"Kecil-kecil sudah bisa mencuri!"
Nenek menjewer telinga Feri kuat-kuat.
"Aduh, sakit, Nek!" rintihnya sambil berusaha melepaskan tangan Nenek.
Melihat itu, hatiku langsung terenyuh. Rasa bersalah memenuhi dadaku.
Semua ini terjadi karena Feri ingin melihatku makan ikan. Dia hanya ingin berbagi sedikit makanan denganku, tetapi sekarang justru dia yang harus menanggung akibatnya.
Awalnya aku hanya diam.
Aku terlalu takut untuk membela Feri.
Namun, ketika Nenek mengambil sapu dan mengangkat tangkainya, seolah berniat menghantam kaki Feri, aku tidak sanggup lagi hanya berdiri melihatnya.
"Adel yang suruh Feri ambil ikan."
Nenek langsung berhenti.
Tatapannya beralih kepadaku. Matanya membesar dan wajahnya berubah semakin merah.
"Kenapa kamu ajari dia mencuri? Harusnya kasih contoh yang baik buat adikmu!"
Aku menelan ludah.
Aku ingin menjelaskan bahwa Feri tidak mencuri. Dia hanya mengambil sepotong ikan karena kami lapar.
Namun, sebelum sempat berkata apa-apa, tangkai sapu sudah mendarat di betisku.
"Aduh!" Aku tersentak.
Satu kali. Kemudian sekali lagi, dan sekali lagi. Tangkai sapu itu berkali-kali menghantam kedua kakiku yang kurus.
"Sakit, Nek! Ampun! Adel janji tidak akan mengulanginya lagi!"
Air mataku langsung mengalir. Tangisku bercampur dengan isakan dan sesenggukan. Namun, Nenek tidak berhenti. Aku menutup kedua kaki dengan tangan, berharap bisa melindunginya dari pukulan berikutnya. Aku tidak tahu sudah berapa kali sapu itu mengenai tubuhku. Yang aku tahu, rasanya sakit sekali.
Seolah-olah aku bukan anak kecil yang sedang meminta ampun. Seolah-olah aku adalah seorang penjahat yang memang pantas dihukum. Setelah puas melampiaskan amarahnya, Nenek melemparkan sapu ke lantai. Ia pergi ke kamar sambil memijat keningnya.
Aku masih terduduk di tempat dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. Dari dalam kamar, terdengar suara Nenek mengeluh. Ia duduk di pinggir ranjang sambil mengelus-elus dadanya dan berulang kali beristigfar.
"Kalian benar-benar pembuat masalah!"
Aku menunduk.
"Hidupku susah karena keberadaan kalian di sini. Aku lebih baik memelihara anak yatim piatu. Sudah tentu dapat amalnya."
Dadaku terasa semakin sesak. Aku tidak tahu harus bagaimana. Bukankah aku juga anak kecil? Bukankah seharusnya aku yang dirawat? Kenapa keberadaanku justru dianggap sebagai beban?
Nenek kembali menghampiriku. Aku masih duduk di lantai sambil terisak. Tangannya menolak kepalaku ke samping.
"Inilah akibat punya ibu tidak benar. Anaknya juga ketularan."
Aku langsung mendongak. Mataku menatap Nenek tajam. Untuk pertama kalinya, ada amarah yang begitu besar di dalam hatiku. Aku bisa menerima jika Nenek memarahiku. Aku bisa menerima jika Nenek menghukumku. Tetapi ketika Ibu dihina, entah mengapa rasanya berbeda.
Aku tidak terima. Bagaimanapun juga, dia tetap ibuku.