Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #1

1

Namaku Palupi, putri tunggal keluarga Adiyatma. Sejak kecil, aku tumbuh di rumah yang besar dengan halaman luas dan orang-orang yang selalu bergerak sesuai keinginanku. Apa pun yang aku inginkan selalu tersedia sebelum aku sempat memintanya dua kali. Ayahku akan memastikan semuanya ada, Ibuku akan memastikanku menikmatinya, dan kakakku akan selalu berdiri di sampingku seperti malaikat ketika aku membutuhkannya.

Namun, semua itu sudah berakhir 5 tahun yang lalu. Dan sebelum semuanya berubah, aku masih ingat hari itu.

Hari saat Ibu memanggilku dari lantai bawah dan mengatakan kami akan pergi ke rumah nenek. Aku turun dengan langkah ringan, mengenakan pakaian yang dipilihkannya sendiri, lalu duduk di kursi depan mobil di sampingnya. Sepanjang perjalanan, Ibu berbicara banyak hal yang kini sulit kuingat dengan utuh. Suaranya bercampur dengan suara mesin dan jalanan, lalu semuanya berubah begitu saja.

Benturan itu datang terlalu cepat. Tubuhku terlempar, kepalaku membentur sesuatu yang keras, dan setelah itu hanya ada suara berisik yang tidak bisa kupahami. Saat kesadaranku kembali, aku sudah berada di rumah sakit.

Aku melihat Ibu di ranjang sebelah. Wajahnya pucat, napasnya berat, dan darah masih merembes dari bagian yang tertutup perban. Aku ingin memanggilnya, tetapi tenggorokanku terasa kering dan suaraku tidak keluar. Beberapa orang berdiri di sekitar kami, berbicara cepat dengan istilah yang tidak kumengerti saat itu. Salah satu dari mereka menyebutkan bahwa kami membutuhkan darah segera.

Aku mendengar seseorang mengatakan bahwa hanya ada satu kantong darah yang tersedia dengan golongan yang sama.

Pembicaraan itu terus berlangsung di atas kepalaku. Aku tidak tahu siapa yang lebih dulu menatap siapa. Yang kuingat hanya Ibu menggerakkan tangannya dengan susah payah, lalu menarik perhatian dokter.

“Berikan pada anakku,” ucapnya pada saat itu.

Dokter itu sempat ragu. Aku melihatnya menoleh, melihat ke arahku, lalu kembali ke arah Ibu.

“Bu, tapi kondisimu juga"

“Berikan pada anakku,” ulangnya, lagi waktu itu.

Setelah itu, tidak ada lagi perdebatan

Aku tidak ingat kapan tepatnya darah itu mulai mengalir ke tubuhku. Yang kuingat hanyalah rasa dingin di lengan, lalu perlahan tubuhku terasa lebih ringan. Napasku menjadi lebih teratur, dan pandanganku tidak lagi berputar.

Sementara itu, di ranjang sebelah, Ibu terlihat semakin tenang.

Ketika Ayah dan kakakku datang, aku sudah bisa membuka mata lebih lama. Mereka berdiri di dekat pintu sebelum akhirnya mendekat. Tidak ada yang langsung menyentuhku. Ayah hanya menatapku, lalu memindahkan pandangannya ke arah ranjang Ibu. Kakakku berdiri sedikit di belakangnya dengan wajah yang sulit dibaca.

Aku mencoba memanggil mereka, tetapi tidak ada yang mendekat untuk bertanya padaku.

Lihat selengkapnya