AVENDOR

Audhy R.H
Chapter #5

PULAU SEMUT

Siang itu tepat pukul 11.00, langit di atas laut tampak dipenuhi awan gelap ketika sebuah helikopter melintas menuju sebuah pulau terpencil yang jarang dikunjungi orang. Dari kejauhan, pulau itu hanya tampak seperti bayangan hijau yang samar di tengah lautan luas.

Baling-baling helikopter berputar keras, menembus angin yang tidak stabil. Suara mesin terdengar konstan, bercampur dengan hembusan angin yang sesekali mengguncang badan pesawat.

Di dalam kabin, Randy dan Aleandra duduk berhadapan dengan sabuk pengaman terpasang. Mereka mengenakan headset agar bisa berkomunikasi dengan pilot di tengah bisingnya suara baling-baling.

Aleandra memandang keluar melalui jendela kecil di samping kursinya. Awan tebal menggantung rendah, menutupi sebagian pandangan ke bawah. Laut yang seharusnya terlihat biru kini tampak gelap dan suram di bawah bayangan awan.

Ia mengerutkan kening.

Perasaan tidak nyaman perlahan muncul dalam pikirannya.

Helikopter tiba-tiba berguncang ringan ketika melewati arus angin yang tidak stabil.

Aleandra menahan napas sejenak dan menggenggam ujung kursinya.

Randy yang duduk di sampingnya memperhatikan ekspresi wajah Aleandra.

“Tenang saja,” katanya pelan.

Belum sempat Aleandra menjawab, suara pilot terdengar melalui headset mereka.

“Jangan khawatir. Ini hanya turbulensi kecil. Saya akan mengubah sedikit rute agar kita tidak melewati jalur cuaca buruk.”

Pilot itu bernama Pak Budi, seorang pria berpengalaman yang sudah bertahun-tahun menerbangkan helikopter untuk berbagai keperluan liputan dan ekspedisi.

Randy mengangguk.

“Baik, Pak,” jawabnya.

Aleandra menarik napas pelan lalu mencoba menenangkan diri. Ia membuka tas kecil di pangkuannya dan mengeluarkan iPad.

Di layar iPad itu terdapat berbagai catatan mengenai tujuan mereka: sebuah pulau yang pernah menjadi lokasi insiden misterius beberapa tahun lalu. Beberapa laporan menyebutkan adanya pencemaran udara yang aneh, sementara sebagian lainnya mengaitkan kejadian itu dengan fenomena yang tidak dapat dijelaskan.

Aleandra membaca kembali catatan-catatan tersebut, mencoba memastikan semua informasi yang mereka kumpulkan sudah lengkap.

Sementara itu Randy memeriksa peralatan kamera yang mereka bawa. Ia membuka tas perlahan, memastikan baterai cadangan, kartu memori, dan mikrofon semuanya dalam kondisi siap pakai.

“Kalau semua berjalan lancar, liputan ini bisa jadi tayangan yang menarik,” kata Randy.

Aleandra tersenyum tipis.

“Semoga saja.”

Beberapa menit kemudian, suara hujan mulai terdengar.

Awalnya hanya rintik kecil yang menempel di kaca jendela helikopter. Namun lama-kelamaan rintik itu berubah menjadi tetesan yang lebih deras.

Air hujan menghantam kaca dengan suara berirama.

Langit di luar semakin gelap.

Suasana di dalam kabin tiba-tiba terasa lebih sunyi. Tidak ada yang berbicara untuk beberapa saat. Hanya suara mesin helikopter dan hujan yang terdengar jelas.

Aleandra kembali memandang keluar jendela.

Butiran air mengalir di permukaan kaca, membuat pandangan ke luar menjadi kabur.

Waktu terasa berjalan lambat.

Setelah hampir satu jam perjalanan, perlahan-lahan hujan mulai mereda. Awan di langit juga mulai terbuka, memperlihatkan cahaya matahari yang samar.

Suara Pak Budi kembali terdengar melalui interkom.

“Cuaca sudah mulai membaik. Kita akan segera mendarat.”

Randy dan Aleandra saling berpandangan.

Tak lama kemudian helikopter mulai menurun. Dari jendela, mereka melihat sebuah landasan kecil di tengah pulau.

Landasan itu tampak seperti bagian dari sebuah bandara lama.

Namun sesuatu terlihat aneh.

Tidak ada pesawat lain.

Tidak ada kendaraan.

Tidak ada orang.

Helikopter perlahan mendarat dengan suara mesin yang semakin pelan.

Ketika pintu kabin dibuka, angin laut langsung menyapu wajah mereka.

Randy turun lebih dulu sambil membawa tas kamera. Aleandra menyusul di belakangnya dengan membawa koper kecil berisi perlengkapan.

Pak Budi menoleh dari kursinya.

“Saya hanya menurunkan kalian di sini. Penjemputan nanti sesuai jadwal yang sudah disepakati.”

“Baik, Pak. Terima kasih,” jawab Randy.

Helikopter itu kembali mengangkat badan dari tanah beberapa menit kemudian. Baling-balingnya berputar cepat, menciptakan hembusan angin yang kuat di sekitar landasan.

Aleandra menatap helikopter itu saat perlahan menjauh dari mereka.

Suara mesinnya semakin kecil.

Semakin jauh.

Hingga akhirnya menghilang di balik awan.

Dan tiba-tiba…

Lihat selengkapnya