AYAH JEMPUT AKU PULANG

HERLIYAN BERCO
Chapter #4

4. ATURAN YANG MENCEKIK

Setelah selesai sarapan, Ayah benar-benar pulang ke rumah Nenek. Saat memasuki pekarangan rumah, aku melihat beberapa motor dan juga sebuah mobil Innova. Dari luar rumah sudah terdengar suara yang cukup ramai. Rupanya ada tamu, lebih tepatnya para saudara Ayah yang lainnya.

"Datang juga si biang masalah."

Itulah kalimat pertama yang menyambut kami setelah selesai mengucapkan salam.

Kalimat itu berasal dari kakak pertama Ayah yang biasa kupanggil Pak Dang Jaya. Sementara saudara-saudara Ayah yang lain melirik kami dengan tatapan sinis. Bahkan ada yang terlihat memberikan senyum kecil yang mengejek.

"Aku ke sini cuma mau lihat Ibu, bukan mau cari ribut. Kalau kamu mau ribut, salah waktu," balas Ayah sambil melewati Pak Dang Jaya begitu saja.

"Cuma bisa nyusahin orang, tapi tetap tidak merasa bersalah," balas Pak Dang Jaya.

Namun, Ayah tidak menggubrisnya. Ia terus melangkah menuju kamar Nenek. Aku dan adik-adikku hanya mengekor di belakangnya.

Saat masuk ke kamar, ternyata Tante Siska sedang menemani Nenek.

Ayah segera bersimpuh di samping ranjang dan meminta maaf kepada ibunya.

"Aku minta maaf karena sudah berbicara kasar sama Ibu. Aku mengaku salah. Aku benar-benar terbawa emosi. Habis ini aku tidak akan mengulanginya lagi."

Nenek berusaha bangun dari posisi berbaring. Ia duduk bersandar di kepala ranjang, lalu mengelus kepala Ayah.

"Sudah Ibu maafkan. Mungkin Ibu juga kurang istirahat dan banyak pikiran akhir-akhir ini. Makanya tekanan darah naik dan asam lambung juga kambuh."

Setelah itu suasana mulai mencair. Nenek dan Ayah kembali mengobrol seperti biasa. Tidak ada lagi nada ketus ataupun suara keras di antara keduanya.

Hari itu, Nenek dan Ayah sudah berdamai.

Meski begitu, saudara-saudara Ayah yang lain tetap memandang kami dengan sinis. Bahkan Pak Dang Jaya berpamitan pulang kepada Nenek dan saudara-saudara lainnya tanpa sepatah kata pun kepada Ayah.

Dua hari kemudian, saat baru pulang dari salat Asar di masjid, aku melihat rumah dalam keadaan sepi. Kata Ayah, Nenek dan Tante Siska sedang pergi ke dokter untuk memeriksakan kesehatan Nenek.

Menurutku, inilah kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang selama ini belum terjawab.

Aku berdiri di samping Ayah yang sedang mencuci pakaian.

Tanpa basa-basi, aku langsung bertanya.

"Ayah, Ibu di mana sekarang?"

Ayah menghentikan kegiatannya, lalu menatapku.

"Ibu pergi. Dia sudah tidak sayang sama kita."

Aku menggeleng. Rasanya pernyataan itu tidak benar.

"Kenapa Ibu bisa tidak sayang sama kita lagi?"

"Ini salah Ayah. Ayah tidak bisa kasih Ibu banyak uang. Akhirnya Ibu pergi cari laki-laki lain yang bisa kasih dia banyak uang."

Aku semakin tidak percaya. Namun, saat melihat Ayah menangis ketika menceritakan hal itu, aku mulai iba dan yakin bahwa Ayah tidak mungkin berbohong kepadaku.

"Adel tidak mau punya Ayah baru, walaupun uangnya lebih banyak. Ayah Adel cuma satu. Yang ini saja."

Aku langsung memeluk Ayah.

"Makasih, Adel, tetap milih Ayah. Nanti kalau seandainya Ibu datang ngajak Adel tinggal sama dia, jangan mau ya, Nak."

"Iya, Yah. Adel sayang sama Ayah. Walaupun Ayah sekarang sudah miskin."

Lihat selengkapnya