AVENDOR

Audhy R.H
Chapter #13

MALAM BERKABUT

22:00

Aleandra dan Randy tertidur pulas setelah lelah berjalan-jalan beberapa waktu lalu. Tubuh mereka seperti menyerah pada rasa letih, sementara pikiran mereka masih menyisakan satu tujuan yang belum tercapai—menyelidiki lebih dalam bangunan tua yang sejak awal terasa “berbeda.” Bangunan itu bukan sekadar tempat singgah, tapi seolah menyimpan sesuatu yang memanggil mereka, sesuatu yang belum mereka pahami… sesuatu yang seperti menunggu.

Di tengah keheningan malam, wajah Aleandra mulai berubah. Kerutan halus muncul di dahinya. Keringat dingin menetes perlahan dari pelipis, menyusuri pipinya, hingga menghilang di balik kerudung yang menutupi rambutnya. Napasnya mulai tidak teratur, dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya.

Dalam tidurnya, ia seperti mendengar sesuatu.

Srek… srek… krek…

Seperti suara kawat yang ditarik paksa. Berulang. Tidak stabil. Kasar. Menggesek sesuatu yang keras, seperti besi tua yang berkarat.

"Astagfirullah…" Aleandra terbangun dengan napas tersengal.

Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit yang gelap. Beberapa detik ia hanya diam, mencoba memahami apakah itu hanya mimpi atau sesuatu yang nyata. Jantungnya berdetak cepat, seolah tubuhnya tahu sesuatu yang pikirannya belum pahami.

Srek… krek… srek…

Suara itu terdengar lagi.

Lebih jelas.

Lebih dekat.

"Suara apa itu?" gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

Ia perlahan bangkit dari tempat tidurnya. Suasana kamar terasa berbeda. Tidak hanya gelap—tapi berat. Udara seperti menekan dadanya.

Belum sempat ia melangkah lebih jauh—

Triiing… triiing…

HP Aleandra berdering dari atas lemari kayu di sudut ruangan.

Ia menoleh cepat. Matanya menyipit, penuh kebingungan.

"Ha… kok bisa?" ucapnya lirih.

Sejak sore tadi, tempat itu nyaris tidak memiliki sinyal. Bahkan untuk sekadar mengirim pesan pun sulit. Tapi sekarang, di tengah malam yang sunyi, HP itu justru berdering.

Dengan langkah ragu, Aleandra berjalan mendekat. Lantai kayu di bawah kakinya mengeluarkan bunyi pelan—krek… krek… seakan ikut mengulang suara yang ia dengar tadi.

Ia meraih HP itu. Tangannya dingin. Sedikit gemetar.

Layar menyala.

Tidak ada nama.

Tidak ada nomor.

Hanya tulisan:

PANGGILAN MASUK

Namun ada yang aneh.

Di balik tulisan itu… samar-samar terlihat bayangan.

Seperti… wajah.

Aleandra membeku.

"Apa yang terjadi sama aku…" bisiknya, suaranya nyaris hilang.

Dering itu terus berbunyi. Nyaring. Kosong. Seperti bukan berasal dari HP, tapi dari dalam kepalanya sendiri.

"Astagfirullah…" ia mulai beristigfar berulang kali.

Tangannya hampir saja menekan tombol jawab… tapi ia ragu.

Tiba-tiba—

Srek… srek… krek…

Suara itu kembali.

Kali ini… jelas berasal dari luar kamar.

Aleandra menelan ludah. Rasa takut mulai menjalar, tapi rasa penasaran mendorongnya untuk bergerak.

Ia membuka pintu kamar dan melangkah ke ruang tamu.

Di sana, Randy masih tertidur di atas sofa, terbungkus selimut. Wajahnya terlihat tenang, seolah tidak merasakan apa pun dari suasana aneh yang mulai menyelimuti tempat itu.

Aleandra berjalan pelan, berusaha tidak membangunkannya.

Suara itu… kini terdengar seperti berasal dari arah pintu utama.

Ia berdiri di depan pintu.

Tangannya terulur perlahan ke gagang pintu.

Dingin.

Sangat dingin.

Klik.

Ia mencoba membukanya.

Namun—

Tidak bisa.

"Apa… terkunci?" wajahnya langsung pucat.

Padahal ia yakin, sebelumnya pintu itu tidak dikunci.

Dengan ragu, Aleandra menempelkan telinganya ke pintu kayu.

Ia menahan napas.

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Tidak ada suara.

Tidak ada tarikan kawat.

Tidak ada apa-apa.

"Haaah… haaah…" hanya napasnya sendiri yang terdengar.

“Diluar kok malah sunyi… jangan-jangan cuma halusinasi…” pikirnya, mencoba menenangkan diri.

Perlahan ia menjauhkan telinganya.

Ia menutup mata sejenak.

Menarik napas.

Membalikkan badan.

Dan saat ia membuka mata—

Kabut.

Tipis.

Putih.

Mengambang di udara.

"Apa… yang terjadi di sini?!" suaranya bergetar.

Kabut itu perlahan menebal. Tidak datang dari pintu, tidak dari jendela. Seolah muncul dari lantai, dari celah-celah yang tidak terlihat.

Kabut merayap naik.

Menyentuh kakinya.

Dingin.

Seperti es.

Refleks Aleandra mundur beberapa langkah.

Namun kabut itu terus naik.

Lutut.

Pinggang.

Udara terasa semakin berat.

Ia berteriak.

Lihat selengkapnya