Langit malam mulai tertutup kabut. Suara gemuruh terdengar silih berganti. Hatiku pun ikut tidak tenang. Aku sangat ketakutan mendengar suara petir. Untuk mengurangi rasa takut, aku memeluk erat tubuh Gibran.
Saat kilat kembali menyambar langit yang gelap, aku memejamkan mata. Rasanya aku tidak ingin membukanya lagi.
"Ayah, kita mau ke mana? Sebentar lagi hujan," ucapku gemetar.
Ayah diam saja. Ia masih tetap mengemudikan motor hingga bulir-bulir hujan mulai turun membasahi tubuh kami. Ayah kemudian menepikan motor di salah satu teras toko milik orang lain. Kami berteduh di sana.
"Ayah, Meri mau tidur. Meri ngantuk."
"Aku juga," sambung Feri.
Tanpa memedulikan debu yang menempel di lantai, Feri langsung membaringkan tubuhnya. Meri pun melakukan hal yang sama dan berbaring di sebelahnya. Sementara Gibran sudah tidur lebih dulu di pangkuanku.
Aku melihat keadaan ketiga adikku. Ternyata begini rasanya tidak memiliki rumah dan menjadi gelandangan seperti yang sering kulihat di televisi.
Hujan semakin deras. Suara petir pun terdengar kian menggelegar, seolah sedang mengamuk. Rasa takutku terhadap petir semakin menjadi-jadi.
"Yah, aku takut. Bagaimana kalau kita pulang saja?"
Ayah tidak menjawab. Ia hanya memberikan tatapan tajam sekilas, lalu kembali fokus pada layar handphone-nya.
Ia tidak banyak bicara atau sekadar menenangkan kami. Ayah hanya sibuk berkutat dengan handphone miliknya. Sesekali aku melihatnya mengomel sendiri, bahkan memukul dinding untuk melampiaskan rasa kesalnya.
Keadaan Ayah terlihat sangat kacau.
"Sial sekali, tidak ada yang mau angkat telepon! Percuma punya saudara banyak, tapi tidak ada satu pun yang bisa dimintai tolong. Giliran mereka ada maunya saja, bukan main sibuk menelepon."
Semakin malam, hujan pun kian deras, disusul suara petir yang terus menggelegar. Beberapa kali aku menutup telinga karena takut.
Sampai akhirnya mataku terbelalak melihat pemandangan di depan kami. Aku tidak bisa lagi hanya diam.
"Ayah! Lihat itu!"
Tanganku menunjuk ke arah siring besar yang mulai meluap akibat hujan deras. Airnya semakin tinggi dan mengalir deras ke arah tempat kami berteduh.
Ayah segera membangunkan Feri dan Meri. Ia juga mengangkat tubuh mereka agar tidak terkena luapan air siring. Kami pun meringkuk di sudut teras toko yang datarannya lebih tinggi dari tempat sebelumnya.
"Ayah, kita kembali ke rumah Nenek saja," usulku. Aku mulai khawatir keadaan akan semakin buruk. Kami bahkan tidak tahu harus berlindung di mana hingga pagi.
"Diam kamu!"