Pukul 22.00 malam.
Randy terbaring dalam kegelapan yang nyaris sempurna. Ia tidak tahu di mana dirinya berada. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada angin, bahkan tidak ada bunyi serangga. Hanya kesunyian yang begitu pekat, seolah-olah dunia di sekelilingnya telah berhenti bernapas.
Beberapa detik ia hanya terbaring tanpa bergerak.
Tiba-tiba, sebuah suara terdengar.
Pelan.
Serak.
Seperti datang dari tempat yang sangat jauh.
“Randy...”
Tubuh Randy tersentak.
“Randy...”
Suara itu jelas suara seorang wanita. Lembut, namun memiliki gema aneh yang membuat bulu kuduknya meremang.
Kedua mata Randy perlahan terbuka. Yang ia lihat hanya gelap. Pekat. Seperti berada di ruang kosong tanpa batas.
Ia mencoba menggerakkan tangannya, tetapi tubuhnya terasa sangat berat. Seolah-olah ada sesuatu yang menekan seluruh badannya dari atas.
Dadanya sesak.
Napasnya terasa pendek.
Dengan susah payah Randy mencoba mengumpulkan tenaga. Ia menggerakkan jari-jarinya terlebih dahulu, lalu mencoba mengangkat kepalanya.
Namun rasa lemas masih menyelimuti tubuhnya.
“Randy...”
Suara itu kembali memanggil.
Kali ini terdengar lebih dekat.
Anehya, bersama suara itu muncul perasaan hangat yang samar. Seperti seseorang yang sedang mencoba menenangkannya.
Perlahan-lahan Randy berhasil duduk.
Napasnya masih terengah-engah. Pandangannya buram, seolah-olah kabut tipis menutupi matanya.
Ia mencoba memandang sekeliling.
Di kejauhan, ia melihat sebuah sosok.
Seseorang sedang berdiri membelakanginya.
Siluet tubuh itu tampak seperti seorang wanita.
Rambutnya panjang terurai hingga punggung.
Randy menyipitkan mata, mencoba memastikan apa yang ia lihat.
“Aleandra...?” gumamnya dengan suara serak.
Sosok itu tidak bergerak.
Randy menelan ludah.
“Aleandra, apakah itu kamu?” tanyanya lagi, sedikit lebih keras.
Tetap tidak ada jawaban.
Hanya keheningan.
Angin dingin tiba-tiba berhembus pelan di sekitar Randy, membawa bau lembap seperti tanah yang lama tidak tersentuh matahari.
Randy merasa dadanya semakin tidak nyaman.
Namun sosok wanita itu masih berdiri di sana.
Diam.
Tidak bergerak.
“Aaa... Aleandra, kenapa kamu hanya berdiri di sana?” kata Randy mencoba terdengar biasa. “Ayo, kita kembali.”
Beberapa detik berlalu.
Lalu sosok itu akhirnya bergerak.
Namun gerakannya terasa aneh.
Sangat lambat.
Kaku.
Seperti seseorang yang tidak sepenuhnya mengendalikan tubuhnya sendiri.
Randy memperhatikannya dengan perasaan tidak enak.
Cara berjalan itu...
Tidak seperti Aleandra biasanya.
“Aleandra... tunggu!” teriak Randy sambil berusaha berdiri.
Kakinya terasa lemah, tetapi ia memaksakan diri untuk berjalan.
Langkah Randy tertatih-tatih saat ia mengikuti sosok itu dari belakang.
Tanah di bawah kakinya terasa dingin dan basah.
Suasana di sekelilingnya masih gelap. Ia bahkan tidak bisa melihat batas tempat itu.
Yang ada hanya dirinya... dan wanita yang berjalan di depan.
Randy mempercepat langkahnya.
Kini jaraknya hanya beberapa meter.
Ia bisa melihat rambut panjang Aleandra yang bergerak pelan tertiup angin.
Namun ada sesuatu yang aneh.
Aleandra tidak pernah menoleh.
Tidak sekali pun.
Seolah-olah ia bahkan tidak menyadari bahwa Randy berada di belakangnya.
“Aleandra...” panggil Randy lagi, kali ini lebih pelan.
Tiba-tiba...
Aleandra berhenti berjalan.
Langkah Randy juga ikut terhenti.
Kesunyian kembali menyelimuti tempat itu.
Randy berdiri tepat di belakangnya.
“Aleandra,” katanya pelan, penuh kekhawatiran.
Namun wanita itu tetap tidak merespons.
Tidak ada gerakan.
Tidak ada suara.