Gelap.
Bukan gelap biasa. Tidak ada cahaya dari lampu jalan, tidak ada lampu standby di pendingin ruangan, bahkan layar dinding yang tadi memutar rekaman ikut mati. Hanya suara hujan dan detak jantung Zaviar sendiri yang tersisa.
Ia berdiri kaku di sisi tempat tidur, menggenggam ponsel yang layarnya masih menyala redup. Pesan itu masih di sana. Jangan percaya siapa pun. Termasuk aku.
“Rumah?” suaranya nyaris tak keluar. “Rumah, kamu masih di sana?”
Tidak ada jawaban.
Sepuluh detik. Dua puluh detik. Zaviar menyalakan senter ponsel dan mengarahkannya ke sekeliling kamar. Bayangannya sendiri menari di dinding, panjang dan bengkok. Ia merasa seperti sedang diawasi, bukan oleh seseorang di dalam rumah, tapi oleh rumah itu sendiri.
Lalu, klik.
Semua lampu menyala serentak.
“Gangguan listrik singkat terdeteksi di Distrik Empat,” kata suara sistem rumah dengan nada setenang biasanya. “Layanan telah dipulihkan. Zaviar, detak jantung Anda 128 per menit. Disarankan untuk beristirahat.”
Zaviar menatap langit-langit. Rasanya aneh mendengar suara itu menyebut namanya sehangat itu, padahal beberapa menit lalu ia menyangkal keberadaan Adlen tanpa berkedip.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini notifikasi dari Memora, aplikasi yang tersambung ke implan di belakang telinganya.
Stabilitas emosi: menurun. Rekomendasi: tidur 7 jam, hindari kafein, dan kurangi paparan layar. Semoga malam Anda tenang.
Zaviar mengerutkan kening. Ia sudah memakai Memora bertahun-tahun, dan notifikasi semacam itu memang biasa. Tapi malam ini, kata-katanya terasa berbeda. Seperti nasihat dari orang yang sudah tahu persis apa yang ia pikirkan dan ingin ia berhenti memikirkannya.
Ia tidak tidur.
Dalam kepalanya, ia memutar ulang pagi kemarin berkali-kali, mencari retakan. Apakah Adlen tampak cemas? Apakah ia mengatakan sesuatu yang aneh? Yang ia ingat hanya tatapan istrinya di ambang pintu, sedikit lebih lama dari biasanya, seperti orang yang sedang menghafal sebuah wajah. Waktu itu Zaviar mengira itu cuma kasih sayang. Sekarang ia tidak yakin.
Sampai subuh, Zaviar duduk di lantai ruang tamu, bersandar pada sofa, mencoba semua cara yang ia tahu. Ia menelepon nomor tanpa nama itu: nomor tidak terdaftar. Ia mengirim balasan: pesan gagal terkirim. Ia membuka terminal di laptop dan mencoba mengakses arsip data warga lewat akun kantor. Layar menolaknya dengan satu baris dingin: izin tidak mencukupi.
Aneh. Kemarin, izinnya masih penuh.
Menjelang pagi, matanya merah, kepalanya berdenyut, tapi satu hal sudah ia putuskan. Kalau semua orang bilang Adlen tidak pernah ada, ia akan mencari satu orang yang mengingatnya.
Ia mandi sekadarnya, mengganti baju, lalu keluar rumah. Matahari baru naik. Udara masih basah oleh hujan semalam.
“Pagi, Mas Zaviar!”
Pak Hendra, tetangga sebelah, sedang menyapu halaman seperti biasa. Lelaki enam puluhan itu melambaikan tangan dengan senyum ramah. Zaviar hampir menangis lega. Pak Hendra pasti ingat. Ia dan Adlen sering mengobrol dengan lelaki itu soal bunga dan cuaca.
“Pagi, Pak. Pak Hendra, boleh tanya sebentar?”
“Tentu, tentu.”
“Adlen. Istri saya. Bapak lihat dia kemarin?”