Satu minggu berlalu sejak aku mengetahui Ayah dan Ibu bercerai. Sejak saat itu, aku merasa orang-orang di rumah mulai berubah padaku.
Tidak ada lagi pelukan hangat dari Nenek ketika aku pulang sekolah. Tante Siska tidak lagi bertanya bagaimana pelajaranku, sementara Om Fajar lebih sering diam, bahkan menghindar setiap kali aku mencoba mengajaknya mengobrol.
Mereka juga semakin sering berbisik-bisik di dapur. Begitu aku lewat, suara mereka langsung menghilang, seolah-olah aku tidak boleh tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Aku ingin bertanya, tetapi tidak pernah punya keberanian. Apalagi tentang Ibu. Sejak hari itu, nama Ibu menjadi sesuatu yang paling dilarang disebut di rumah ini.
Tidak lama kemudian, Ayah datang bersama ketiga adikku.
Aku hampir tidak mengenali Ayah.
Tubuhnya jauh lebih kurus dibanding terakhir kali kulihat di terminal. Rambut ikalnya mulai panjang, sementara wajahnya tampak sangat lelah, seolah sudah lama tidak tidur nyenyak.
Sebaliknya, ketiga adikku masih terlihat hampir sama. Hanya Feri yang tampak sedikit lebih kurus dan jauh lebih pendiam daripada biasanya.
Mungkin aku belum pernah bercerita bahwa jarak usiaku dengan ketiga adikku sangat rapat. Saat itu Feri berumur enam tahun, Meri empat tahun, dan Gibran baru berumur dua tahun.
Melihat Ayah datang, ada begitu banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan, terutama tentang Ibu.
Namun, sejak datang pagi itu, Ayah hanya mengurung diri di kamar bersama Nenek. Aku bahkan dilarang mendekat.
Hingga sore menjelang, aku belum sempat menyapa Ayah, apalagi bertanya.
Akhirnya, aku memutuskan bertanya kepada Feri, meski tidak yakin ia mengetahui jawabannya.
"Fer, Ibu di mana?" bisikku pelan agar tidak didengar siapa pun.
Feri hanya menggeleng.
"Kok bisa nggak tahu?"
Ia tetap diam.
Aku kembali bertanya, "Kamu tahu Ayah sama Ibu sekarang sudah nggak tinggal bersama lagi?"
Feri mengangguk pelan.
"Ibu sudah pergi, Kak."
Aku masih menunggu penjelasan berikutnya.
Namun, bibir Feri mulai bergetar. Beberapa detik kemudian ia menangis sejadi-jadinya.
Aku panik.
"Fer... jangan nangis... nanti dimarahin."
Aku menutup mulutnya pelan, tetapi ia menepis tanganku. Tangisnya justru semakin keras.
Tak lama kemudian, Tante Siska keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan, khas orang yang baru bangun tidur.
"Adel, kenapa Feri nangis?"
"Aku nggak tahu."
Dan memang benar, aku tidak tahu kenapa Feri tiba-tiba menangis seperti itu.
Setelah kejadian itu, aku tidak lagi berniat menginterogasi Feri ataupun kedua adikku yang lain. Aku takut mereka kembali menangis dan membuat semua orang curiga.
Malam harinya aku tidur lebih awal. Entah karena lelah atau terlalu banyak berpikir. Namun, sekitar tengah malam aku terbangun karena merasa haus.