Pak Broto berdiri di luar rumahnya, tepatnya di dalam gudang tua yang terletak di samping bangunan utama. Udara pagi terasa dingin dan lembap, sisa hujan semalam masih menyisakan bau tanah basah yang menusuk hidung. Gudang itu gelap, hanya diterangi cahaya redup dari senter kecil yang ia pegang. Bayangan-bayangan dari barang-barang lama tampak seperti siluet aneh yang bergerak pelan setiap kali tangannya bergeser.
Ia sedang mencari jirigen yang masih berisi bahan bakar. Tangannya menyibak tumpukan kardus, kaleng tua, dan peralatan rusak yang sudah lama tak terpakai. Sesekali terdengar bunyi gesekan logam atau kayu yang membuat suasana semakin sunyi dan mencekam.
“Nah… ini dia,” gumamnya pelan.
Ia menarik sebuah jirigen berwarna kusam dari balik tumpukan. Wajahnya sempat menunjukkan sedikit kelegaan.
“Dapat,” ucap Pak Broto dengan nada lega.
Namun, saat ia menggoyangkan jirigen itu, ekspresinya perlahan berubah. Suara cairan di dalamnya terdengar sangat sedikit. Ia membuka tutupnya, mengintip ke dalam.
Alisnya mengerut.
“Ini tidak akan cukup…” ucapnya pelan, kali ini dengan nada kecewa yang jelas terdengar.
Ia menghela napas panjang, lalu tetap mengangkat jirigen itu. Meski hanya setengah terisi, itu satu-satunya yang bisa ia gunakan saat ini. Tanpa banyak pilihan, ia melangkah keluar dari gudang.
Langkah kaki Pak Broto terdengar menggema pelan saat ia berjalan memasuki rumah. Lantai kayu yang sedikit lapuk mengeluarkan bunyi berderit setiap kali diinjak. Suara itu terdengar aneh di tengah kesunyian pagi yang belum sepenuhnya hidup.
Ia menuju ke arah belakang rumah, tempat genset berada. Dengan hati-hati, ia menuangkan bahan bakar itu ke dalam tangki genset. Tetes demi tetes bensin jatuh, seakan menegaskan bahwa waktu mereka terbatas.
Setelah selesai, ia menutup tangki dan menyalakan genset. Mesin itu sempat tersendat, lalu akhirnya menyala dengan suara kasar yang memecah keheningan.
Lampu-lampu rumah perlahan hidup, meski cahayanya tidak terlalu terang.
Jam menunjukkan pukul 07.00.
Randy terbangun perlahan. Tubuhnya terasa berat, seperti habis melewati malam yang panjang dan melelahkan. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya di ruangan.
Saat kesadarannya mulai pulih, ia menyadari sesuatu yang aneh.
Pakaiannya sudah berganti.
Ia langsung duduk, sedikit panik, lalu melihat ke depan.
Aleandra duduk di hadapannya.
“Hoaam…” Randy menguap sambil mengusap wajahnya.
Aleandra menatapnya dengan tenang, meski ada kelelahan yang tersirat di matanya.
“Malam yang melelahkan, sepertinya?” ucap Aleandra.
Randy terdiam sesaat. Ia seperti tidak percaya melihat Aleandra di hadapannya.
“Aleandra?” ucapnya dengan nada terkejut.
Ia menutup matanya sejenak, lalu tersenyum tipis. Ada rasa lega yang muncul, seolah kehadiran Aleandra adalah sesuatu yang ia butuhkan setelah semua yang terjadi.
“Hufft… aku mau mengatakan sesuatu,” ucap Randy, terdengar sedikit gugup.
Aleandra tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Randy, menunggu dengan sabar.
“Itu… adalah kelakuan yang keras untuk diterima olehmu… jadi bagaimana kalau kita… ee…” kata Randy terbata-bata.
Aleandra masih menyimak, dengan senyum kecil yang sulit ditebak artinya.
“Sebenarnya… tidak usah diingat lagi. Itu sudah berlalu. Yang terpenting sekarang, kita bisa fokus kembali ke pekerjaan kita,” ucap Aleandra dengan nada tenang.
Kata-kata itu seperti pisau halus yang menusuk perasaan Randy. Ia mencoba tersenyum, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan kekecewaan.
“Aku… memang teman yang tidak bisa membuatmu merasa nyaman,” ucap Randy lirih.
Aleandra tertawa kecil.
“Hahaha, kamu ngomong apa sih? Selama aku bersamamu, aku seperti…” ucapannya terhenti.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Suara engsel yang berderit membuat keduanya menoleh.
Pak Broto masuk, napasnya sedikit terengah.
“Haaagggh… baru kali ini aku merasa lelah hanya karena berjalan,” ucapnya sambil melepas jaket.
Aleandra segera berdiri. Ia mengambil teko dan menuangkan teh hangat ke dalam gelas, lalu meletakkannya di atas meja di depan Pak Broto.
Pak Broto duduk di sofa, lalu mengambil gelas itu. Ia meminumnya perlahan, seolah menikmati kehangatan yang menenangkan tubuhnya.
“Bapak habis ngapain?” tanya Aleandra.
“Saya baru saja mengisi bahan bakar ke dalam genset,” jawab Pak Broto.
Ia meletakkan gelasnya.
“Dan kalian berdua bisa mandi… selama genset dan pompa air masih berfungsi.”