Malam semakin larut ketika Erwin dan Iman masih duduk di sebuah warung kopi kecil di pinggir jalan.
Lampu-lampu kendaraan sesekali menyapu wajah mereka. Suara mesin motor bercampur dengan percakapan orang-orang yang duduk di meja sebelah. Di hadapan Erwin, segelas kopi tinggal separuh. Es batu yang tadi memenuhi gelas sudah hampir mencair seluruhnya.
Namun, pembicaraan mereka belum selesai. Erwin masih memikirkan perkataan Iman tentang rasa iri, kesuksesan, dan bagaimana seseorang seharusnya menyikapi keberhasilan orang lain.
"Jadi, menurutmu aku iri sama orang lain?" tanya Erwin.
Iman menggeleng.
"Bukan begitu."
"Lalu?"
"Aku cuma bilang, kalau suatu saat kamu merasa iri, jangan langsung membenci perasaan itu. Kenali dulu kenapa kamu iri."
Erwin mengernyitkam dahi sekonyong-konyong. Saking bingungnya, ia lalu mengajukan pertanyaan, "Kenapa harus dikenali?"
"Karena rasa iri kadang menunjukkan sesuatu yang sebenarnya kita inginkan."
Erwin terdiam.
Ada benarnya juga. Mungkin selama ini ia terlalu cepat menganggap iri sebagai sesuatu yang buruk. Padahal, bisa saja rasa iri hanya menunjukkan bahwa seseorang menginginkan sesuatu yang belum berhasil didapatkannya.
Masalahnya adalah bagaimana perasaan itu disikapi. Kalau melihat seseorang sukses lalu membencinya, tentu hal itu tidak akan mengubah kehidupan siapa pun. Namun, jika keberhasilan orang lain dijadikan bahan pertanyaa, apa yang bisa dipelajari dari orang tersebut, bagaimana ia bisa sampai di sana, dan apa yang dapat dilakukan untuk menyusulnya, hasilnya tentu berbeda.
Iman kembali menyesap kopinya, berkata, "Erwin, jangan lupa. Setiap orang punya waktunya masing-masing."
Erwin tersenyum kecil. "Kata-kata kamu itu gampang diucapkan, Man."
"Iya."
"Tapi susah dilakukan."
"Makanya harus dilatih."
Erwin tertawa.
Iman memang begitu. Ia sering membuat nasihat sederhana terdengar seperti sebuah kuliah panjang. Namun anehnya, Erwin selalu menemukan sesuatu yang masuk akal dari perkataan sahabatnya itu.
Erwin kemudian bertanya apakah Iman sendiri pernah merasa iri kepada orang lain.
"Sering," jawab Iman santai.
Erwin tampak terkejut.
"Serius?"
"Memangnya aku malaikat?"
Keduanya tertawa.
Iman kemudian melanjutkan, "Kalau melihat orang lain berhasil, sementara kita masih begini-begini saja, tentu kadang muncul rasa iri. Tapi setelah itu, aku mencoba bertanya kepada diriku sendiri."
"Apa?"
"Kenapa dia bisa sampai di sana?"
Iman meletakkan cangkirnya, berkata lagi, "Kalau jawabannya karena dia bekerja keras, ya aku belajar bekerja lebih keras. Kalau karena dia punya kemampuan yang belum aku punya, ya aku belajar kemampuan itu. Kalau karena dia mengambil kesempatan yang tidak aku ambil, ya aku belajar lebih berani mengambil kesempatan."
Erwin mengangguk perlahan. "Kalau ternyata dia cuma beruntung?"
Iman tersenyum berkata, "Ya, berarti aku belajar menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendaliku."
Erwin kembali terdiam.
Menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan adil memang bukan perkara mudah. Ada orang yang lahir dalam keluarga kaya. Ada yang lahir dalam keluarga sederhana. Ada orang yang sejak kecil mendapatkan akses pendidikan yang baik. Ada pula yang harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan kesempatan.
Ada juga, yang kariernya melesat dalam hitungan tahun, sementara orang lain membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mendapatkan sesuatu yang sama. Namun kalau seseorang terus-menerus membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain, kapan ia akan benar-benar menjalani kehidupannya sendiri?