Autobiografi Amrullah Ibrahim

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Kilau Emas Satyalancana

[partImg:[0]]

KILAU EMAS SATYALANCANA DAN MUARA SYUKUR. Damainya Sang Air Bandar Lampung & Muara Enim, Sumatera · 2018 - Masa Kini

"Dan Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali." — Al-Qur'an Surah Al-Anbiya: 35

❖ ❖ ❖


Bagian 01 : Teras Senja dan Dinginnya Sepuhan Logam

Pancaran Emas di Atas Selempang Biru Putih. Latar: September 2018 · Bandar Lampung, Lampung

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Waktu terus bergulir laksana arus sungai purba yang pantang menoleh kembali ke hulu. Tiga dasawarsa lebih pengabdian Amarullah Wanahi di bilik-bilik sunyi Kementerian Keuangan Republik Indonesia diukir bukan dengan gemuruh puja-puji, melainkan ketulusan pekat yang sengaja dibungkam dari riak pamer. Angin senja di beranda rumahnya di kawasan perbukitan Bandar Lampung berembus membawa uap garam samar dari arah Teluk Lampung, berbaur dengan bebauan tanah humus yang baru saja diguyur air selang pekarangan. Namun, ketenangan sore itu menyimpan kerapuhan yang tak kasat mata—sebuah ritme yang terlalu tertib, seolah-olah semesta sedang menahan napasnya untuk sebuah ketetapan yang tak terelakkan.

Di atas meja bundar berbahan kayu trembesi berpelitur temaram, tergeletak dua lembar piagam berkertas tebal dengan lambang burung Garuda bersalut tinta emas. Piagam pertama tertanggal 10 Oktober 2011, ditandatangani oleh Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keppres Nomor 98/TK/TAHUN/2011, menyematkan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya XX Tahun dengan nomor urut 1417. Dan tepat di sebelahnya, piagam yang lebih baru tertanggal 24 September 2018 bertandatangan Joko Widodo melalui Keppres Nomor 110/TK/TAHUN/2018 bernomor urut 683, mendampingi sebuah kotak beludru merah yang terbuka. Di dalamnya, medali emas bersepuh murni itu terbaring di atas selempang pita sutra biru bergaris putih rangkap—sebuah mahkota simbolik atas tiga puluh tahun kesetiaan, kejujuran, kecakapan, dan kedisiplinan yang tak pernah sekalipun tercoreng oleh noda sanksi kepegawaian.

Amar mengangkat medali emas itu dengan ujung jemarinya yang mulai berkerut. Anehnya, logam itu terasa luar biasa dingin di kulitnya. Logam sepuhan itu tidak lekas menyerap kehangatan tubuhnya sebagaimana mestinya benda tembaga bersepuh emas, melainkan mempertahankan temperatur kaku yang asing. Ketika ia menatap pantulan wajahnya di permukaan medali bundar berukir padi dan kapas tersebut, ada jeda mikro—sebuah anomali sepersekian detik di mana bayangan matanya tampak tidak berkedip serempak dengan kelopak matanya sendiri. Amar mengerjap pelan, mengusap pelipis kanannya yang sejak pagi berdenyut halus laksana getaran kabel transmisi tegangan tinggi.

"Hanya kelelahan saraf masa pensiun," bisiknya lirih kepada desau angin. Suaranya tenggelam di antara dedaunan pohon mangga yang bergesek kaku. Amar memejamkan mata, membiarkan dadanya sesak oleh gelombang kenangan yang mendadak menyeruak laksana bendungan jebol, menyeret kesadarannya melintasi lorong waktu menuju tanah kelahirannya puluhan tahun silam.

❖ ❖ ❖


Bagian 02 : Kayu Merawan Jiwa Baru dan Air Sungai Sangarus

Jejak Retrospeksi: Luka Kaki Sembilan Kilometer. Latar: Dekade 1960-an – 1970-an · Desa Jiwa Baru, Muara Enim

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Dalam benak batinnya, aroma tanah Lampung seketika lenyap, tergantikan oleh bau getah damar dan kayu tembesu tua. Amar melihat kembali rumah panggung megah berpasak kayu merawan buatan Kakek Haji Hasan yang berdiri kokoh di Desa Jiwa Baru, tanah tumpah darah zuriyat Kurungan Lembak di pedalaman Muara Enim. Di pucuk pohon Ara raksasa di tepi rimba, kawanan burung punai liar bernyanyi dengan nada meliuk-liuk membelah kabut fajar. Betapa damainya pemandangan itu dari kejauhan, namun betapa kejamnya kenyataan hidup yang membungkus setiap jengkal tanahnya.

Amar teringat sepasang telapak kaki kecilnya yang melepuh, pecah-pecah berdarah karena berjalan kaki tanpa alas sejauh sembilan kilometer menembus kerikil tajam dan jalan tanah berlumpur menuju Stasiun Pagar Gunung. Ketika senja turun menyergap rimba Sumatera, lolongan anjing hutan dan bayang-bayang harimau loreng menjadi teman seperjalanan yang mencambuk denyut nadinya. Bila dahaga menyiksa kerongkongan, ia akan berlutut di tepi Sungai Sangarus, mencelupkan wajahnya ke dalam air yang sedingin pecahan es batu, meminum kepedihan hidup bersama lumut dan pasir kasar yang mengendap.

Di sungai itulah Amar kecil pertama kali belajar tentang kehampaan. Ketika air sungai menembus tulangnya hingga menggigil beku, ia kerap menatap langit yang kelabu sambil bertanya dalam hati: Mengapa kemiskinan harus begitu ngilu? Mengapa jalan seorang anak Jiwa Baru harus selalu bersimbah keringat dan air mata? Namun sungai itu tak pernah menjawab. Arusnya hanya terus mengalir menabrak bebatuan cadas tanpa pernah mengeluh, menelan segala bentuk duka tanpa meninggalkan riak keputusasaan.

Lalu datanglah hari ketika ia menamatkan pendidikan sekolah dasarnya. Di hadapan meja kayu jati kantor kepala sekolah, anak kurus itu berdiri menunduk dengan jemari menggenggam keliman celana pendeknya yang bertambal tiga. Ijazah kelulusannya yang berharga tertahan di dalam laci terkunci, ditahan hanya karena tunggakan uang seragam dan administrasi sebesar beberapa lembar rupiah lecek yang tak sanggup dibayar oleh keluarganya. 'Tanpa uang tebusan, ijazah ini tak akan pernah keluar, Amar,' kata suara berat sang guru waktu itu, memotong asa seorang bocah laksana belati mengiris daging. Di sudut laci itu, Amar melihat bayangan masa depannya terancam terkubur bahkan sebelum sempat bertunas.

❖ ❖ ❖


Bagian 03 : Percikan Api di Talang Rambang dan Modul Berjelaga

Lihat selengkapnya