Jam menunjukkan pukul 22.00 malam. Jalanan kota sudah mulai sepi. Deretan toko yang biasanya ramai kini sebagian besar telah menutup pintu dan mematikan lampunya. Hanya beberapa kendaraan yang masih melintas sesekali, meninggalkan suara mesin yang memudar di kejauhan. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang gelap, menciptakan suasana malam yang tenang.
Motor Randy melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di depan rumah Aleandra. Suara mesin yang sejak tadi menemani perjalanan mereka perlahan mereda ketika Randy mematikan kunci.
“Sudah sampai,” katanya sambil melepas sarung tangan.
Aleandra menghela napas lega. Ia melepas helmnya dan merapikan rambut yang sedikit berantakan karena angin malam.
“Terima kasih ya, Ran,” ucapnya.
Randy mengangguk ringan.
“Iya. Istirahat yang cukup. Besok kita berangkat pagi, jangan sampai kesiangan.”
Aleandra tersenyum tipis.
“Semoga besok lancar,” katanya pelan.
“Amin. Hati-hati masuk.”
Aleandra turun dari motor dan berdiri sejenak sebelum berjalan menuju pintu rumahnya. Malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia mengetuk pintu pelan.
“Assalamu’alaikum.”
Tidak lama kemudian pintu terbuka. Ibunya berdiri di sana dengan wajah yang sedikit khawatir, seolah sudah menunggu sejak tadi.
“Wa’alaikum salam. Nak, kok baru pulang? Sudah malam sekali,” katanya.
Aleandra masuk ke dalam rumah sambil melepas sepatu.
“Maaf, Bu. Tadi rapat persiapan liputan agak lama. Banyak yang harus dipastikan sebelum berangkat.”
Ia menggantung jaketnya di dekat pintu dan menarik napas panjang.
Ibunya memperhatikan wajah putrinya yang terlihat lelah.
“Kamu capek sekali kelihatannya.”
Aleandra tersenyum kecil.
“Lumayan, Bu. Tapi besok sudah berangkat, jadi semuanya harus benar-benar siap.”
Ibunya mendekat dan dengan lembut merapikan jilbab yang masih dikenakan Aleandra.
“Kerja itu penting, tapi kesehatan juga penting. Jangan sampai kamu terlalu memaksakan diri.”
“Iya, Bu,” jawab Aleandra lembut.
Setelah itu ia berjalan menuju kamar. Langkahnya terasa sedikit berat setelah hari yang panjang dan penuh persiapan.
Di dalam kamar, Aleandra duduk di tepi kasur dan menghela napas panjang.
“Hari ini benar-benar panjang…” gumamnya.
Ia berdiri lalu mengganti pakaian kerja dengan pakaian tidur yang lebih nyaman. Setelah itu ia mematikan lampu utama dan berbaring di kasur, berharap tubuhnya yang lelah segera terlelap.
Namun pikirannya tidak mau berhenti.
Bayangan kastil tua yang pernah ia lihat di foto arsip berita kembali muncul di benaknya. Dinding batu yang kusam, jendela-jendela kosong yang menghadap laut, dan papan karat bertuliskan Aven yang hampir tertutup lumut.
Pulau itu. Pulau Semut.
Tempat yang besok akan mereka datangi.
Beberapa menit berlalu. Ia masih belum benar-benar tertidur.
Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu kamar.
“Masuk, Bu,” kata Aleandra.
Ibunya masuk membawa segelas susu hangat dan sepiring nasi goreng sederhana.
“Makan dulu sebelum tidur,” katanya lembut.
Aleandra tersenyum.
“Terima kasih, Bu. Tadi memang belum sempat makan banyak.”
Ia duduk di kasur sambil mengambil piring itu. Aroma nasi goreng hangat langsung membuat perutnya terasa lapar.
Ibunya duduk sebentar di kursi dekat meja belajar.
“Besok kamu berangkat jauh ya?”
“Iya, Bu. Ke sebuah pulau kecil. Liputan khusus.”
Ibunya mengangguk pelan.
“Yang penting hati-hati.”
“Iya, Bu.”
Setelah memastikan putrinya makan, ibunya keluar dari kamar dan menutup pintu perlahan.
Aleandra makan perlahan. Hangatnya makanan dan susu membuat tubuhnya terasa sedikit lebih rileks.
Tak lama kemudian ia kembali berbaring.
Kali ini rasa kantuk mulai datang.