AVENDOR

Audhy R.H
Chapter #6

MENUJU WAKTU MALAM HARI

Setibanya mereka di kota itu, Randy dan Aleandra mulai berjalan perlahan menyusuri jalanan yang dipenuhi debu dan daun kering. Setiap langkah kaki mereka menimbulkan suara gesekan halus di atas aspal yang sudah retak. Di beberapa tempat bahkan rumput liar tumbuh menembus celah-celah jalan, seolah alam perlahan merebut kembali kota yang telah lama ditinggalkan.

Area perkotaan itu tampak begitu sunyi.

Gedung-gedung tinggi berdiri kaku seperti saksi bisu waktu yang telah lama berlalu. Cat pada dindingnya sudah mengelupas, dan lumut hijau pekat merambat dari bawah hingga ke jendela-jendela pecah di lantai atas.

Beberapa papan reklame tua masih tergantung miring di sisi bangunan. Huruf-hurufnya hampir tidak terbaca karena dimakan usia.

Tidak ada suara kendaraan.

Tidak ada manusia.

Hanya hembusan angin yang sesekali melewati lorong-lorong kosong di antara bangunan, membawa debu dan serpihan kertas yang beterbangan di jalanan.

Perasaan aneh mulai menyelimuti mereka berdua.

Rasanya seperti berjalan di sebuah kota yang sudah lama mati.

Aleandra berhenti sejenak. Ia menghela napas panjang sebelum mengeluarkan kameranya dari dalam tas. Dengan hati-hati ia menyalakan kamera itu, lalu mulai merekam keadaan sekitar sambil berjalan perlahan.

“Halo guys… hari ini aku berada di sebuah kota yang benar-benar terasa seperti kota hantu,” ucap Aleandra dengan suara pelan namun tetap jelas terdengar di kamera.

Ia mengarahkan kamera ke arah deretan gedung yang dipenuhi lumut.

“Seperti yang kalian lihat… hampir semua bangunan di sini sudah rusak dan ditumbuhi lumut. Tempat ini terlihat seperti sudah ditinggalkan selama bertahun-tahun.”

Aleandra berhenti sejenak dan memutar tubuhnya perlahan, memperlihatkan keadaan jalan yang kosong.

“Jujur saja… suasananya cukup menyeramkan.”

Di belakangnya, Randy berjalan sambil memperhatikan setiap sudut jalan dengan waspada. Sesekali ia ikut muncul di kamera Aleandra.

“Kami masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi di kota ini,” kata Randy sambil menatap sekeliling. “Tapi dari kondisi bangunannya… jelas tempat ini sudah lama tidak dihuni.”

Ia menunjuk sebuah mobil tua yang terparkir di pinggir jalan. Kacanya sudah pecah, dan sebagian bodinya berkarat.

“Mobil ini saja sepertinya sudah bertahun-tahun tidak bergerak.”

Setelah beberapa waktu merekam, matahari mulai turun perlahan menuju ufuk barat.

Langit yang sebelumnya biru kini berubah menjadi jingga kemerahan.

Cahaya matahari senja menyinari jalanan kosong itu, membuat bayangan gedung-gedung tampak semakin panjang dan menambah kesan menyeramkan.

Kelelahan mulai terasa.

Langkah Aleandra semakin lambat.

“Aku… sudah capek banget,” ucapnya terengah-engah sambil berhenti berjalan.

Ia duduk di pinggir jalan dan membuka tasnya. Aleandra mengeluarkan botol air minum lalu melihat isinya.

Hampir habis.

“Yah… tinggal sedikit,” gumamnya pelan.

Ia membuka tutup botol itu lalu meminum airnya perlahan, mencoba menghemat setiap tegukan.

“Arghh… ini sudah cukup,” katanya sambil menutup botol kembali.

Randy juga meminum air dari botolnya lalu menutupnya dengan rapat.

“Aleandra, kita harus tetap berjalan,” katanya dengan nada serius. “Hari mulai gelap dan kita belum menemukan tempat untuk bermalam.”

Aleandra menoleh ke kanan dan ke kiri.

Di sepanjang jalan hanya terlihat mobil-mobil tua yang terparkir tidak beraturan. Sebagian sudah berkarat dan tertutup debu tebal.

Beberapa kios kecil tampak berjajar di sisi jalan, namun semuanya tertutup rapat dan terlihat tidak berpenghuni.

“Aku benar-benar sudah tidak kuat berjalan,” keluh Aleandra. “Kakiku terasa berat.”

Randy melihat jam di pergelangan tangannya.

17:27.

Langit mulai berubah gelap.

“Kamu harus memaksakan diri,” kata Randy.

Aleandra menghela napas panjang.

“Baiklah…”

Ia mencoba berdiri lagi meskipun tubuhnya masih terasa lelah.

Tiba-tiba Aleandra teringat sesuatu.

“Randy… tadi aku melihat ada kios di sekitar sini,” katanya. “Bagaimana kalau kita bermalam di sana saja?”

Randy menatap langit yang semakin redup.

“Sepertinya itu pilihan terbaik,” jawabnya. “Aku juga mulai khawatir kalau malam nanti ada binatang liar.”

Mereka segera berjalan menuju kios yang Aleandra lihat sebelumnya.

Bangunan itu kecil dan sederhana, namun masih terlihat cukup kokoh. Pintu kayunya setengah terbuka dan berderit ketika Randy mendorongnya perlahan.

Mereka masuk dengan hati-hati.

Lihat selengkapnya