Suara mengerikan itu membuat Aleandra dan Randy berlari keluar dari tempat yang mereka jadikan penginapan. Pintu kayu bangunan tua itu terbuka dengan bunyi berderit panjang, seolah menolak kepergian mereka. Begitu mereka keluar, hujan deras langsung mengguyur tubuh mereka tanpa ampun. Air dingin mengalir di wajah, rambut, hingga pakaian yang segera basah kuyup.
Langit malam terlihat begitu kelam. Awan tebal menutupi bulan, membuat kota tua itu tenggelam dalam bayangan gelap. Sesekali kilatan petir menyambar di kejauhan, menerangi bangunan-bangunan kosong yang berdiri seperti kerangka raksasa yang membusuk oleh waktu.
Aleandra berusaha menenangkan dirinya, namun tubuhnya gemetar hebat. Nafasnya tersengal-sengal. Matanya masih menatap ke arah pintu bangunan yang baru saja mereka tinggalkan, seakan takut sesuatu akan keluar dari sana.
Sementara temannya, Randy, menarik tangan Aleandra yang hanya berdiri terpaku tanpa berbuat apa-apa.
“Hey.”
Randy memegang pipi sebelah kanan Aleandra dengan telapak tangannya yang dingin karena hujan, memaksanya menatap lurus ke arahnya agar Aleandra tidak kehilangan kesadarannya.
Aleandra akhirnya menatap Randy. Di matanya terlihat ketakutan yang belum pernah Randy lihat sebelumnya.
“Malam ini kita harus meninggalkan tempat ini,” ucap Randy dengan suara rendah namun tegas. “Kita cari bangunan lain yang lebih aman. Aku rasa… di balik pintu sana ada sesuatu yang mengerikan.”
Randy menoleh sekilas ke arah bangunan tadi. Pintu yang mereka tinggalkan kini tertutup kembali, padahal tidak ada siapa pun di sana.
“Dan pintu itu tidak akan mampu menahan pukulan keras dari… frrrff…”
Randy tiba-tiba terdiam. Suara aneh itu seolah masih terngiang di telinganya. Suara seperti sesuatu yang menggeram, bercampur dengan suara gesekan benda keras pada kayu.
Ia melepaskan tangannya dari pipi Aleandra dan mengusap wajahnya sendiri yang dipenuhi air hujan.
“Haah… entahlah. Pokoknya kita harus pergi,” ucap Randy dengan cemas.
Aleandra menundukkan kepalanya. Hujan terus turun tanpa henti, membasahi wajahnya yang pucat.
“Jika malam ini adalah sebuah ajal,” ucap Aleandra dengan suara lirih, “maka aku sudah siap.”
Seketika Randy memegang kedua lengan Aleandra dengan keras.
“Apa?”
Suaranya meninggi.
“Dengarkan aku. Itu mungkin terdengar benar,” ucap Randy sambil menundukkan kepalanya sebentar.
Hujan memukul punggungnya seperti ribuan jarum kecil.
Randy mengangkat wajahnya kembali dan menatap Aleandra dengan mata penuh emosi.
“Tapi itu bukan alasan!” katanya dengan keras. “Kalau kamu menyerah begitu saja seolah-olah tidak bisa berbuat apa-apa… itu bodoh… bodoh… bodoh!”
Aleandra terdiam.
“Inilah yang tidak terlihat seperti dirimu yang aku kenal. Kamu selalu kuat. Kamu selalu yang paling rasional di antara kita. Jadi jangan menyerah seperti ini!” lanjut Randy.
Ia menarik napas dalam.
“Dan lagi… bukan cuma kamu yang akan merasakan itu nanti.”
Di tengah hujan yang semakin deras, sebuah pandangan diam-diam tertuju pada mereka berdua dari suatu tempat di kegelapan. Sesuatu berdiri di balik bangunan yang runtuh, memperhatikan mereka tanpa bergerak.
Aleandra terlihat terisak-isak. Bahunya bergetar. Rambutnya yang basah menempel di wajahnya.
“Hiks… hiks… huufkh…” suaranya terpotong oleh tangisan.
Randy hanya berdiri di depannya, bingung harus berkata apa lagi.
Tiba-tiba Aleandra mengangkat kepalanya.
“Kamu… kamu yang bodoh!” teriaknya.
Tanpa sadar, emosi Randy meledak.
Tangannya bergerak cepat.
PLAK!
Suara tamparan itu terdengar keras bahkan di tengah derasnya hujan.
Aleandra terhuyung sedikit. Ia memegang pipinya yang memerah.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan.
“Haakhh… haaakh…” Aleandra terengah-engah. “Oke… sikapmu sudah keterlaluan.”
Ia menatap Randy dengan mata penuh kemarahan.
“Urusan mati itu urusanku!”
Randy tiba-tiba menyadari apa yang baru saja ia lakukan.
Ia menatap telapak tangannya sendiri. Air hujan menetes dari ujung jarinya.
Seolah-olah tangan itu baru saja melakukan sesuatu yang tidak bisa ia tarik kembali.
“Aleandra… maafkan aku,” ucapnya pelan.
Randy mencoba meraih tangan Aleandra.
Namun Aleandra menepisnya dengan kasar.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Aleandra berbalik dan berlari menjauh menembus hujan.
“Aleandra!!” teriak Randy.
Namun Aleandra tidak berhenti.
Sosoknya semakin jauh hingga akhirnya tertelan oleh gelapnya jalan kota yang sepi.
Randy kini berdiri sendirian di tengah hujan yang masih turun deras.
Angin malam berhembus dingin melalui lorong-lorong bangunan kosong.