Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #2

2

Keesokan paginya, Palupi bangun lebih awal. Ia duduk di tepi tempat tidur sebentar lalu berdiri. Setelah selesai bersiap, ia berjalan menuju meja kecil di sudut kamar tempat sarapannya sudah tersaji. Piring itu selalu datang dalam keadaan rapi, lengkap, dan hangat, seperti memastikan bahwa tidak ada alasan baginya untuk turun ke bawah.

Palupi makan tanpa suara, menyelesaikan semuanya seperti rutinitas yang tidak perlu dipikirkan lagi. Setelah itu, ia menggeser kursi, membereskan buku-buku yang semalam masih terbuka di atas meja, dan memasukkannya ke dalam tas sekolahnya satu per satu.

Langkahnya terdengar pelan saat menuruni tangga menuju lantai satu. Biasanya ia langsung menuju pintu depan, melewati ruang makan tanpa melihat ke arah sana. Namun, pagi ini langkahnya melambat saat sampai di tengah tangga.

Suara percakapan terdengar dari ruang makan. Suara yang selama ini tidak pernah ia dengar lagi beberapa tahun belakangan.

Palupi berdiri beberapa detik, sebelum melanjutkan langkahnya.

Meja makan itu masih sama seperti dulu. Empat kursi dengan posisi yang tidak pernah berubah. Dua kursi yang selalu ditempati Ayah dan kakaknya, dan dua kursi lain yang dulu menjadi miliknya dan Ibunya. Kursi yang selama ini kosong kini sudah terisi.

Dua wanita duduk di sana. Salah satunya duduk di sisi yang dulu selalu ditempati Ibunya, sementara yang lain berada di sebelah kakaknya.

Percakapan mereka berhenti saat Palupi berdiri di sana.

“Selamat pagi, ayah,” ucap Palupi lirih.

Suasana yang sebelumnya terdengar hangat langsung berubah. Tidak ada yang menjawab dengan cepat. Rendra mengangkat wajahnya, menatap Palupi sekilas, lalu kembali ke piring di depannya.

“Pagi,” jawabnya singkat. “Berangkat sekarang saja ya, nanti kamu terlambat.”

Palupi tetap berdiri beberapa detik, baru mengangguk.

“Baik, ayah.”

Ia sempat menoleh ke arah kakaknya. Perso duduk di kursinya, memotong daging di piringnya, dan memindahkannya ke piring gadis di sampingnya.

Palupi tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu depan. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu saat suara Rendra terdengar lagi dari belakang.

“Perso, Frisca hari ini masuk ke sekolahmu. Jaga dia baik-baik. Jangan sampai ada yang memperlakukannya sembarangan.”

Langkah Palupi sontak berhenti.

Lihat selengkapnya