata berbingkai emasnya berkilat menangkap pendar putih lampu neon. 'Mar,' suara Pak John berat, mengalir tenang namun sarat bobot yang menenggelamkan keraguan. 'Pemerintah sedang meraba dalam gelap menuju sistem akrual. Peraturan Dirjen Nomor 66 Tahun 2005 ini bukan sekadar tumpukan pasal pedoman teknis. Ini adalah cermin. Apakah republik ini jujur pada kekayaannya sendiri, ataukah kita hanya pandai menyembunyikan bangkai piutang di bawah karpet anggaran?'

Amar menelan saliva yang terasa pahit di pangkal tenggorokannya. Ia tahu posisinya: seorang pemuda yang hanya berbekal sertifikat kursus akuntansi kilat dan kemahiran otodidak merakit perangkat lunak lembar sebar. Di sekelilingnya, pejabat-pejabat lulusan sekolah tinggi kedinasan berbicara dalam dialek akuntansi yang rumit—eliminasi akun timbal-balik, rekonsiliasi kas transito, hingga depresiasi aset tetap yang belum memiliki preseden jelas di daerah.

Malam itu, saat jarum jam menembus pukul dua dini hari di pertengahan Februari 2006, dilema pertama datang menyergap seperti racun senyap. Dalam tabel kompilasi Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dan Laporan Arus Kas (LAK), Amar menemukan selisih sebesar empat ratus dua puluh tujuh juta rupiah pada pos saldo aset antar-entitas. Selisih itu lenyap ditelan mutasi silang antar-satker yang tidak sinkron. Seorang rekan pemeriksa berbisik setengah mengantuk sambil menyesap kopi hitam dingin: 'Masukkan saja ke pos beban lain-lain yang belum teridentifikasi, Mar. Kantor pusat di Jakarta tidak akan sempat memverifikasi satu per satu transaksi satker di pedalaman Tulang Bawang. Yang penting malam ini neraca seimbang, kepala bidang bisa tanda tangan, dan kita bisa tidur.'

Jari-jemari Amar membeku di atas keyboard. Godaan itu begitu memikat—sebuah jalan keluar instan dari jeratan lelah yang mengoyak pelipisnya. Namun, di dalam rongga dadanya, terdengar gema suara masa kecil: bayangan almarhum ayahnya, seorang juru tulis desa bersahaja di udik Lampung yang selalu mencatat setiap karung gabah zakat dengan lilin remang. Ayahnya pernah berpesan: 'Tinta yang kau torehkan di atas kertas negara kelak akan ditimbang di timbangan akhirat. Bila kau bengkokkan satu noktah demi tidur nyenyakmu, selamanya hidupmu takkan pernah merasa kenyang.'

Dengan mata yang menyengat perih akibat radiasi layar cembung, Amar menggeleng pelan. Ia menolak jalan pintas. Selama empat jam berikutnya, di tengah lolongan anjing liar di luar gedung kanwil yang sepi, ia membongkar kembali bundel SP2D kuning lembar demi lembar, melacak jalur transmisi data SiAP, hingga menemukan akar perbedaan: sebuah entri ganda pada kode satker kantor pertanahan yang tertukar. Ketika angka-angka itu akhirnya luruh menjadi nol selisih pada pukul enam pagi, Pak Rhinaldy, S.E., M.Sc—sang suksesor yang baru memimpin bidang dengan mata elang analitisnya—berdiri di ambang pintu. Tatapan Pak Rhinaldy tidak lagi meremehkan sertifikat kursus yang menempel di map Amar. 'Siapkan pakaianmu, Amar. Berkas LKPP Lampung tahun ini terlalu berharga untuk sekadar dikirim lewat pos dinas. Kamu sendiri yang akan mengantarnya ke Lapangan Banteng, Jakarta.'

"Negara ini bertahan bukan karena pidato di mimbar, Amar. Negara bertahan karena lembar-lembar pembukuan yang tidak saling membohongi." — *Drs. John Alimin Ardi, MBA*

❖ ❖ ❖


Bagian 02: Mengukur Denyut di Braga dan Lorong Jaringan

Pertengahan 2006: Menatap Denyut Bit dan Kawat Tembaga STT Telkom (2006 · Dayeuhkolot & Hotel Aston Braga, Bandung – Kanwil DJPb Lampung)

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Bandung pada pertengahan tahun 2006 adalah kabut tebal yang memeluk jalanan berbatu di kawasan Braga. Menginap di Hotel Aston yang berselimut arsitektur art-deco, Amar sering kali berdiri di balkon kamarnya seusai subuh, menghirup aroma kopi panggang dan roti hangat yang terhembus dari dapur kedai-kedai tua. Namun jiwanya tidak berada di antara romantisme pesona kolonial itu. Pikirannya melayang puluhan kilometer ke selatan, menuju laboratorium berlantai beton dingin di Institut Teknologi Telkom (dahulu STT Telkom), Dayeuhkolot.

Di ruang lab yang dipenuhi dengung kipas menara pendingin dan bau sangit pasta silikon, ia dihadapkan pada dunia yang sepenuhnya berbeda. Di hadapannya, bukan lagi neraca debet-kredit yang anggun, melainkan kekejaman arsitektur Local Area Network, subnetting biner kelas C, routing table Cisco 2600, dan abstraksi virtual tunnel Astinet Telkom berbasis VPN IP MPLS. Di sinilah foreshadowing tajam menusuk kesadarannya: sang instruktur senior dengan rambut memutih mengetuk rak rackmount router dan berkata dingin, 'Dengar kalian semua. Kabel tembaga yang tertekuk atau IP mask yang terbalik satu digit bukan sekadar membuat lampu indikator menjadi merah. Bit yang tersesat di tengah transmisi paket bisa menghapus transfer dana operasional daerah terpencil tepat saat rakyat kelaparan. Kalian yang memegang kabel ini adalah penjaga denyut saraf negara.'

Sepulang dari tanah Priangan dengan sertifikat kompetensi jaringan di tangan, tidak ada karpet merah yang menyambut di Teluk Betung. Yang ada hanyalah status baru: Administrator Jaringan Kanwil DJPb Provinsi Lampung. Dan status itu menuntut pengorbanan fisik yang nyata.

Lihat selengkapnya