AVENOIR

Bobby Mahmud
Chapter #2

Bab 1 · Rumah yang Terlalu Rapi

BABAK I — Kehilangan


Zaviar pulang lewat tengah malam, dengan mata perih dan perut kosong.

Hari itu server pusat data kota error tiga kali berturut-turut. Ia harus lembur memeriksa log yang isinya deretan angka tanpa ujung. Atasannya mondar-mandir sambil menggerutu, rekan-rekannya saling menyalahkan, dan Ezra, sahabatnya sejak kuliah, sempat bercanda bahwa kota ini terlalu bergantung pada mesin yang bahkan tidak bisa mengurus dirinya sendiri.

Zaviar hanya tersenyum tipis. Pikirannya sudah di rumah.

Di luar gedung, layar-layar besar di sepanjang jalan menampilkan angka yang sama sejak pagi: Indeks Stabilitas Kota 99,7 persen. Warga bersorak setiap kali angka itu naik. Zaviar sudah lama berhenti ikut bersorak.

Hanya ada satu hal yang membuatnya bertahan sepanjang hari yang melelahkan itu: Adlen. Istrinya pasti sudah menunggu dengan teh hangat dan omelan lembut soal jam pulang. Mungkin ia akan pura-pura marah, lalu tertawa lima menit kemudian. Selalu begitu. Sudah empat tahun mereka menikah, dan polanya tidak pernah berubah.

Pagi tadi pun sama. Adlen mengantarnya sampai pintu, merapikan kerah bajunya, lalu berkata, “Jangan pulang terlalu malam, Zav.” Ia sempat mencium pipi istrinya. Rasanya masih jelas, hangat, dan nyata.

Mereka bertemu delapan tahun lalu di perpustakaan teknik kota, saat keduanya berebut satu buku manual jaringan yang tinggal satu eksemplar. Adlen menang, tentu saja. Ia menyerahkan buku itu dengan satu syarat: Zaviar harus mentraktirnya kopi sampai buku itu selesai dibaca. Kopi itu berlanjut sampai hari ini. Rumah nomor 14 mereka beli dua tahun lalu, dengan cicilan yang membuat mereka sering bercanda soal makan mi instan sampai usia pensiun. Setiap sudut rumah itu punya cerita, dan setiap cerita itu punya Adlen di dalamnya.

Hujan gerimis menempel di bahu jasnya ketika ia sampai di depan rumah nomor 14. Ia menempelkan telapak tangan ke panel pintu.

Klik.

“Selamat datang, Zaviar,” sapa suara lembut dari dalam rumah. “Penghuni terdeteksi: satu orang.”

Zaviar berhenti di ambang pintu.

“Satu?” gumamnya. Keningnya berkerut sebentar, lalu ia menggeleng. Sistem rumah memang sering aneh setelah pembaruan perangkat lunak. Ia sendiri yang bulan lalu menyuruh Adlen jangan terlalu percaya pada notifikasi otomatis.

“Adlen? Aku pulang!”

Tidak ada jawaban. Biasanya, suara langkah kaki atau denting sendok di dapur sudah menyambutnya. Malam ini, rumah itu hanya mengeluarkan dengung halus pendingin ruangan.

Ia melepas sepatu. Dan di situlah perasaan janggal pertama menyergapnya.

Rak sepatu di dekat pintu terlalu rapi. Tidak ada sepatu kets Adlen yang biasanya tergeletak miring dengan tali terurai. Tidak ada payung kuning di gantungan. Tidak ada jaket abu-abu yang selalu ia lempar ke sandaran sofa sambil berkata, “Nanti kuambil.”

Zaviar menyalakan lampu ruang tamu. Ruangan itu bersih, dingin, dan kosong, seperti ruang pamer apartemen yang belum pernah dihuni siapa pun.

“Adlen?” panggilnya lagi, lebih keras.

Ia melangkah ke dapur. Di rak piring hanya ada satu piring, satu gelas, dan satu sendok. Ia membuka kulkas. Isinya makanan siap saji dan botol air mineral. Tidak ada stoples selai jeruk buatan Adlen yang selalu ia taruh di pintu kulkas, dengan label tulisan tangan miring yang jelek: jangan dihabiskan sendirian, Zav!

Dada Zaviar mulai terasa sesak.

Ia berjalan cepat ke kamar tidur dan membuka lemari. Seluruh isinya pakaiannya sendiri. Sisi kanan, yang biasanya penuh gaun, kardigan, dan syal warna-warni, kini kosong. Bukan kosong karena baru dikosongkan. Kosong yang berdebu, seolah memang tidak pernah dipakai.

“Tidak,” bisiknya. “Ini tidak lucu.”

Lihat selengkapnya