AVENDOR

Audhy R.H
Chapter #9

RUMAH SEDERHANA

Hujan turun perlahan pada malam itu. Butiran air jatuh memantul di atas trotoar yang basah, memantulkan cahaya lampu jalan yang redup. Jalanan kota hampir kosong. Hanya suara angin dan gemericik hujan yang terdengar di antara bangunan-bangunan yang sunyi.

Di tengah trotoar yang lengang itu, seorang pria tergeletak dengan tubuh lemah. Jaket biru navy yang dikenakannya tampak basah oleh hujan. Tas selempang yang biasanya dibawa seorang reporter masih tergantung di bahunya.

Pria itu adalah Randy.

Langkah kaki berat terdengar dari kejauhan. Seorang pria tua berjalan menyusuri trotoar sambil mengenakan jas hujan panjang. Di tangannya ada senter kecil yang sesekali ia arahkan ke jalanan di depannya.

Namanya Pak Broto.

Cahaya senter tiba-tiba berhenti pada sebuah tubuh yang tergeletak.

Pak Broto mendekat dengan langkah cepat.

“Hey… hey… Nak… bangun…” ucapnya sambil berjongkok di samping Randy.

Ia menggoyangkan bahu Randy dengan hati-hati. Namun Randy tidak merespons. Wajahnya pucat dan napasnya terdengar berat, seperti seseorang yang sudah berjalan sangat jauh tanpa istirahat.

Pak Broto mengamati pakaian yang dikenakan Randy. Seragam reporter. Basah oleh hujan dan kotor oleh debu jalanan.

“Anak ini bisa mati kalau dibiarkan di sini,” gumam Pak Broto pelan.

Tanpa berpikir lama, ia mengangkat tubuh Randy yang lemas ke bahunya. Walau usianya tidak lagi muda, tenaga Pak Broto masih cukup kuat. Ia membawa Randy menyusuri trotoar menuju rumah kecilnya yang tidak jauh dari sana.

Sepanjang perjalanan, suara hujan semakin deras. Lampu-lampu jalan yang redup membuat bayangan Pak Broto dan Randy memanjang di atas aspal yang basah.

Sesekali Pak Broto berhenti sejenak untuk mengatur napasnya. Usianya memang tidak lagi muda, tetapi rasa kemanusiaannya lebih kuat daripada rasa lelahnya.

Beberapa menit kemudian mereka tiba di sebuah rumah sederhana di ujung jalan. Lampu terasnya redup, menerangi dinding kayu yang sudah tua.

Rumah itu tampak sepi, seperti jarang dikunjungi orang.

Pak Broto membuka pintu dengan cepat lalu membawa Randy masuk.

Ia membaringkan Randy di atas sofa empuk yang berada di ruang tengah.

Pak Broto melepas jaket basah yang dikenakan Randy dengan hati-hati. Seragam reporter itu digantinya dengan pakaian rumah yang lebih hangat. Setelah itu ia menutupi tubuh Randy dengan selimut tebal.

Pak Broto berdiri di samping sofa sambil memperhatikan napas Randy.

“Tenang saja… istirahatlah,” gumamnya.

Beberapa saat rumah itu kembali sunyi. Hanya suara hujan yang terdengar dari luar jendela.

Angin malam membuat kaca jendela bergetar pelan.

Namun tiba-tiba—

Kriet...

Pak Broto mengerutkan kening.

Seperti ada suara langkah kaki di luar rumah.

Ia menahan napas.

Lalu terdengar lagi sesuatu.

Isak tangis.

Tangisan seorang wanita.

Suara itu pelan, seperti seseorang yang berusaha menahan kesedihannya di tengah malam.

Pak Broto langsung berdiri tegak. Wajahnya berubah waspada.

Ia berjalan menuju lemari kayu di sudut ruangan lalu membukanya perlahan. Dari dalam lemari itu ia mengambil sebuah shotgun tua yang masih terawat dengan baik. Di tangan satunya ia meraih senter.

Dengan hati-hati ia mengisi senjata itu.

Klik.

Suara kecil itu terdengar jelas di dalam rumah yang sunyi.

Pak Broto berjalan perlahan menuju pintu depan.

Tangisan itu terdengar lagi.

Kali ini lebih jelas.

Seolah orang itu berada sangat dekat dengan rumahnya.

Pak Broto membuka pintu sedikit saja, cukup untuk mengintip ke luar.

Cahaya senter diarahkan ke trotoar yang basah.

Sepi.

Tidak ada siapa pun.

Angin malam berhembus membawa suara hujan yang semakin deras.

Pak Broto membuka pintu sedikit lebih lebar.

Ia menoleh ke kiri.

Kosong.

Lalu ke kanan.

Tiba-tiba tangisan itu terdengar lagi.

Pak Broto refleks memutar tubuhnya. Shotgun langsung terangkat ke arah suara sambil senter menyorot lurus ke depan.

Lihat selengkapnya