AYAH JEMPUT AKU PULANG

HERLIYAN BERCO
Chapter #1

LAMBAIAN TERAKHIR

Juli 2004

Aku dan keluargaku berlibur ke Kota Padang, tempat keluarga ayah. Awalnya hanya untuk melepas rindu karena sudah hampir empat tahun tidak bersua. Namun, sehari sebelum kami pulang, Nenek membujukku untuk bersekolah di sana.

"Adel sekolah di sini aja, ya. Biar nanti Om Fajar dan Tante Siska yang antar-jemput Adel sekolah."

Tawaran itu sangat menarik bagiku yang saat itu baru berumur sepuluh tahun. Selama seminggu tinggal di rumah Nenek, aku sangat dimanja. Mereka juga terlihat begitu menyayangiku. Tentunya, jika aku bersekolah di sana, aku tidak perlu lagi berbagi kasih sayang dengan ketiga adikku.

Aku mengangguk cepat, meski belum meminta izin kepada Ayah dan Ibu.

Ketika malam tiba, aku masuk ke kamar dengan hati-hati. Ibu sedang membereskan pakaian kami. Besok siang kami akan kembali ke Bengkulu. Aku duduk bersila di sampingnya, lalu dengan sedikit takut berkata pelan,

"Bu, Adel nggak mau pulang. Adel masih mau di sini."

Ibu berhenti melipat pakaian, kemudian menoleh kepadaku.

"Sebentar lagi kamu masuk sekolah. Nggak bisa lama-lama di sini."

Aku tersenyum kecil.

"Adel sekolah di sini saja, Bu. Nenek bilang begitu."

Mendadak Ibu mencubit lenganku. Hanya satu cubitan, tetapi cukup membuat mataku berair.

"Jangan macam-macam! Pokoknya besok kita pulang. Kamu nggak bisa sekolah di sini."

"Tapi, Bu...."

"Adel! Dengar kata Ibu!"

Suara Ibu cukup keras hingga tubuhku bergetar. Aku tidak lagi berani membalas. Aku mundur perlahan, naik ke atas kasur, lalu merebahkan diri di samping adik bungsuku.

Namun, aku belum mau menyerah. Aku tahu siapa yang bisa membujuk Ibu. Karena itu, aku memutuskan tetap terjaga hingga orang yang akan membantuku pulang datang.

Tepat pukul sebelas malam, suara motor terdengar memasuki pekarangan rumah Nenek.

Aku perlahan turun dari tempat tidur agar tidak membangunkan Ibu dan ketiga adikku. Begitu keluar kamar, aku segera membukakan pintu sebelum terdengar ketukan.

Aku menyambut malaikat penyelamatku, yaitu Ayah.

"Loh, Adel belum tidur? Udah malam, Nak. Besok kita mau pulang."

Ayah menutup pintu rumah. Aku segera menarik tangannya menuju dapur.

"Ayah pasti haus. Adel ambilin minum, ya."

Ayah hanya menurut ketika kutuntun ke meja makan. Setelah menuangkan segelas air putih, aku duduk di sampingnya.

Namun, sebelum sempat mengutarakan keinginanku, Ayah lebih dulu bertanya.

"Ayah tebak, pasti ada sesuatu. Adel kenapa?"

Tangannya mengusap rambut lurusku yang hanya sebatas pundak.

Aku menunduk.

"Adel mau sekolah di sini aja."

Aku memperhatikan wajah Ayah. Berbeda dengan Ibu, wajahnya tetap tenang tanpa sedikit pun menunjukkan amarah.

Ayah menghela napas.

"Nenek sudah tua. Nanti jadi repot kalau Adel sekolah di sini. Siapa yang antar-jemput?"

Aku cepat menjawab.

"Nenek bilang Om Fajar sama Tante Siska yang akan antar-jemput."

Ayah terdiam cukup lama. Tatapannya tertuju kepadaku, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

Sampai akhirnya kalimat yang paling kutunggu keluar dari mulutnya.

"Oke. Kalau Adel memang mau sekolah di sini, tapi janji harus jadi anak baik. Nurut sama Nenek, Om, dan Tante, ya."

Aku langsung memeluk Ayah dari samping.

Ayah memang selalu tahu apa yang kuinginkan.

"Siap! Adel pasti jadi anak baik, kok. Adel sayang Ayah. Makasih ya, Yah."

Setelah itu Ayah menyuruhku tidur di kamar Nenek karena ia ingin berbicara dengan Ibu.

Lihat selengkapnya