Pada tahun 1998.
Di tengah perubahan zaman dan geliat teknologi yang mulai merambah kehidupan masyarakat, berdirilah sebuah perusahaan penyiaran swasta bernama CVTV (Central Volume Television) di Kota Deluxy. Didirikan oleh mantan wakil presiden berusia 43 tahun, Albert Bunjaku, stasiun televisi itu lahir dari ambisi sederhana: menghadirkan gambar bagi kota yang selama ini hanya mengenal suara.
Bagi masyarakat Deluxy, televisi bukan sekadar hiburan—ia adalah jendela baru menuju dunia. Warung-warung mulai ramai setiap malam. Televisi tabung menyala di sudut rumah, memantulkan cahaya kebiruan ke wajah-wajah yang terpukau. Kota itu berubah. Dan bersama perubahan itu, nama CVTV ikut tumbuh.
Namun waktu tak pernah memberi ruang untuk kejayaan yang abadi.
Tahun 2010, Albert Bunjaku meninggal dunia akibat penyakit jantung di usia 56 tahun. Kepergiannya meninggalkan kekosongan, bukan hanya di kursi kepemimpinan, tetapi juga dalam arah masa depan perusahaan. Tongkat estafet beralih kepada adiknya, Wilson—seorang pria yang lebih tenang, namun menyimpan ambisi yang tak kalah besar. Ia berjanji membawa CVTV melampaui bayang-bayang sang kakak.
Tiga tahun berselang, minat masyarakat untuk bergabung dengan CVTV meningkat pesat. Di antara ratusan pelamar, seorang pria bernama Randy—mantan pengusaha buah-buahan—berhasil lolos seleksi dan menjadi kameramen wartawan. Ia dipasangkan dengan Elisa, reporter muda yang penuh semangat. Bersama, mereka menjadi bagian dari wajah baru CVTV.
Namun kejayaan tak selalu berjalan lurus.