Hari yang begitu melelahkan akhirnya mereka lalui. Malam sebelumnya terasa panjang dan mencekam. Hujan turun deras sejak tengah malam, seolah tidak memberi kesempatan bagi pulau itu untuk bernapas. Gemuruh petir sesekali menggetarkan jendela rumah tua tempat mereka bermalam, sementara suara angin berdesir di antara pepohonan liar yang tumbuh di sekitar bangunan.
Namun, bagi Randy dan Aleandra, malam itu bukan hanya sekadar tentang hujan dan petir. Ada sesuatu yang jauh lebih berat yang mereka bawa ke dalam tidur mereka.
Randy, dengan sifat temperamentalnya, sempat mencoba meminta maaf kepada Aleandra. Ia berusaha memperbaiki kesalahan yang telah ia lakukan sebelumnya. Namun kata-kata maaf itu terasa terlambat. Aleandra sudah terlalu terluka oleh ucapan keras dan ayunan tangan Randy yang menampar wajahnya malam itu.
Sejak kejadian itu, Aleandra menjadi jauh lebih dingin. Tatapannya tidak lagi sama seperti sebelumnya. Ia menjawab seperlunya saja, bahkan sering memilih diam.
Hubungan yang sebelumnya dipenuhi canda kini terasa kaku dan penuh jarak. Jika sikap buruk itu terus mereka pertahankan, bukan tidak mungkin sesuatu yang lebih buruk akan terjadi di antara mereka berdua.
Malam yang panjang itu akhirnya berakhir. Tanpa mereka sadari, kelelahan telah menidurkan keduanya.
Pagi datang perlahan di Pulau semut—pulau yang masih menyimpan banyak misteri.
Cahaya matahari mulai menembus celah-celah tirai tipis rumah tua itu. Sinar kuning lembut jatuh di lantai kayu yang sudah mulai lapuk dimakan usia.
Di tempat itu pula tinggal seorang pria tua bernama Pak Broto.
Pria berusia lima puluh empat tahun itu adalah pemilik seorang pria sebatang kara tinggal disalah satu rumah peninggalan beberapa dulunya masih ada disebut keluarga yang berada di salah satu kota tua di Runai. Tidak banyak yang diketahui tentang kehidupannya. Penduduk sekitar bahkan jarang membicarakannya.
Tidak ada yang tahu pasti di mana keluarganya berada.
Beberapa orang mengatakan keluarganya pernah tinggal di pulau ini, tetapi sejak kekacauan yang melanda wilayah tersebut bertahun-tahun lalu, keberadaan mereka tidak pernah terdengar lagi.
Pukul 05.00 pagi.
Pak Broto sudah terbangun sejak lama.
Dengan langkah pelan agar tidak membangunkan tamunya, ia berjalan menuju meja di ruang tamu. Di atas meja itu terdapat sebuah piring kecil yang semalam digunakan untuk menaruh lilin.
Lilin itu kini sudah padam, hanya menyisakan sumbu hitam yang mengeras.
Pak Broto mengambil piring itu perlahan.
Namun langkahnya tiba-tiba berhenti.
Tangannya masih memegang piring kecil tersebut, sementara pandangannya perlahan beralih ke arah Randy yang masih tertidur pulas di sofa panjang ruang tamu.
Randy tidur dengan posisi tidak teratur. Napasnya berat, dan sesekali terdengar suara dengkuran kecil keluar dari mulutnya.
Pak Broto hanya memperhatikannya sejenak, lalu menghela napas pelan sebelum melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Sementara itu, di kamar kecil di sebelah ruang tamu, Aleandra sudah terbangun lebih dulu.
Ia duduk di tepi kasur dengan mata yang masih sedikit berat. Setelah beberapa saat mengumpulkan kesadaran, ia berniat untuk melaksanakan ibadah subuh.
Namun niat itu tertahan.
Aleandra mencoba membuka keran air di kamar mandi tersebut.
Tidak ada air yang keluar.
Ia memutar keran itu sekali lagi, berharap hanya tersumbat sesaat.
Tetapi tetap saja tidak ada air yang mengalir.
Aleandra mengerutkan kening.
“Kalau seperti ini… bau badan, bagaimana mau ibadah,” gumamnya pelan dengan nada kesal.
Ia kembali duduk sebentar di tepi kasur, berpikir.