Pada pagi hari yang perlahan bergeser menuju siang, kantin perusahaan mulai dipadati oleh karyawan yang mengambil jeda dari pekerjaan mereka. Meja-meja yang sebelumnya kosong kini terisi oleh orang-orang dengan baki makanan di tangan. Suara sendok beradu dengan piring, mesin kopi yang mendesis, serta percakapan ringan tentang pekerjaan, keluarga, dan berita hari itu bercampur menjadi latar yang riuh namun terasa akrab.
Beberapa karyawan duduk berkelompok, membicarakan laporan yang belum selesai. Sebagian lainnya hanya menikmati waktu makan dengan santai, menatap layar ponsel atau bercanda dengan rekan kerja. Di dekat jendela, cahaya matahari siang mulai masuk, memantul di lantai keramik kantin.
Aroma makanan hangat menyebar di udara—nasi goreng, sup ayam, kopi hitam, dan roti panggang yang baru keluar dari pemanggang. Sesekali terdengar tawa kecil dari salah satu meja, menambah suasana yang terasa hidup.
Randy berdiri di dalam antrean dengan sabar, sesekali melirik ke arah dapur tempat para pegawai kantin menyiapkan pesanan. Ia memesan dua porsi makan siang lengkap dengan minuman dingin.
“Dua kebab ayam, satu es teh lemon, satu kopi dingin,” katanya kepada penjaga kantin.
Pegawai kantin itu mengangguk sambil mencatat pesanan di layar kecil di depannya.
Randy melirik jam tangannya sebentar. Hari itu terasa lebih sibuk dari biasanya, namun ia tahu Aleandra pasti masih tenggelam dalam pekerjaannya.
Sementara itu, Aleandra duduk di kursi gantung yang berada di sudut kantin. Kursi itu sebenarnya lebih cocok digunakan untuk bersantai daripada bekerja, tetapi sejak pertama kali menemukannya, Aleandra menjadikannya tempat favorit untuk berpikir.
Ia mengayunkannya perlahan.
Satu tangannya menopang dagu, sementara tangan lainnya memegang iPad.
Sejak seminggu terakhir, ia mencari lokasi untuk liputan berikutnya. Program “Kamu Takut” membutuhkan tempat yang tidak biasa—lokasi terbengkalai yang memiliki nilai sejarah, cerita misterius, dan cukup menarik untuk dijadikan eksplorasi.
Namun tidak semua tempat bisa dipilih begitu saja. Banyak bangunan kosong ternyata sudah pernah diliput media lain, atau terlalu berbahaya untuk dimasuki. Beberapa bahkan sudah dipagari pemerintah setempat.
Aleandra membuka berbagai situs.
Forum urban exploration.
Artikel lama.
Blog perjalanan yang hampir tak pernah diperbarui lagi.
Ia membaca satu demi satu, berharap menemukan sesuatu yang berbeda.
Beberapa artikel hanya membahas bangunan kosong yang sudah populer. Sebagian lainnya hanya berisi cerita yang terasa terlalu dilebih-lebihkan.
Namun hasilnya nihil.
“Fiuuh…” Ia bersandar di kursi gantung sambil memijat pelipisnya.
“Kenapa susah banget sih cari lokasi yang bener-bener beda?”
Ia menatap layar iPad dengan frustrasi.
Angin dari pendingin ruangan membuat ujung rambutnya bergerak sedikit. Kantin yang ramai itu tiba-tiba terasa seperti latar yang jauh dari pikirannya.
Lalu sebuah ide muncul di kepalanya.
Reddit.
Ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi itu. Jempolnya mulai menggulir layar perlahan, membaca berbagai unggahan.
Beberapa hanya foto bangunan tua biasa.
Yang lain hanyalah cerita yang terdengar dibuat-buat.
Ada yang mengaku melihat bayangan misterius di lorong sekolah kosong, ada pula yang mengunggah foto rumah tua yang katanya berhantu.
Aleandra mengerutkan dahi.
“Semua tempat ini sudah sering dibahas…” gumamnya.
Hingga tiba-tiba sebuah postingan membuatnya berhenti.
Akun bernama Mily_22 mengunggah foto tiga gadis yang berdiri di depan sebuah bangunan tua dengan pagar besi berkarat.
Caption-nya sangat singkat:
"Aku menunggu kalian juga datang kemari untuk jalan-jalan."
Alis Aleandra terangkat.
Caption itu terdengar aneh. Bukan seperti unggahan wisata biasa.
Ia memperbesar gambar itu.
Bangunannya tampak besar, dengan dinding batu tua yang sudah mulai retak dimakan waktu. Jendelanya tinggi dan gelap, seolah tidak pernah lagi menerima cahaya dari dalam.
Di belakang salah satu gadis, sebagian papan besi terlihat.
Huruf-hurufnya terkelupas.
Namun masih bisa terbaca sebagian.
“…Aven?”
Aleandra memperbesar lagi.
Hurufnya memang tidak sepenuhnya jelas, tetapi bentuknya cukup konsisten.
Seolah nama tempat itu pernah tertulis besar di sana, sebelum waktu dan cuaca menghapusnya sedikit demi sedikit.
Di saat yang sama, Randy datang membawa baki makanan.
“Ini dia,” katanya sambil meletakkan baki di meja.
“Kebab ayam dan es teh lemon. Dan tolong jangan bilang kamu nggak lapar lagi.”
Aleandra mengalihkan pandangan dari layar.
“Randy, aku tadi sudah bilang—”
“—setiap orang tetap butuh makan walau lagi fokus kerja,” potong Randy santai.
“Kamu dari tadi cuma minum kopi.”
Aleandra mendesah kecil.
“Iya, iya. Oke.”
Mereka duduk berhadapan.