Mariana tersenyum kecil. Entah mengapa, setiap kali melihat nama lengkap Erwin di layar ponselnya, ada perasaan lucu yang muncul dalam dirinya.
Erwin Bimantara Lubis. Nama itu terasa terlalu formal untuk seseorang yang selama beberapa waktu terakhir sudah cukup dekat dengannya.
Mariana bahkan masih ingat bagaimana kali pertama mengenal Erwin. Saat itu, ia sama sekali tidak menduga bahwa lelaki yang awalnya ia anggap sebagai teman biasa justru akan menjadi salah satu orang yang membuatnya merasa nyaman. Bukan karena Erwin selalu mengatakan hal-hal manis. Justru sebaliknya.
Erwin kadang terlalu apa adanya. Tidak seperti kebanyakan laki-laki yang pernah ditemuinya dalam lingkungan entertainment, Erwin tidak terlalu sibuk memperhatikan jumlah pengikut Instagram, jumlah endorsement, pakaian bermerek, atau siapa saja orang terkenal yang sedang duduk bersamanya. Erwin bahkan pernah benar-benar terkejut ketika mengetahui bahwa Mariana adalah seorang influencer.
Bagi Mariana, itu lucu. Sebagian besar orang yang mengenalnya melalui internet justru sudah mengetahui lebih banyak tentang dirinya sebelum bertemu dengannya.
Erwin malah sebaliknya. Ia mengenal Mariana terlebih dahulu sebagai Mariana. Bukan sebagai Mariana Tania Harland, selebgram dengan berbagai foto di internet.
Lampu lalu lintas berubah hijau. Mariana kembali menjalankan mobilnya. Ia sebenarnya hendak membalas pesan Erwin. Namun beberapa detik kemudian ponselnya kembali bergetar.
Kali ini sebuah notifikasi dari agency. Ada tawaran campaign baru. Mariana menghela napas.
"Ya ampun...."
Ia tidak langsung membuka pesan tersebut. Bukan karena tawarannya tidak menarik. Justru kemungkinan besar tawaran itu cukup menguntungkan. Namun beberapa hari terakhir Mariana memang sedang berusaha mengurangi aktivitas.
Ia ingin istirahat. Ia ingin memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Ia ingin bisa pergi ke bioskop tanpa harus berpikir apakah ada orang yang mengenalinya. Ia ingin makan di sebuah kafe tanpa perlu mengambil foto makanan terlebih dahulu. Pun ia ingin sesekali menghilang dari media sosial tanpa harus menjelaskan kepada siapa pun.
Namun pekerjaan sebagai influencer tidak sesederhana itu.nAlgoritma tidak pernah benar-benar mengenal kata lelah. Pengikut tidak selalu tahu bahwa orang yang mereka ikuti juga membutuhkan waktu untuk berhenti. Agency tentu juga memikirkan kontrak dan target.
Mariana memahami semua itu.nKarena itu, ia tidak pernah benar-benar menyalahkan pekerjaannya. Ia hanya sedang belajar mengatur batas.
Mobilnya kembali berhenti. Kali ini lampu merah cukup lama. Mariana akhirnya membuka pesan Erwin.
"Mar, gimana? Jadi, kan, kita nonton?"
Ia membaca pesan itu dua kali.
Kemudian tersenyum. Jempolnya mulai mengetik.
"Jadi. Tapi jangan pilih film horor lagi.'
Ia menghapusnya, lalu mengetik lagi.
"Jadi. Jam berapa?"
Dihapus lagi.
Mariana mengernyit sendiri.
"Kenapa aku jadi mikir lama begini, sih?"
Ia akhirnya mengetik:
"Jadi. Nanti aku kabarin jamnya, ya."
Pesan dikirim.
Tidak sampai satu menit, tanda pesan dibaca muncul. Kemudian balasan masuk.
"Oke. Aku tunggu."
Mariana kembali tersenyum.
"Dasar."