"Kok sedikit sekali nasinya, Nek? Mana kenyang perut Adel?"
Nenek menatap kesal padaku sambil menepuk keras meja makan. Sungguh, saat itu aku langsung tersentak. Dengan tubuh gemetar, aku berangsur mundur.
"Ini memang porsi untuk anak kecil seperti kalian!" hardiknya.
Aku menunduk melihat piring di hadapanku. Nasinya hanya sedikit, bahkan belum memenuhi setengah piring. Di atasnya hanya ada sepotong ikan kecil yang diletakkan begitu saja.
"Dengar, ya. Ayah kalian itu tidak ada memberi uang untuk menghidupi kalian di sini. Jadi harus berhemat."
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap piring sendiri sambil menelan ludah. Sejak sore aku sudah di suruh membersihkan rumput di halaman belakang. Perutku sebenarnya sudah sangat lapar, dan aku berharap setidaknya saat makan aku bisa mengisi perut sampai kenyang.
Namun, melihat makanan di hadapanku, harapan itu sepertinya harus kulupakan.
Tante Siska pun datang menyela percakapan kami.
"Apalagi yang diributkan? Makan sajalah. Tidak usah banyak protes. Harusnya bersyukur masih ada makanan untuk kalian."
Aku kembali menunduk.
Aku tidak mengerti kenapa untuk mendapatkan makanan saja aku harus merasa takut.
Aku melirik ke arah tempat makan kucing. Potongan ikan yang diberikan kepada kucing bahkan terlihat lebih besar daripada lauk yang ada di piringku dan Feri.
Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi baru saja membuka mulut, mata Nenek sudah lebih dulu melotot ke arahku.
Nyaliku langsung ciut.
Aku memilih diam dan mulai menyuapkan nasi ke mulut.
Feri lebih dulu duduk di kursi dan menyantap makanannya. Ia makan cukup cepat. Aku menatapnya iba. Dari cara dia makan, aku tahu dia juga masih lapar.
Anehnya, dia tidak protes seperti diriku.
Mungkin Feri sudah belajar bahwa semakin banyak bertanya, semakin besar kemungkinan kami dimarahi.
Aku kembali menyuapkan nasi ke mulut. Baru beberapa suapan, Feri mendekatkan wajahnya ke telingaku.
"Kak, masih lapar. Bagi nasinya."
Mataku langsung membulat.
"Apa yang mau dibagi? Nasi Kakak saja kurang."
Aku menatapnya kesal, tetapi suara yang keluar tetap pelan agar tidak didengar Nenek.
"Lagian, dari tadi kenapa diam saja? Coba ikut protes. Siapa tahu Nenek berubah pikiran."
Feri hanya diam.
Aku sebenarnya kesal karena dia meminta nasiku. Namun, melihat wajahnya yang polos dan perutnya yang mungkin sama laparnya denganku, aku akhirnya mengalah.
Sisa nasi di piringku kupindahkan sebagian ke piringnya.
"Ini."
"Makasih, Kak."
Wajah Feri langsung terlihat lebih bahagia.
Aku hanya menghela napas.
Padahal aku sendiri masih lapar.
Tetapi melihat adikku tersenyum, entah kenapa aku merasa sedikit lebih tenang.
Malam harinya, tubuhku terasa sangat lelah.
Aku merebahkan tubuh di atas kasur. Namun, rasa lelah ternyata tidak mampu membuatku tidur nyenyak.
Perutku terasa perih.
Aku membolak-balikkan badan sambil memegangi perut.
Rasanya seperti ada sesuatu yang mengaduk-aduk dari dalam.
"Cacing di perut Adel kayaknya sedang berdemo," gumamku pelan.
Aku mencoba memejamkan mata.
Tidak berhasil.
Beberapa menit kemudian aku kembali membuka mata.
Aku menatap langit-langit kamar yang gelap.
Aku berharap ada seseorang yang datang dan bertanya apakah aku lapar. Mungkin memberikan sedikit makanan atau sekadar mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun, tidak ada siapa-siapa.
Aku akhirnya memberanikan diri merengek kecil.
"Adel lapar..."
Belum sempat aku melanjutkan, terdengar suara dari kamar sebelah.
"Berisik sekali! Tidurlah!"
Teriakan Tante Siska membuatku langsung terdiam.
Aku menarik selimut hingga menutupi tubuh.
Tidak ada yang datang.
Tidak ada makanan.
Akhirnya aku bangkit perlahan dan mengambil air minum di dapur.
Aku meneguknya cukup banyak.
Satu gelas.
Lalu satu gelas lagi.
Perutku memang terasa sedikit lebih penuh, tetapi bukan karena makanan.
Hanya karena air.
Aku kembali berbaring sambil memegangi perut yang terasa kembung.
"Bahkan ketika tinggal bersama Ibu dan Ayah, kami tidak pernah dibiarkan kelaparan seperti ini," gumamku pelan.
Aku mulai mengingat rumah kami di Bengkulu.
Aku teringat Ibu.
Aku teringat Ayah.