Retakan Cermin di Balik Toga Hitam. 2007 – 2010 · STMIK DCC Lampung & GSG Universitas Lampung, Bandar Lampung
❖ ❖ ❖
=== Bagian 01 : Bayang-bayang di Bawah Neon Berkedip ===
Ruang Arsip & Seksi Verifikasi, Kanwil Perbendaharaan Bandar Lampung — Maret 2007 — Pukul 15:45 WIB
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Hujan lebat di pengujung Maret itu mengubah atap seng Kantor Wilayah Perbendaharaan Bandar Lampung menjadi perkusi yang tak berkesudahan. Dari celah kisi-kisi ventilasi kayu tua yang mulai melengkung dimakan lembap, aroma tanah merah berbaur dengan uap kopi tubruk basi dan bau sangit toner mesin fotokopi yang bekerja tanpa jeda. Di sudut ruangan berlantai tegel abu-abu kusam, lampu neon Philips empat puluh watt berkedip dengan dengung dengap yang konstan, melemparkan bayang-bayang patah pada tumpukan ordner biru bertuliskan 'DIPA TA 2007'.
Amarullah Wanahi menatap monitor tabung CRT kelabu merk Samtron yang memancarkan pendar kehijauan pekat. Di usianya yang telah menginjak empat puluh tujuh tahun, garis-garis kecemasan telah memahat dahi dan sudut matanya lebih dalam daripada jurang-jurang kapur di tanah kelahirannya, Desa Baru Lubai. Ujung jari telunjuk kanannya yang kapalan tertahan di atas tombol Enter papan ketik bersuara keras. Di layar teks terminal berbasis Unix Xenix itu, serangkaian baris transaksi perbendaharaan menolak untuk seimbang. Selisih seratus delapan puluh lima juta rupiah menggantung seperti vonis gantung di udara pengap.
"Birokrasi ini tidak membutuhkan kesucian malaikat, Wanahi. Kita hanya butuh angka yang berjabat tangan sebelum buku anggaran ditutup Jumat petang," suara serak Pak Syamsul memecah konsentrasinya. Kepala Bagian Keuangan itu berdiri bersandar pada lemari besi arsip, menyelipkan sebatang kretek Dji Sam Soe ke bibirnya yang menghitam. Asap kelabu meliuk lambat, menyelimuti stempel kuningan Garuda Pancasila yang tergeletak dingin di atas meja jati.
Amarullah menarik napas panjang, dadanya terasa menyempit seperti terhimpit tumpukan berkas kas negara. "Pak Syamsul, tabel relasi akun belanja modal jalan kabupaten ini tidak memiliki surat perintah bayar yang absah dari dinas pekerjaan umum. Jika saya memaksa menimpa batasan integritas data pada tabel induk, itu sama saja kita melegalkan pengeluaran fiktif sebelum tender rampung. Skema basis data kita akan kehilangan konsistensi logisnya."
"Kau terlalu lama berkutat dengan debu pembukuan Belanda, Amar," potong Syamsul, mencondongkan badannya hingga hembusan aroma tembakau tajam menyapu pipi Amarullah. Tatapannya menancap dingin, tanpa kerlip keraguan. "Itu bukan uang hilang; itu alokasi percepatan infrastruktur lintas Sumatra yang anggarannya tertahan di pusat. Bupati sudah menelepon Kakanwil siang tadi. Semua orang paham, kecuali kau yang berpura-pura buta. Ubah saja kueri penyaringnya. Jadikan statusnya 'Belanja Tertangguh Bersyarat'. Dalam sepekan, dokumen fisiknya akan menyusul di meja kerjamu. Tanda tanganmu di lembar otorisasi sore ini adalah kunci agar ratusan buruh aspal di pesisir barat tidak mogok kerja besok pagi. Kau mau memikul beban sosial itu sendirian di pundak rentamu?"
Kata-kata itu menghunjam tepat ke ulu hati Amarullah. Tanggung jawab sosial? Ataukah itu sekadar kamuflase manis dari kejahatan administrasi yang telah dinormalisasi bertahun-tahun di balik dinding-dinding berbau kapur barus ini? Jantungnya berdegup tak beraturan, memukul rusuknya dengan ritme panik yang tak kasat mata.
❖ ❖ ❖
=== Bagian 02 : Retakan Pertama pada Cermin Wastafel ===
Kamar Mandi Belakang Kanwil & Meja Otorisasi DIPA — Maret 2007 — Pukul 16:30 WIB
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Amarullah bangkit dari kursinya yang berderit nyaring, membiarkan Syamsul berdiri menunggunya dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. Langkah kakinya gontai menuju lorong belakang kantor, tempat kamar mandi dinas yang lantainya selalu basah oleh rembesan pipa paralon tua. Di sana, di atas wastafel porselen putih bernoda karat kecokelatan, tergantung sebuah cermin persegi panjang dengan bingkai aluminium usang.
Namun cermin itu tidak utuh. Sebuah retakan diagonal bergerigi—seperti kilatan petir beku yang membelah kaca dari pojok kanan atas hingga ke dasar kiri—meremukkan pantulan ruangan di dalamnya. Amarullah mencuci mukanya dengan air ledeng yang dingin dan berbau kaporit. Ketika ia mengangkat wajahnya yang basah kuyup dan menatap ke depan, cermin itu membelah kepalanya menjadi dua sosok yang mengerikan.
Di belahan cermin sebelah kiri, ia melihat Amar muda dari Desa Baru Lubai—anak petani miskin yang pada tahun 1970-an berjalan kaki tanpa alas kaki melintasi hutan karet demi belajar menghitung di atas batu sabak. Anak yang dididik oleh ayahnya dengan petuah sederhana: 'Angka itu suci, Amar. Manusia bisa berbohong dengan lidahnya, tetapi dua ditambah dua tidak pernah bersekongkol untuk menjadi lima.' Wajah bocah itu memandangnya dengan tatapan nanar, penuh tuduhan.
Tetapi di belahan kaca sebelah kanan, retakan tajam itu merefleksikan sosok pegawai negeri golongan III/c yang lelah, berbaju safari abu-abu lusuh dengan pin Korpri kuning yang pudar. Sosok pria paruh baya yang terhimpit cicilan rumah dinas, biaya sekolah dua anaknya di Palembang, dan ketakutan purba akan dimutasi ke kantor cabang terpencil di pedalaman Way Kanan jika berani membangkang pada atasan.
"Hanya satu kueri," bisiknya dengan bibir gemetar pada belahan kaca yang retak. "Hanya satu baris penyesuaian agar sistem tidak menolak data ini. Demi kemaslahatan, bukan demi kantong pribadiku." Suaranya tercekat di tenggorokan, terdengar asing dan menjijikkan di telinganya sendiri. Cermin itu tidak menjawab; ia hanya terus menatapnya dengan pecahan bayangan yang tak lagi dapat disatukan.
Tepat pukul 16.20 WIB, jemari Amarullah kembali ke atas tuts Samtron. Dengan dingin yang merambat dari telapak tangannya hingga ke pembuluh darah di leher, ia mengetikkan perintah manipulasi pada berkas relasional DIPA-2007-REV-088. Pendar hijau monitor berkedip dua kali. Transaksi divalidasi. Stempel dibubuhkan. Tanda tangannya tertera di atas materai enam ribu rupiah. Pintu kompromi telah terbuka, dan di sudut jiwanya, sebuah denting kehancuran berbunyi nyaring, mematahkan sesuatu yang selama puluhan tahun ia jaga dengan darah dan kehormatan.
❖ ❖ ❖
=== Bagian 03 : Logika di Atas Aspal Menuju DCC ===