Mereka berjalan dalam diam. Koridor itu terasa lebih panjang dari biasanya, hanya diisi gema langkah kaki yang beradu dengan lantai dingin. Lampu-lampu redup di sepanjang lorong sesekali berkedip, menambah kesan tidak nyaman yang perlahan merayap. Di beberapa sudut, cat dinding terlihat mengelupas, memperlihatkan permukaan tua yang lembap dan berjamur.
Aleandra tampak semakin gelisah. Bibirnya nyaris tak bergerak, namun dalam hati ia terus beristigfar. Tangannya menggenggam tasbih kecil, jari-jarinya bergerak cepat menghitung tanpa sadar. Sesekali ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri, tapi detak jantungnya justru terasa makin keras, seolah terdengar hingga ke telinganya sendiri.
Angin tipis berhembus dari ujung lorong, membawa hawa dingin yang tidak biasa. Aleandra merapatkan jaketnya tanpa sadar.
Randy yang berjalan di sampingnya sempat melirik. Ia mencoba membaca ekspresi Aleandra, tapi yang ia temui hanya wajah pucat dan tatapan kosong lurus ke depan. Tidak ada kata, tidak ada penjelasan—hanya suasana yang semakin menekan.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Randy akhirnya, suaranya rendah.
Aleandra hanya mengangguk kecil tanpa menoleh. “Iya… cuma capek.”
Jawaban itu terdengar singkat, terlalu singkat.
Randy tidak melanjutkan. Ia tahu, ada sesuatu yang ditahan Aleandra, tapi ia memilih diam. Pikirannya sendiri juga masih dipenuhi kejadian semalam—suara aneh, dentingan logam, dan bayangan samar yang sempat ia lihat di dekat pintu besi itu.
Sesampainya di bangunan penginapan, langkah Aleandra sempat terhenti. Ia berdiri beberapa detik di depan pintu, seolah ada sesuatu yang menahannya untuk masuk. Matanya menatap ke dalam dengan ragu, seperti mengingat sesuatu yang tidak ingin ia ulangi.
Randy, yang sudah lebih dulu masuk, tidak menyadari itu. Ia langsung melangkah ke dalam, sementara Aleandra akhirnya mengikuti dengan langkah berat, seperti dipaksa oleh keadaan.
Udara di dalam penginapan terasa pengap. Bau kayu lembap bercampur dengan sisa aroma minyak tanah dari malam sebelumnya. Di sudut ruangan, sebuah kursi tua bergoyang pelan, entah karena angin atau sesuatu yang lain.
Aleandra sempat melirik ke arah kursi itu, lalu segera mengalihkan pandangannya.
Tanpa banyak bicara, mereka mulai merapikan barang-barang yang sempat berantakan. Tas dibuka, pakaian dilipat seadanya, peralatan dikeluarkan dan disusun kembali. Suara gesekan tas, resleting, dan benda-benda kecil yang saling beradu menjadi satu-satunya pengisi keheningan.
Randy dan Aleandra saling membantu, meski tanpa komunikasi berarti. Sesekali tangan mereka bersentuhan saat mengambil barang, namun tak ada reaksi—seolah keduanya sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.
Setelah selesai, Randy berdiri diam. Tatapannya tertuju pada sebuah pintu besi di hadapannya. Pintu itu tampak tua, berkarat di beberapa bagian, dengan bekas goresan panjang yang tidak jelas asalnya. Di bagian bawahnya, terlihat noda hitam seperti bekas sesuatu yang pernah mengalir lalu mengering.
Rasa penasaran perlahan mengambil alih.
Ia melangkah mendekat.
Langkahnya pelan, tapi pasti. Setiap langkah terasa seperti menariknya lebih dalam ke sesuatu yang belum ia pahami.
Aleandra yang sedang mengancing tasnya sempat melirik, tapi belum sempat bereaksi ketika—
DRAK!
Suara tendangan keras menggema di dalam ruangan, memantul di dinding-dinding kosong.
Aleandra tersentak.
“Astagfirullah, Randy!” ucapnya kaget, suaranya sedikit bergetar.
Namun Randy tidak menoleh. Ia mundur satu langkah, matanya tetap terpaku pada pintu itu, lalu—
DRAK!
Tendangan kedua menghantam lebih keras.
Debu halus jatuh dari bagian atas pintu.
“Randy, hentikan!” seru Aleandra, kali ini lebih tegas.
Ia segera menghampiri Randy, wajahnya menunjukkan campuran takut dan kesal.
“Kamu sedang mencoba melakukan apa sih?” tanyanya, menatap langsung ke mata Randy.
Randy akhirnya berhenti. Ia menoleh, napasnya sedikit berat. Ada sesuatu dalam tatapannya—bukan sekadar penasaran, tapi seperti dorongan kuat untuk membuktikan sesuatu.
“Jangan halangi aku,” ucapnya pelan tapi tegas. “Kalau kamu nggak mau nunggu, kamu bisa balik ke penginapan Pak Broto.”
Aleandra terdiam, sedikit terkejut dengan nada suara Randy yang berubah.
“Di sini aku cuma mau cari tahu,” lanjut Randy. “Semalam kita dengar suara aneh dari sini. Dan… aku nggak yakin itu cuma kebetulan.”