AYAH JEMPUT AKU PULANG

HERLIYAN BERCO
Chapter #6

6. PASIEN GRATISAN

"Aduh, sakit! Pelan-pelan, Nek!"

Aku meringis sambil bergerak menjauh ketika tangan Nenek menekan luka di kepalaku dengan kapas yang sudah dilumuri antiseptik.

"Jangan terus bergerak! Itu luka harus dibersihkan," omel Nenek. "Makanya besok kalau ke sekolah jangan telat. Biar tidak kena hukuman. Bikin repot orang saja."

Aku langsung merengut. Rasanya ingin sekali membantah.

Aku tidak akan terlambat kalau saja pagi tadi tidak diberi begitu banyak pekerjaan. Aku juga tidak akan jatuh pingsan dan membuat kepalaku terluka kalau saja perutku tidak dibiarkan kosong.

Namun, semua itu hanya berani kusimpan dalam hati. Dengan ekspresi memutar bolah mataku jengah.

"Ada apa dengan matamu itu? Melawan?"

Aku segera menggeleng.

"Tidak, Nek."

Aku memejamkan mata sambil menahan rasa perih ketika kapas kembali menyentuh luka di dahiku.

Kejadian pagi tadi masih terbayang jelas di kepalaku.

Aku sedang berlari mengelilingi lapangan sebagai hukuman karena terlambat datang ke sekolah. Saat memasuki putaran terakhir, pandanganku mulai berkunang-kunang.

Perutku terasa melilit.

Kakiku juga semakin sulit digerakkan.

Aku masih berusaha menyelesaikan hukuman itu karena takut dimarahi guru.

Namun, tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

Aku tidak ingat apa-apa setelah itu.

Ketika membuka mata, aku sudah terbaring di ruang UKS dengan beberapa guru mengelilingiku.

Katanya, aku jatuh dan kepalaku terbentur pinggiran siring yang cukup tajam.

Para guru piket kemudian membawaku pulang ke rumah karena mereka tahu Nenek adalah seorang bidan.

Alhasil, sekarang aku harus merasakan sakitnya jahitan di dahi.

"Aduh!"

Aku kembali meringis ketika jarum menembus kulit.

"Nenek, sakit..."

"Diam. Sebentar lagi selesai."

"Tapi sakit..."

"Kalau terus bergerak, malah makin lama."

Aku menggigit bibir.

Kata Nenek lukanya tidak terlalu dalam sehingga tidak perlu dibius. Katanya, tanpa obat bius luka akan lebih cepat kering.

Aku tidak tahu apakah itu benar.

Yang aku tahu, setiap kali jarum menembus kulit dahiku, air mataku hampir saja tumpah.

Dalam hati aku mulai berpikir mungkin Nenek tidak ingin menggunakan obat bius karena aku bukan pasien yang membayar.

Kalau pasien lain datang ke tempat praktiknya, mungkin mereka akan mendapatkan perlakuan yang berbeda.

"Kalau pasien lain, sudah pasti dapat uang."

Nenek kembali mengomel.

Aku tidak menjawab.

Aku hanya menatap lantai.

Kalimat itu membuatku semakin yakin bahwa keberadaanku memang hanya merepotkan.

Padahal dulu, Nenek yang meminta untuk tinggal di rumah ini. Dan sekarang, bahkan untuk mendapatkan perawatan ketika terluka pun aku merasa seperti sedang berutang sesuatu kepada Nenek.

Setelah selesai menjahit lukaku, Nenek membersihkan darah yang masih tersisa di sekitar dahi.

"Nah, sudah."

Aku membuka mata perlahan.

Tanganku refleks menyentuh dahi, tetapi langsung ditepis Nenek.

"Jangan dipegang!"

"Iya, Nek."

Nenek kemudian mengambil beberapa obat dan meletakkannya di atas meja.

"Ini diminum."

Aku menatap obat-obatan tersebut.

Lalu perutku berbunyi.

Kruuuk...

Aku langsung menunduk malu.

Nenek melirikku.

Lihat selengkapnya