Avonturir

Nuel Lubis
Chapter #1

Membaca Blognya Mariana

Erwin terkekeh saat membaca satu tulisan di sebuah blog. Blog ini dikelola oleh Mariana Tania Harland. Singkatnya, si empunya blog sering disapa dengan sapaan Mariana. Kadang, ada beberapa orang memanggilnya Tania.

Sejenak Erwin minum cappuccino. Lalu ia membacanya dari laptop.

💻

5 Fakta tentang Mariana Tania Harland yang Mungkin Belum Kamu Tahu

Oleh: Mariana Tania Harland

Hai, semuanya!

Kalau selama ini kalian mengenalku hanya lewat Instagram, foto-foto, video, atau berbagai acara yang pernah aku hadiri, mungkin masih banyak hal tentang diriku yang belum kalian ketahui.

Jadi, kali ini aku mau membongkar sedikit sisi lain dari Mariana Tania Harland.

Bukan gosip. Bukan sensasi juga. Cuma lima fakta sederhana tentang diriku yang mungkin belum pernah aku ceritakan secara lengkap.

Siap?

1. Aku Bukan Selebgram Sejak Awal

Percaya atau tidak, aku sebenarnya tidak pernah merencanakan untuk menjadi selebgram.

Karierku di dunia media sosial bermula secara tidak sengaja.

Semuanya berawal dari seorang teman bernama Saras.

Waktu itu aku sering menemaninya manggung dari satu kafe ke kafe lainnya. Dari sana aku mulai mengenal dunia hiburan lebih dekat.

Saras kemudian mengajakku ke studio musik. Di sanalah aku mulai diperkenalkan kepada lingkungan entertainment yang lebih luas. Sampai akhirnya dia berkata kurang lebih begini:

"Wajah lo kan cantik, Mar. Lumayan good looking. Daripada capek-capek sebar lamaran, apa nggak sebaiknya jadi selebgram?"

Awalnya aku cuma tertawa.

Ternyata kata-kata bercanda itu justru menjadi salah satu titik penting dalam hidupku. Saras kemudian mengenalkanku kepada sebuah agency artis. Dari sanalah semuanya berkembang.

Jadi kalau ada yang bertanya, "Mariana, dari dulu memang pengin jadi influencer?"

Jawabannya: nggak.

Aku justru menemukan pekerjaan ini ketika sedang menjalani hidup seperti biasa.

2. Aku Pernah Merasakan Jadi Anak Kantoran

Sebelum benar-benar terjun ke dunia influencer, aku pernah bekerja di sebuah perusahaan advertising. Namun sebenarnya statusku waktu itu adalah mahasiswa yang sedang menjalani magang. Aku kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi.

Jadi, jangan bayangkan aku dari pagi sampai malam sudah sibuk membuat content Instagram.

Aku pernah merasakan duduk di depan komputer, mengikuti meeting, mengerjakan tugas kantor, dan menjalani rutinitas seperti anak magang pada umumnya.

Lucunya, ketika pekerjaan endorse mulai berdatangan, penghasilannya justru perlahan lebih besar daripada uang yang aku dapatkan dari pekerjaan magang.

Di situlah aku mulai berpikir:

"Kayaknya ini bisa serius."

Tentu saja keputusan itu tidak langsung mudah.

Orang tuaku sempat khawatir. Papa pernah mengatakan bahwa pekerjaan seperti ini masa depannya tidak jelas. Mama juga takut aku hanya terkenal sebentar. Sekarang kalau aku mengingatnya, aku justru bersyukur mereka pernah khawatir. Karena kekhawatiran mereka membuatku belajar bahwa popularitas saja tidak cukup. Kalau ingin bertahan, aku harus punya disiplin dan tanggung jawab.

3. Aku Pernah Tidak Bisa Tidur Gara-Gara Komentar Netizen

Lihat selengkapnya